Representasi ideologi patriarki dalam film Indonesia :: Analisis semiotika roland barthes film Indonesia Perempuan Berkalung Sorban Sutradara Hanung Bramantyo
YUDISTIANTI, Nurina, Prof. Nunung Prajarto, M.A.,Ph.D
2010 | Tesis | S2 Ilmu KomunikasiFilm mampu menjangkau berbagai segmen audience membuatnya menjadi media yang berpotensi memengaruhi khalayak. Film dapat memengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan dibaliknya. Hal ini dikarenakan film merupakan potert atau cerminan dari berlangsungnya kehidupan masyarakatnya. Film dapat bertindak sebagai representasi dari realitas masyarakat, dan film juga dapat berperan sebagai refleksi suatu masyarakat. Film dibangun dengan berbegai sistem tanda untuk mencapai efek yang diharapkan, menyampaikan pesan-pesan khusus kepada pembaca. Film Indonesia seringkali menampilkan berbagai adegan yang tidak sadar gender. Film Indonesia pada umumnya masih menggunakan perempuan sebagai daya tarik dan menjadikannya komodifikasi. Salah satu film yang banyak didominasi oleh ideologi patriarki adalah film Perempuan Berkalung Sorban arahan sutradara Hanung Bramantyo yang ditayangkan dibioskop Indonesia pada Mei 2009, dan mendapatkan jumlah penonton terbanyak pada 2009. Untuk itu penelitian ini memilih topik mengenai representasi ideology patriarki yang termanifestasikan dalam ketidakadilan gender yang terdapat dalam film ini. Peneliti menggunakan konsep manifestasi ketidakadilan gender, yaitu konsep marginallisasi terhadap perempuan, subordinasi terhadap perempuan, pelekatan stereotype terhadap perempuan yang seringkali merugikannya, kekerasan terhadap perempuan, dan adanya beban kerja ganda terhadap perempuan. Dari manifestasi ketidakadilan gender ini maka terungkap ideologi patriarki yang menjadi ideologi dominan dalam film ini. Dengan teknik analisis semiotika model skema Roland Barthes, peneliti menganalisis beberapa scene dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Hasil analisis data menunjukkan bahwa Film Perempuan Berkalung Sorban merepresentasikan ketidakadilan gender terhadap perempuan dan merepresentasikan ideologi patriarki secara dominan.
Film is able to reach different segments of the audience makes it a potential influence of media audiences. Film able influence and shape society based on message content behind it. This is because the movie is potert or a reflection of the ongoing life of society. Films can act as a representation of the reality of society, and the film can also serve as a reflection of a society. The film is built with different system of sign to achieve the expected effect, deliver special messages to the reader. Indonesian’s Film often displays a variety of scenes that are not aware of gender. Indonesian Film in general is still using women as a charm and makes commodification. One of the film that much dominated by the ideology of patriarchy is the Women With the Turbans film director Hanung Bramantyo in theatres which aired in May 2009, and get the highest number of spectators in 2009. For that, this research chose the topic of representation of patriarchal ideology that manifested in gender inequalities inherent in this movie. The researchers used the concept of the manifestation of gender inequality, namely the concept of women marginalization women, women subordination, women stereotypes that often adverse, women violence, and the double workload of women. From the manifestation of gender inequality is then revealed a patriarchal ideology which became the dominant ideology in this film. Semiotic analysis technique model scheme Roland Barthes, researchers analyzed several scenes in the movie Women With the Turbans. The results of analysis data showed that the film Women With the Turbans represent gender inequality against women and represents the dominant patriarchal ideology.
Kata Kunci : Film, representasi, Gender, Ideologi, Patriarki, Film, representation, gender, ideology, patriarkhi