Hiperpigmentasi yang diinduksi kemoterapi berbasis antrasiklin :: Studi kasus pada penderita kanker payudara
ARISANDI, Riswan, dr. Johan Kurnianda, Sp.PD-KHOM
2010 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran KlinikLatar belakang. Kanker payudara terutama di negara berkembang merupakan kanker terbanyak pada perempuan dengan estimasi sekitar 593.233 kasus dengan tingkat kematian mencapai 255.576. Menurut data yang dikeluarkan United Nations Population Projection, terdapat 1,3 juta kasus baru kanker payudara pada tahun 2007 degan angka kematian mencapai 465.000. Kemoterapi merupakan komponen penting terapi dan terbukti bermanfaat untuk pengobatan kanker payudara. Regimen berbasis antrasiklin merupakan salah satu regimen yang terbukti efektif pada kemoterapi adjuvan. Salah satu efek samping yang muncul adalah efek hiperpigmentasi pada kulit. Efek samping hiperpigmentasi tidak berpengaruh terhadap mortalitas dan morbiditas kanker payudara tetapi berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan sosial penderita dan terbukti berefek negatif terhadap kualitas hidup penderita. Metoda. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif analitik observasional yang mengamati penderita kanker payudara yang mendapatkan kemoterapi berbasis antrasiklin. Pigmentasi kulit dinilai dengan pengukuran derajat pigmentasi kulit berupa koordinat L menggunakan alat chromameter CR 400 sebelum dilakukan kemoterapi, durante kemoterapi dan sesudah kemoterapi selesai dilakukan. Kejadian hiperpigmentasi kulit dianalisa berdasarkan pembagian nilai koordinat L secara quartil dengan variabel pada subyek penelitian. Selanjutnya dianalisa faktor-faktor pada subyek penelitian yang berpengaruh terhadap timbulnya hiperpigmentasi kulit yang dinduksi kemoterapi berbasis antrasiklin. Hasil. Hasil penelitian menyajikan karakteristik subyek penelitian berdasarkan umur, status menopause, stadium, pekerjaan dan rerata nilai pigmentasi kulit koordinat L berdasarkan areal pengukuran. Kejadian hiperpigmentasi kulit durante dan pasca kemoterapi disajikan dalam bentuk rerata dan simpangan baku dan dibandingkan dengan pigmentasi kulit sebelum kemoterapi pada tiap areal pengukuran. Selanjutnya kejadian hiperpigmentasi yang bermakna pada area pangkal kuku dan wajah dianalisa berdasarkan variable pengganggu dengan analisis multivariat. Hasil analisis multipel regresi menunjukkan faktor yang secara independen berpengaruh terhadap timbulnya efek samping hiperpigmentasi kulit yang di induksi kemoterapi.
Background. Breast cancer, especially in developing countries is the most common cancer in women with estimated approximately 593 233 cases with mortality rates reaching 255,576. According to United Nations Population Projection report, approximately 1.3 million new cases of breast cancer in 2007, and 465,000 people die because of it. Chemotherapy is an important component in breast cancer management and has proved useful to treat breast cancer. Anthracycline-based regimen have been proven and effective in adjuvant chemotherapy of breast cancer. Skin hyperpigmentation is one of side effect cause by anthracycline regimen. Skin hyperpigmentation has no effect on mortality and morbidity but influence on psychological and social condition of the patient and contribute negative effect on quality of life of patients. Method. This study used descriptive analytic observational design observing patients with breast cancer who receive anthracycline-based regimen chemotherapy. Skin pigmentation was assessed by measuring the degree of skin pigmentation using L coordinate of chromameter CR 400 prior, durante and after chemotherapy is completed. Incidence of skin hyperpigmentation is analyzed based on L coordinate values in quartile with the variables in study subjects Further analysis will be done to determine other factors that influence the incidence of hyperpigmentation. Result. Characteristics of study subjects presented in age, menopausal status, stage, occupational and degree of skin pigmentation by L coordinate based on measurements area. Incidence of skin hyperpigmentation durante and after chemotherapy completed are presented in mean and standard deviation and compared with skin pigmentation prior to chemotherapy on each area of measurement. The significant incidence of hyperpigmentation of nail bed and face then analyse by using multivariate regression. This multiple linear regression will show factors that independently influence the incident of skin hyperpigmentationinduced chemotherapy.
Kata Kunci : Kanker payudara,Regimen berbasis antrasiklin,Hiperpigmentasi