Laporkan Masalah

Penggunaan alas penghangat untuk mencegah penurunan suhu intraoperatif pada pasien-pasien dengan anestesi spinal

SOEHARSONO, Betty Juliastuti, dr. Calcarina Fitriani Retno W., Sp.An-KIC

2010 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinik

Hipotermia perioperatif menyebabkan efek cukup luas yang merugikan, termasuk didalamnya, meningkatnya angka luka infeksi, morbiditas kardiovaskuler, kehilangan darah, dan lama tinggal di ruang pemulihan dan rawat inap. Selain itu juga dapat terjadi gangguan koagulasi, perubahan imunologi, gangguan keseimbangan air dan elektrolit, dan menurunkan metabolisme obat. Penelitian menunjukkan sekitar 70% pasien yang menjalani pembedahan menderita hipotermia. Hipotermia pada pembedahan disebabkan oleh suhu kamar operasi, tindakan terilisasi medan operasi, cairan masuk, penguapan melalui kulit yang terbuka, gas anestesi, dan sebagainya. Mekanisme kehilangan panasnya melalui konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Anestesi spinal menyebabkan penurunan suhu tubuh dengan tiga mekanisme utama. Pertama adalah redistribusi panas dari pusat ke perifer akibat vasodilatasi dari blok simpatis. Kedua berupa hilangnya termoregulasi yang ditandai dengan berkurangnya menggigil dan turunnya nilai ambang vasokonstriksi selama anestesi spinal. Yang ketiga berupa peningkatan kehilangan panas akibat vasodilatasi. Alas penghangat sebagai salah satu alat untuk mencegah hipotermia, dinilai cukup efektif untuk mencegah penurunan suhu tubuh intraoperatif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas alas penghangat untuk mencegah penurunan suhu intraoperatif yang terjadi pada pasien-pasien yang menjalani operasi dengan teknik anestesi spinal pada pasien laki-laki atau perempuan usia 20-50 tahun, ASA I-II, dengan menggunakan uji klinis acak terkontrol tak tersamar. Ruang lingkup penelitian adalah pasien usia 20-50 tahun yang menjalani operasi terencana di GBST RSUP Dr. Sardjito serta rumah sakit jejaring pendidikan (RS Soeradji Tirtonegoro Klaten, RSUD Banyumas). Subyek dibagi dalam 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 78 pasien. Kelompok A adalah kelompok perlakuan yang menggunakan alas Gaymar Medtherm II yang dioperasionalkan sebagai penghangat. Kelompok B adalah kelompok perlakuan yang tidak menggunakan alas Gaymar Medtherm II. Pengukuran dilakukan 30 menit sebelum anestesi spinal dilakukan, dilanjutkan pada menit ke-5 hingga menit ke-120. Pengukuran yang dilakukan berupa suhu membrana timpani, suhu aksila, tekanan darah, nadi, frekuensi nafas. Analisis data menggunakan uji t-test dan data kualitatif akan diuji dengan chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%, dan dianggap bermakna bila p<0,05 serta sangat bermakna jika p<0,01 .

Perioperative hypothermia have a wide range of underappreciated detrimental effects. These include increased rates of wound infection, morbid cardiac events, blood loss, and length of stay in both recovery and hospital. Inadvertent hypothermia is a condition prevalent within the perioperative setting, since it has heen estimated that as many as 70% of surgical patients suffer some degree of hypothermia. Perioperative hypothermia is caused by environment temperature, fluid, evaporated, inhalation, etc. The mechanism of heat loss can with conduction, convection, radiation, and evaporation. The effects of spinal anesthesia on temperature homeostasis have been well studied, and there are three main mechanisms causing core hypothermia. The first is redistribution of central heat to the periphery caused by vasodilation from sympathetic block. The second mechanism is loss of thermoregulation characterized by reduced shivering and vasoconstriction thresholds. Finally, with loss of thermoregulatory vasoconstriction below the level of the sympathetic block, there is increased heat loss from vasodilation. Warm blanket as a device is effective to prevent from hypothermia during surgery. The purpose of this study is to assess the effectivity of warm blanket to prevent from hypothermia. Elective surgery with spinal anesthesia, in male or female patients, age between 20-50 years old, ASA I-II, in Sardjito General Hospital and affiliated hospitals (Soeradji Tirtonegoro General Hospital Klaten, Banyumas Distric Hospital). The subjects are classified into 2 groups, consists 78 patients in each group. Group A is a group with Gaymar Medtherm II as warm blanket and group B without warm blanket. The measurements of the core temperature are obtained from tympanic membrane, while peripheral temperature from axilla. Blood pressure, heart rate, and respiration rate are measured start from 30 minutes before spinal anesthesia, and then 5 minutes until 120 minutes after spinal anesthesia. The quantitative data is analyzed using t-test and the qualitative data is analyzed using chi-square at the significance level of 95%, and it is considered to be significant when p<0,05 and very significant with p<0,01.

Kata Kunci : Penurunan suhu,Alas penghangat,Anestesi spinal


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.