Laporkan Masalah

Pengaruh partisipasi terhadap efektivitas program community based development :: Studi kasus di Desa Pakraman Bugbug Kabupaten Karangasem Provinsi Bali

TRISNAWAN, I Gede Budie, Dr. Gabriel Lele

2010 | Tesis | S2 Magister Administrasi Publik

Penelitian ini membahas tentang pemberdayaan desa pakraman sebagai komunitas adat lokal di Bali melalui peluncuran suatu kebijakan, bertajuk program Community Based Development (CBD). Tidak adanya kajian terhadap efektivitas program yang telah berjalan hampir satu dekade ini membuat desa pakraman sebagai pengelola menjadi gamang dan ragu-ragu dalam bertindak, padahal pada beberapa desa masih ada yang tidak memahami mekanisme pengelolaan CBD. Akibatnya, program bukannya berkembang, malah mati tanpa ada keberlanjutan pengelolaan. Untuk mengetahui efektivitas program ini maka dilakukan penelitian mengambil kasus pengelolaan program CBD di Desa Pakraman Bugbug agar diketahui secara mendalam mengenai dua hal ; bagaimana efektivitas program CBD dan pengaruh partisipasi terhadap efektivitas program CBD di desa ini. Dipilihnya Desa Pakraman Bugbug karena desa ini termasuk salah satu best practise dalam praktek pengelolaan CBD, selain karena desa ini memiliki karakteristik khusus. Untuk mendalami efektivitas program CBD dan pengaruh partisipasi terhadap efektivitas program maka digunakan desain penelitian deskriftif-kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus agar mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai fenomena yang terjadi di lapangan. Data diperoleh dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebagai hasil penelitian diperoleh bahwa efektivitas program CBD di Desa Pakraman Bugbug berhasil cukup efektif. Dari tiga aspek yang digunakan, dua aspek termasuk dalam kriteria baik dan lainnya masih kurang. Hal ini diketahui dari berhasilnya keberlanjutan program CBD dan pemahaman terhadap manajemen pengelolaan CBD. Sementara aspek yang masih kurang terlihat dari belum terciptanya rasa kebersamaan dalam mengatasi kemiskinan, baik antara target group maupun masyarakat desa secara keseluruhan. Efektivitas program ini dipengaruhi oleh partisipasi tiga aktor yang terlibat yakni TPP, warga miskin sebagai target group dan warga lain di luar target group. Partisipasi yang tinggi dari TPP dan target gruop terlihat dari tingginya keterlibatan mereka pada tiap tahapan pengelolaan (persiapan/perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan dan pengendalian) yang membawa keberhasilan pada aspek keberlanjutan program yang ditandai dengan perkembangan dana hingga 71,68% (Rp 171.681.700,-) dan inovasi oleh TPP dalam mengelola program serta terlaksananya prinsip tranparansi dan akuntabilitas dalam manajemen pengelolaan CBD. Partisipasi yang dilakukan melalui media yang telah ada di desa yaitu kegiatan paruman, nguopin dan ngayah. Sementara rendahnya partisipasi yang dilakukan warga di luar target group mengakibatkan belum terbentuknya kesadaran bahwa kemiskinan merupakan masalah bersama. Dari hasil analisis maka untuk meningkatkan kepedulian warga di luar target, TPP perlu mengadakan kegiatan sosial yang dapat dirasakan secara luas oleh seluruh warga, sehingga mampu menarik warga di luar target (seperti para pengusaha desa yang sukses) untuk mau berpartisipasi dalam penambahan modal dana CBD. Selain itu pemberian suntikan dana dari desa pakraman sebagai permodalan dana CBD sangat diperlukan agar pinjaman yang disalurkan kepada target group bisa ditingkatkan jumlahnya.

This research talked about empowerment of traditional village (desa pakraman) as local custom cummunity in Bali, through implementing a policy, named Community Based Development (CBD) programme. In almost a decade, there was no investigation on the effectiveness of the programme, which make doubtful and uncertain to traditional village as the programme’s manager, whereas in some village the programme management wasn’t well-execute. So that the programme wasn’t growth as expected, but rather broke up. For knowing how far the programme result, so the research was done by taking case of management of CBD’s program in Bugbug Traditional Village to understand two things; how was the efectiveness of CBD programme in Bugbug and how the determination of participation on it. Bugbug Traditional Village was choosed becouse it is one of “best practise” in managing CBD programme according to CBD’s final report year 2001-2009 in Karangasem Regency, besides it has special characteristic compared with the other traditional village in the regency. In deeply understanding the efectiveness of CBD programme and determination of participation on programme’s efectiveness, researcher use qualitative-descriftive design with case study approach so the case can deeply understand. The data was collected through interviews, observations, and documentation. As the result of the research, its known that efectiveness of CBD programme in Bugbug Village was good-enough. From three aspects that used, two aspects was good and the other was not. It is known from the sustainabillity of the program and the understanding of programme’s management. The other side, seen from togetherness in solving poverty aspect between target gruop and non-target gruop was resided in bad criteria. The efectiveness of this programme is affected by participation of three actors that involving in, such as TPP, the poor as target gruop and people outside the target in the village. High participation from TPP and target group shown by their involvement in each stage (preparation/planning, actuating, supervising/controlling) which bring succes on sustainabillity aspect, indicated by capital fund growth which reach 71,68% (Rp 171.681.700,-) and inovation in managing programme by TPP, and also carried out trasparancy and accountabillity in managing CBD programme. Participation was done through activity that already exist in daily life of villagers such as paruman, nguopin and ngayah. In the other hand, low participation from the non-target group make the awareness on togetherness in solving poverty wasn’t formed yet. Based on the analys, to increase the attention of non-target gruop, TPP needs to present some social activity that give advantages to all villagers, so its can attract them (such as succes entrepreneurs in village) to contribute in developing CBD’s capital. Besides that, financial support from Traditional Village Institution as CBD’s capital is very much needed so the loan that gives to target group can be increasing.

Kata Kunci : Efektivitas, Program CBD, Partisipasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.