Laporkan Masalah

Pengaruh keterarahan relegius (melalui mediator kebermaknaan hidup), ekstraversi, dan sifat labil emosi terhadap kesejahteraan subjektif pengusaha kecil dan menengah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

SUMANTO, Promotor Sugiyanto, Ph.D

2009 | Disertasi |

Pengusaha kecil dan menengah (PKM) provinsi DIY, yang beberapa kali mengalami kesulitan ekonomi akibat berbagai krisis, ternyata tidak mengalami gangguan kesejahteraan subjektif secara signifikan. Berawal dari kasus PKM provinsi DIY yang mampu bertahan dalam situasi-situasi sulit tersebut, peneliti bermaksud menggali konsep kesejahteraan subjektif (KS) yang tidak terpengaruh situasi dan kondisi dan melekat pada diri setiap orang yaitu kebermaknaan hidup (yang dipengaruhi keterarahan religius), ekstraversi, dan sifat labil emosi. Penggalian konsep KS yang bersumber dari pengembangan potensi dari dalam diri-sendiri pada penelitian ini, diharapkan memberikan sumbangan bagi upaya pencegahan pengaruh budaya hedonis yang mendorong kehidupan masyarakat cenderung materialistis karena pandangan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan cara mengumpulkan hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan dan menghindari hal-hal yang mendatangkan ketidak-bahagiaan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang diciptakan sendiri dengan melibatkan 277 PKM, laki-laki dan perempuan yang berumur antara 18 sampai 70 tahun dari berbagai bidang usaha, sebagai responden. Validitas konstrak alat ukur diuji dengan analisis faktor, sedang kesesuaian model diuji dengan permodelan persamaan struktur (SEM). Uji kesesuaian dilakukan pada model KS yang dihipotesiskan dan pada masing-masing alat ukur. Dengan metode analisis kemungkinan maksimum (ML), semua alat ukur memenuhi syarat kesesuaian yang berarti komponen-komponen alat ukur secara signifikan bersama-sama menjelaskan dimensi yang diukur. Model KS yang dipengaruhi keterarahan religius (melalui mediator kebermaknaan hidup), ekstraversi, dan sifat labil emosi ternyata tidak sesuai dengan model data empiris sehingga dengan pertimbangan relatif kecilnya bobot regresi ektraversi dan sifat lebil emosi, peneliti melakukan modifikasi dengan menghapus variabel tersebut dari model. Setelah keduanya dihapus dari model, ternyata modelnya fit (NFI = 0,932 dan CFI = 0,938), artinya KS PKM provinsi DIY dipengaruhi oleh sikap hidup yang dinspirasi orientasi hidup religius yang lebih mengutamakan kepentingan Tuhan dibanding diri sendiri. Gambaran orang memiliki kesejahteraan subyektif berdasarkan penelitian ini adalah orang yang memiliki kehidupan spiritual yang aktif sehingga menemukan kebermaknaan hidup oleh karena dorongan sistem nilai intrinsik sebagai sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan dan membuat keputusan. Selain kontribusi wawasan baru bagi yang ingin mencapai kesejahteraan subjektif di tengah berkembangnya budaya hedonis, penelitian ini juga menghasilkan alat ukur yang dikembangkan dalam rangka pengujian model KS.

The purpose of the study was to develop and examine a model of subjective well-being (SWB) based on developing potential aspects owned by human beings i.e religious orientation (mediated by meaning in life), extraversion, and neuroticism. The study represents an effort to balance the trend of SWB studies which dig up the concept focusing on depression elimination. Not only psychologists do build SWB concept by eliminating elation problems but people in modern society as well. They develop SWB concept based on hedonic viewpoint considering that achievement and possession are absolute conditions for having SWB. Therefore, it is time for psychologists to be more active to recommend people what is needed in order to have SWB preventing they waste of time and energy to gain the goals, where, in the end, it can not give what they want. The study examined hypotheses that SWB is influenced by religious orientation (mediated by meaning in life), extraversion, and neuroticsm. The study involved male and female entrepreneurs of 277 that ranged in age from 19 to 70. Fit testing model is performed for each variable and the overalls variable (full model). By using structural equation model with the maximum likelihood method, the goodness of chi-square tests indicated that the model fit the data well. The hypothesized model is not fit with the empirical data model; extraversion did not contribute significance influence. By eliminating extraversion and neuroticism from the model resulted that the model fit the data well (NFI = 0.932 and CFI = 0.938). The results implicate that there is significant influence of religious orientation (mediated by meaning in life) toward SWB. In addition, these also implicate that the influence of hereditary characteristics are relatively small. SWB is not primarily determined by inborn predispositions, Habitual activities inspired by spiritual power bring about one able has ability to suppress passions and spiritual religious orientation providing positive thinking. The image of happy people that emerges from the study is a person with an active spiritual life, who finds meaning in life and operates from an intrinsic value system that guides their life’s work and decisions The study provides guidelines input for entrepreneurs consultants and leaders especially Dinas Perindustrian to get better understanding of how to promote entrepreneurs success not only emphasis on economic attainment and material fulfilment but spiritual satisfaction as well.

Kata Kunci : Kesejahteraan subjektif (KS), Kebermaknaan hidup, keterarahan relegius, Ekstraversi, Sifat labil emosi, SWB, meaning in life, religious orientation, extraversion, neuroticism


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.