Aksesibilitas penghayat kepercayaan dalam pencatatan sipil di Kabupaten Gunungkidul berdasarkan Undang-undang omor 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan
PRIHATININGSIH, Sri Rahayu, Dr. Agus Heruanto Hadna
2010 | Tesis | S2 Magister Administrasi PublikPenelitian ini membahas mengenai Aksesibilitas Penghayat Kepercayaan dalam Pencatatan Perkawinan pada Pencatatan Sipil di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Gunungkidul setelah diberlakukannya Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Penelitian ini dianggap menarik karena sebelum undang-undang ini diterbitkan, perkawinan penghayat murni tidak terakses dalam pencatatan sipil. Akan tetapi setelah undang-undang ini diberlakukan ternyata tidak menjamin serta merta para penghayat kepercayaan mencatatkan perkawinan mereka, khususnya pasangan penghayat kepercayaan yang telah menikah secara adat kepercayaan mereka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan analisis kualitatif sebagai upaya untuk mendapatkan dan menyampaikan fenomena dan fakta dengan jelas dan teliti, berkaitan dengan aksesibilitas penghayat kepercayaan dalam pencatatan perkawinan pada pencatatan sipil dan proses pelayanan pencatatan ini dapat terakses dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sumber data utama dalah para informan yang dinilai memiliki kapasitas, pengalaman dan informasi terkait dengan permasalahan ini. Sedangkan tehnik analisi data yang dipergunakan adalah model interaktif yang terdiri dari pengumpulan, reduksi dan penyajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah : pertama, peluang para penghayat untuk mendapatkan pelayanan pencatatan perkawinan mereka sudah terbuka lebar, akan tetapi kemudahan dan keterjangkauan pelayanan ini masih belum dapat optimal karena kurangnya informasi dan jauhnya lokasi pelayanan sehingga mengurangi aksesibilitas mereka dalam pencatatan sipil. kedua,faktor - faktor yang mempengaruhi tercapainya aksesibilitas ini dapat dilihat dari 3(tiga) sisi/dimensi. 1) Dimensi Kognitif; pada dimensi ini penghayat kepercayaan belum menyadari arti pentingnya kepemilikan akta perkawinan, dan tidak mengetahui dimana dan bagaimana prosedur yang harus ditempuh untuk mendapatkan pelayanan pencatatan perkawinan, serta sikap percaya diri yang rendah terhadap pemerintah yang ditimbulkan oleh rasa dendam dan trauma sehingga muncul rasa apatis untuk berurusan dengan birokrasi pelayanan umum, khususunya pencatatan perkawinan. 2) Dimensi Perilaku; sebagian penghayat mempunyai kesulitan dalam berkomunikasi dan bertindak sendiri untuk mendapatkan pelayanan pencatatan perkawinan. 3) Dimensi Birokratik-Administatif; keterbukaan aparat kepada penghayat kepercayaan, kapasitas pegawai dan jauhnya lokasi pusat pelayanan menyebabkan terganggunya proses akses pelayanan pencatatan perkawinan penghayat kepercayaan.
This research discusses about the accessibility of sectarian in registry of their marriage in demography and civil record service in Gunungkidul District after implementing the Law number 23 year 2006 about Demograpy Administration. This research is considered interesting due to unaccessibility of sectarian in civil registration service before the law is made. Furthermore, after the law is implemented, there are still many of sectarian couple which do not register their marriage aspecially for the couple who had married by their custom. This research is descriptive research with qualitative analisys as an effort to gain and submit the phenomena and fact clearly and carefully related to the accessibility of sectarian marriage records on civil registration and the process of recording service can be accessed by the factors that influence it. The main data source is the informant who have capacity, experience dan information related to this issue. While the data analysis technique used is an interactive model that consists of the collecting data, reductng, presenting data and drawing the conclusions. The result of this research are : first; the opportunity to get the services of sectarians in recording their marriage was wide open, but because of the lack information and the distant location, the services have not been optimum. Second; the factors that influence the achievement of this accessibility can be seen from 3 (three) side/dimensions : 1) Cognitive Dimensions; in this dimension the sectarians have not recognized the importance of marriage record, and still do not know where and how the procedures to be followed to get the service records of their marriage, also low trust to the government caused of trauma and vengeance. This conditions make sectarian apathy public services especially for marriage registration service; 2) Dimensions of behavior; some of sectarian have difficulties to access the marriage registration service; 3) Dimensions of bureaucratic-administrative; The staff’s openness and capacity and also the distant location of service center disturbed the accessibility of marriage records service.
Kata Kunci : Penghayat kepercayaan,Aksesibilitas,Pelayanan pencatatan perkawinan, sectarian, accessibility, services marriage records