Relasi kuasa dalam tradisi molodhan di Sumenep
ROFI'AH, Zaimatur, Dr. Wening Udasmoro, DEA.,M.Hum
2010 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaMaulid Nabi merupakan ritual memperingati kelahiran nabi Muhammad saw. Masyarakat di belahan dunia merayakannya dengan tradisi masing-masing. Di Madura Maulid Nabi lebih dikenal dengan sebutan Molodhan. Di tengah kemeriahan perayaan Molodhan, terselip kepentingan-kepentingan berbagai aktor sosial yang ada di dalamnya. Bisa dikatakan bahwa Molodhan adalah arena untuk memperebutkan kuasa. Penelitian ini bertujuan menguak siapa saja aktor yang terlibat dalam tradisi Molodhan di Sumenep serta apa saja kepentingan kuasa yang melingkupinya. Polapola kekuasaan yang digunakan juga menjadi fokus penelitian dalam tulisan ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian etnografis, dengan teknik pengambilan data wawancara dengan terlibat langsung dalam tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aktor menggunakan tradisi ini untuk melanggengkan kekuasaannya. Aktor-aktor sosial dalam tradisi ini meliputi para elite ekonomi, elite kultural serta elite struktural. Elite ekonomi menggunakan Molodhan sebagai arena untuk memperkuat posisinya sebagai orang kaya. Kiai dan haji menggunakan Molodhan sebagai arenanya untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin agama yang dihormati sehingga berhak mengadakan Molodhan. Begitu pula para pejabat yang menjadikan Molodhan sebagai sarana meraih simpati dan kuasa sebagai pemimpin sosial masyarakat. Namun kekuasaan tertinggi justru berada di tangan masyarakat kelas bawah yang dianggap tidak perlu mengadakan Molodhan. Mereka memiliki kuasa untuk ‘memaksa’ orang-orang elite tersebut untuk mengadakan Molodhan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya kekuasaan yang beragam. Mulai kekuasaan laki-laki terhadap perempuan, kekuasaan hierarkis, kekuasaan ekonomi, serta kekuasaan politis. Kekuasaan yang saling tarik menarik dan bertrasformasi karena berhubungan dengan habitus yang melingkupinya.
Kata Kunci : Molodhan,Power,Habitues,Kekuasaan,Habitus