Laporkan Masalah

Penentuan distribusi nilai percepatan tanah maksimum di wilayah Papua dan Papua Barat

MANTIRI, Steven Yohanes Yulianus, Prof. Dr. H. Kirbani Sri Brotopuspito

2010 | Tesis | S2 Ilmu Fisika

Perkiraan tingkat kerawanan gempabumi untuk wilayah Papua dan Papua Barat dikembangkan untuk periode ulang 10, 50, 100, 200, dan 500 tahun. Tingkat kegempaan di wilayah ini cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kerawanan gempabumi berdasarkan distribusi nilai percepatan tanah maksimum. Metode pendekatan yang digunakan adalah analisis probabilistik. Perhitungan nilai percepatan tanah maksimum dilakukan secara komputasi menggunakan program komputer EQRISK. 56 Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan periode ulang gempabumi berimplikasi pada peningkatan nilai percepatan tanah maksimum. Interval nilai percepatan tanah maksimum untuk wilayah Papua dan Papua Barat untuk periode ulang 10, 50, 100, 200, dan 500 tahun yaitu: 0 – 400 gal, 0 – 500 gal, 0 – 600 gal, 0 – 700 gal, dan 100 – 800 gal. Perkiraan nilai percepatan tanah maksimum untuk periode ulang 500 tahun dapat digunakan sebagai desain gempabumi. Tingkat kerawanan tinggi dengan nilai 600 – 900 gal meliputi beberapa kabupaten yaitu: Sarmi sebelah selatan, dan sebagian kecil 3 kabupaten yaitu: Jayapura bagian Selatan, Keerom bagian selatan, dan Teluk Bintuni bagian utara. Tingkat kerawanan rendah dengan nilai 0 – 300 gal meliputi beberapa kabupaten yaitu: Merauke, Mappi, Fak-Fak dan Sorong Selatan, serta sebagian Kabupaten Boven Digoel bagian selatan. Tingkat kerawanan sedang dengan nilai 300 – 600 gal meliputi Kota Jayapura, Kota Sorong, dan beberapa kabupaten yaitu: Pegunungan Bintang, Yahukimo, Jayawijaya, Puncak Jaya, Waropen, Nabire, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, Supiori, Kaimana, Teluk Wondama, Manokwari, Sorong, dan Raja Ampat. Selain itu sebagian besar beberapa kabupaten yaitu: Boven Digoel, Teluk Bintuni bagian utara, Sarmi bagian utara, Jayapura bagian utara, Keerom bagian utara termasuk pada kategori ini.

Seismic hazard assessment for Papua and West Papua regions was developed for recurrence interval 10, 50, 100, 200, and 500 years. This region have high-seismicity level. This research was purposed to determine seismic hazard based on peak ground acceleration distribution. Probabilistic analysis method was used for this research. EQRISK computer program was used for the computation to calculate peak ground acceleration. The result shows that earthquake recurrence interval increasing was implied to peak ground acceleration increasing. Peak ground acceleration interval value for Papua and West Papua regions for recurrence interval 10, 50, 100, 200, and 500 years are 0 – 400 gal, 0 – 500 gal, 0 – 600 gal, 0 – 700 gal, and 100 – 800 gal, recpectively. Peak ground acceleration assessment for 500 years recurrence interval has used as earthquake design. The high-hazard level with peak ground acceleration ranging between 600 – 900 gal are including several regencies i.e.: southern Sarmi, and small part of southern Jayapura, southern Keerom, and northern Bintuni Bay. The low-hazard level with peak ground acceleration ranging between 0 – 300 gal are including several regencies i.e.: Merauke, Mappi, Fak-Fak, and South Sorong, also a small part of Southern Boven Digoel. The intermediate-hazard level with peak ground acceleration ranging between 300 – 600 gal are including Jayapura City, Sorong City, and several regencies i.e.: Pegunungan Bintang, Yahukimo, Jayawijaya, Puncak Jaya, Waropen, Nabire, Yapen Islands, Biak Numfor, Supiori, Kaimana, Wondama Bay, Manokwari, Sorong, and Raja Ampat, also the most of several regencies i.e.: northern Boven Digoel, northern Bintuni Bay, northern Sarmi, northern Jayapura, and northern Keerom.

Kata Kunci : Seismisitas, Analisis tingkat kerawanan gempabumi, Probabilistik, Komputasi, Percepatan tanah maksimum, Papua dan Papua Barat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.