Pengembangan masyarakat nelayan melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir di Desa Karangwuni, Kecamatan Wates Kabupaten Kulonprogo
SANTI, Mahanany, Prof. Dr. Mudiyono
2010 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian mengenai Pengembangan Masyarakat Nelayan Melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) Di Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo bertujuan mengetahui proses pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dalam pengembangan nelayan Karangwuni, Kabupaten Kulonprogo serta mengetahui perkembangan apa saja yang terjadi pada nelayan Karangwuni Kabupaten Kulonprogo dengan adanya program PEMP. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Alasan pemilihan terhadap desa penelitian adalah karena Karangwuni merupakan salah satu wilayah pesisir di Kabupaten Kulonprogo yang memiliki potensi kegiatan perikanan yang besar karena akan dibangun pelabuhan perikanan, namun nelayan yang terlibat aktivitas penangkapan masih sedikit sehingga menarik untuk dijadikan lokasi penelitian. Unit analisis penelitian ini adalah nelayan yang menjadi sasaran program PEMP. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan juga studi dokumentasi. Pemberdayaan merupakan proses pemberian daya/ kekuatan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya, sehingga mereka mampu menoptimalkan dan mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya dengan inisiatifnya sendiri. Indikator pemberdayaan mencakup tiga aspek yakni kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, mengatasi masalah dan mengakses sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan Karangwuni telah menerima bantuan dana yang diwujudkan dalam bentuk kapal beserta alat tangkapnya beserta pelatihan. Namun, dalam pelaksanaannya, nelayan masih sebagai penerima program saja, sehingga dapat dikatakan program PEMP masih bersifat top-down. Sosialisasi yang kurang intensif sehingga persepsi nelayan terhadap program masih keliru yang berakibat pada macetnya pengembalian dana bantuan PEMP yang seharusnya dapat digulirkan. Pemberdayaan pada nelayan Karangwuni juga belum dapat dikatakan berhasil. Nelayan Karangwuni masih mengandalkan dan kembali pada sektor agraris maupun non perikanan. Kesimpulannya, program PEMP masih salah sasaran dan lebih bersifat top-down, karena umumnya jatuh pada nelayan juragan atau pemilik modal, partisipasi nelayan masih pasif, masih terdapat dominasi pemerintah dalam kegiatan pemberdayaan nelayan maupun pembentukan pengurus lembaga seperti LEPP M3; sehingga kegiatan perikanan ikan di laut masih belum dapat berjalan secara berkelanjutan, dan perkumpulan nelayan yang semasa awal program PEMP aktif berjalan lambat laun mulai vacuum kembali. Perkembangan yang dirasakan pada diri nela yan secara prinsip adalah kepemilikan kapal beserta alat tangkap khususnya bagi nelayan juragan atau pemilik modal, peningkatan keterampilan di sektor penangkapan sehingga dapat memperluas jangkauan wilayah penangkapan.
This research aimed to study economic empowerment process of coastal community to improve fishermen in Karangwuni, Kulonprogo and to study development occurring on fishermen in the Karangwuni village due to PEMP program. It was descriptive qualitative research. The village was selected because it was one of coastal areas in Kunlonprogo that have big fisheries potential activities because there will built fishery harbor, but the fisherman who wind with fishing sector were small; so this village was attractive to be research.. Analytical unit was fisherman of PEMP program target areas in Kulonprogo. Data was obtained through observation, interview and documentary study. Empowerment was process to gave power from the part who had power to people that powerless, so they could be developed their ability with personal inisiative. Empowerment index enclosed three aspect that were basic needs ability, problem solved ability, and source ability. Results indicated that Karangwuni fisherman have received financial assistance in form of boat and fishing equipment. In addition, trainings in fishing sector were also provided. However, in its implementation, fishermen were still program receiver, so PEMP program was top-down. Less intensive dissemination of the program that lead to misinterpretation about the program resulted in bad fund repayment. Its implementation have not met empowerment indicator, where Karangwuni fishermen cannot access modal source evenly and expectation that living need was met from fishing sector have not been achieved. Karangwuni fishermen still relied on agrarian and non fishery sectors. The conclusion was that PEMP program had wrong target and was top-down program. It was indicated with program target that was mostly capital owner, passive fishermen participation, domination of government in the empowerment activity and administrator determination for institutions such as LEPP M3. As results, fishery associations cannot run continuously and fishermen association that was active at early PEMP program has been passive again. Benefits the fishermen perceived was boat and catchment equipment ownership, particularly for big fisherman of capital owner and increase in fishing skill that can widen fishing area.
Kata Kunci : Pengembangan,Pemberdayaan,Nelayan,Karangwuni,Development,Fisherman,Empowerment