Perubahan kawasan resapan air menjadi kawasan terbangun di Kabupaten Sleman
SOEHARDIJARKO, Djoko, Ir. Haryadi, M.Arch.,Ph.D
2010 | Tesis | S2 MPKDPada dekade terakhir terjadi perubahan fungsi lahan kawasan resapan air di lereng selatan Gunung Merapi, yang terletak di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Lahan dari yang semula tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Hal ini tentu menjadi perhatian sehingga perlu diidentifikasi aspek-aspek yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi perubahan peruntukan lahan baik kepada pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Sleman dan kepada masyarakat umum. Disamping itu penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah untuk penyusunan perencanaan jangka panjang yang berwawasan pembangunan berkelanjutan. Untuk mengkaji permasalahan tersebut dilakukan penelitian dengan cara deskriptif kualitatif dan menampalkan peta-peta perubahan pemanfaatan lahan. Data yang digunakan adalah data sekunder. Penelitian ini dilakukan di kawasan resapan primer dan sekunder di lereng Gunung Merapi di wilayah Kabupaten Sleman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran lahan rata-rata sebesar 3 % per tahun pada kawasan tersebut. Terlihat bahwa laju pertambahan luas lahan terbangun di kecamatan Pakem adalah paling pesat yaitu sebesar 22,8 % dan disusul Kecamatan Sleman sebesar 2,4 %. Sedangkan laju pertambahan yang paling lambat adalah di kecamatan Tempel yaitu sebesar 0,3 %. Selain itu diperoleh angka bahwa jumlah ketersediaan air meteorologis dari Kabupaten Sleman adalah 256.717.320 m3(simbol) (simbol)/tahun. Jika dibandingkan dengan kebutuhan air keseluruhan Kabupaten Sleman tahun 2008 adalah sebesar 131.289.515 m3(simbol)/tahun, maka masih ada surplus air sebesar 125.427.805 m3(simbol). Kondisi surplus air dari curah hujan ini disebabkan oleh perubahan peruntukan lahan, dari peruntukan agraris, yang membutuhkan 54% dari keseluruhan kebutuhan air, menjadi peruntukan pemukiman yang kebutuhan airnya lebih sedikit. Surplus air ini berpotensi menimbulkan banjir di musim hujan. Jika alih fungsi lahan di kawasan resapan air ke lahan terbangun tak terkendali, hal ini akan menyebabkan peresapan air ke dalam tanah berkurang drastis, sementara limpasan langsung ( run off ) air hujan meningkat secara drastis. Kondisi ini akan berpotensi menimbulkan banjir di daerah lereng Merapi selatan dan kawasan Yogyakarta yang lebih rendah.
In the last decade, there is a considerable change of land use, from agricultural into built up areas within the water catchment zone of Kabupaten Sleman’s southern slope of Mt. Merapi. This is important to be highlighted, and furthermore to find out aspects that cause changes of land use. This study is aimed at providing information about land-use changes to both the government, especially the local government of Kabupaten Sleman, and the people in general. Besides, it helps the government to make a long-term planning in regards to the principles of sustainable development. This study makes use of descriptive qualitative research and map overlay of land use changes. Secondary data is used to support the validity of the study. The research takes place only in the primary and secondary catchment area within Kabupaten Sleman’s southern slope of Mt. Merapi. This study reveals 3% yearly shift in the defined area. The most growing shift into built area takes place in Kecamatan Pakem, namely 22.8%, followed by Kecamatan Sleman, 2.4%. The least growing shift takes place in Kecamatan Tempel, 0.3%. This study also reveals that there is 256.717.320 m3 (symbol) in meteorological water availability annually. When compared to the overall need of water in Kabupaten Sleman in 2008 of 131.289.515 m3(symbol) per year, there appears water surplus of 125.427.805 m3(symbol). This surplus is caused by the change of land use, from agricultural use, with 54% out of the total need of water, to housing use which needs less water. This surplus also potentially leads to flood in rainy season. Moreover, when change of land use from agricultural into built up areas grows out of control, it will decrease the water infiltration, while the meteorological water run off increases significantly. This situation will potentially lead to flood in the southern slope of Mt. Merapi and the lower parts Jogjakarta.
Kata Kunci : Perubahan peruntukan lahan,Kawasan resapan air,Lereng selatan Gunung Merapi