Pola spasial temporal demam chikungunya dan demam berdarah di Kota Yogyakarta tahun 2008
INDRIANI, Citra, Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH
2010 | Tesis |Latarbelakang: Sejak tahun 2004, demam chikungunya mulai muncul kembali secara besar-besaran dan menyerang jutaan manusia di dunia antara lain di Afrika, Samudera Hindia, India, Eropa dan Asia termasuk Indonesia. Pada bulan Januari 2008, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melaporkan 59 kasus baru dan saat itu laboratorium setempat tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan diagnosis konfirmasi. Tindakan penanggulangan telah dilakukan namun tampaknya tidak efektif, kasus semakin menyebar dan meningkat secara progresif. Salah satu pertimbangan dari ketidak efektifan ini adalah kemungkinan penyakit lain yang mempunyai gejala mirip dengan chikungunya namun mempunyai cara yang berbeda dalam penularannya, yaitu tidak melalui vektor. Berangkat dari kesamaan vektor penularan, maka studi dengan pendekatan ekologi menggunakan SIG dilakukan untuk membandingkan pola kejadian secara spasial-temporal antara demam chikungunya dengan DHF. Metode: Studi ini menggunakan pendekatan studi ekologi dengan memanfaatkan SIG, penginderaan jauh dan statistik. Sebanyak 802 kasus chikungunya dan 498 kasus DHF dikumpulkan dan dicari titik lokasi kasus menggunakan GPS. Analisis secara spasial-temporal dilakukan terhadap kasus dengan kepadatan penduduk, kerapatan vegetasi, kepadatan bangunan, penggunaan lahan, angka bebas jentik dan iklim. Analisis space time permutation digunakan untuk mengidentifikasi kluster. Hasil: Analisis tren temporal menunjukkan kemiripan pola antara chikungunya dan DHF, tren keduanya meningkat setelah terjadi hujan deras beberapa minggu sebelumnya. Terdapat hubungan positif antara kedua penyakit dengan kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan. Chikungunya dan DHF cenderung terjadi di area pemukiman yang berada di dekat lahan komersial. Kluster secara spasial dan temporal ditemukan pada dua penyakit tersebut. Terdapat kemiripan kluster antara chikungunya dan DHF dalam ruang dan waktu. Kesimpulan: Studi ini memperlihatkan kemiripan pola kejadian demam chikungunya dengan DHF secara spasial-temporal, meskipun demikian pemeriksaan laboratorium tetap merupakan hal yang penting. Studi ini memberikan informasi yang berguna untuk manajemen kesehatan masyarakat di daerah perkotaan. Dibutuhkan studi lain untuk pengembangan model sistem kewaspadaan dini khususnya untuk penyakit yang ditularkan melalui vektor dengan menggunakan SIG dan penginderaan jauh.
Background: Explosive re-emergence of chikungunya fever has been started since 2004 and affected millions people in worldwide i.e Indian Ocean, India, Europe, Asia including Indonesia. On January 2008, 59 new cases of chikungunya fever was reported by the Kota Yogyakarta health office meanwhile the province laboratory had no capability to perform laboratory examination to confirm the diagnosis. Control measures were already taken, but it seemed not effective, cases were spread and increased progressively by weeks and non-vector born disease which has similar sign and symptoms was thought for consideration. Due to the same vector with dengue hemorrhagic fever, an ecological approach using GIS was taken to compare the spatial-temporal pattern between these two diseases. Objective: This study was aimed to compare the spatial-temporal pattern between chikungunya fever outbreak and dengue hemorrhagic fever incidence on November 2007- August 2008 at Kota Yogyakarta. Method: This study used ecological study approach which integrates the use of GIS, remote sensing and statistic techniques. We collected total of 802 chikungunya and 498 dengue cases in ten months (November – August) and environmental variable includes population density, vegetation density, building density, land use, larvae index and climate. Location of cases was obtained using GPS. Epidemic curve were plotted to identify the disease trend. Space time permutation was used to identify disease clustering. Result: Temporal trend analysis show similarity pattern between chikungunya and DHF, increasing trend was found few weeks following heavy rain. There were positive correlations between diseases and population density, building density. Chikungunya and DHF cases were tend to occurred in residential land use which close to the commercial land use. Spatial-temporal clustering was observed on both diseases demonstrating variation in local infection pattern. There was similarity on disease cluster occurrence between chikungunya and DHF.
Kata Kunci : Dengue, Chikungunya, SIG, Pola spasial, temporal