Serat Murtasiyah: Suntingan dan terjemahan
KUSUMANINGRUM, Rika Novita, Dr. Kun Zachrun Istanti, S.U
2010 | Tesis | S2 SastraPenelitian yang berjudul Serat Murtasiyah: Suntingan dan Terjemahan ini menggunakan populasi 22 varian SrtM yang tersebar di Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta. Terdapat 7 naskah tersimpan di Surakarta. Kemudian terdapat 8 naskah tersimpan di Yogyakarta. Empat naskah selanjutnya tersimpan di PNRI Jakarta. Adapun sebuah naskah terakhir tersimpan di Surabaya sebagai milik pribadi. Dari kedua puluh dua naskah tersebut, terdapat 19 naskah yang teksnya terbaca dan 3 naskah yang tidak terbaca. Adapun sampel penelitian ini adalah 7 naskah yang dihadirkan atau dibaca oleh peneliti. Ketujuh naskah tersebut meliputi naskah A (117 na), B (118 na), E (A 262), F (O 14), J (PB A.214), K (PB E. 16-19), dan T (BR 139). Naskah A dan B adalah koleksi Karaton Kasunanan Surakarta. Naskah E dan F merupakan koleksi Pura Mangkunegaran Surakarta. Naskah J dan K koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Naskah T yaitu koleksi Museum PNRI. Dengan menggunakan metode landasan, terpilihlah naskah J (PB A.214) sebagai naskah dasar kajian. Alasan pemilihan naskah dasar kajian tersebut adalah naskah ini terjangkau dan terbaca. Selain itu, dari segi pernaskahan, naskah ini beraksara pegon, berbahasa Jawa dialek Cirebon, dan disalin di Cirebon. Kemudian dari segi perteksan, urutan peristiwanya runtut. Perteksan naskah J (P.B. A 214) sebagai naskah terpilih secara garis besar sebagai berkut. Karakteristik teks tentang judul kata “Serat Murtasiyah†dapat diartikan surat atau tulisan yang biasanya berisi petuah (pitutur) tentang perempuan yang disuapi. Karakteristik teks terkait dengan volume dari J (P.B. A 214) memuat 8 pupuh yang terdiri dari 242 bait (pada). Materi teks ini meliputi ritual kehamilan, kisah tentang pengembaraan atau pengusiran Dewi Murtasiyah, dan kisah tentang kecerdasan dan kearifannya. Teks ini berbentuk macapat. Suntingan SrtM naskah J (P.B. A 214) menggunakan metode penyuntingan naskah tunggal dengan memilih edisi diplomatik karena hanya ditemukan satu eksemplar naskah SrtM yang berhuruf pegon. Terdapat kekhasan ejaan Jawa sebagai akibat adaptasi huruf Arab sebagai media tulis bahasa Jawa dalam SrtM naskah J (P.B. A.214). Kekhasan ejaan tersebut meliputi konsonan dan vokal sekaligus. Terdapat 7 konsonan dengan masing-masing satu variasi (c, đ, g, ng, ny, p, dan ŧ. dengan hasil variasi dari huruf Arab ج (jim), د (dal), ك (kaf), ع(‘ain), ي (ya’), (fa) , ٠dan (ţa) ط) dan dua vokal yaitu o dan e (memiliki 3 varias vokal). Selain itu, suntingan SrtM naskah J (P.B. A 214) dilengkapi aparat kritik yang menunjukkan beberapa kesalahan penyalinan dittografi dan haplografi. Terjemahan SrtM naskah J (P.B. A 214) menggunakan metode penerjemahan bebas. Metode penerjemahan harfiah tidak memadai karena terjemahan ini mengandung banyak idiom. Penggunaan metode penerjemahan bebas mengakibatkan pergeseran makna pada tataran kata dan frasa. Dengan demikian, terjemahan menjadi berterima sesuai dengan konteksnya.
This research titles Serat Murtasiyah: Suntingan dan Terjemahan. The research found 22 variants of SrtM. All of the variants are used to population for it. They are found at Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, and Jakarta. There are 7 codices at Surakarta. Than there are 10 codices in Yogyakarta. There are 4 codices as collection of PNRI at Jakarta. The last one is at Surabaya as private collection. All of 22 codices, there are 19 codices which be read and 3 codices not be read. Sample of the research is 7 codices which be present and be read by researcher. Seven codices include those codices: A (117 na), B (118 na), E (A 262), F (O 14), J (PB A.214), K (PB E. 16-19), dan T (BR 139). A dan B codices are Karaton Kasunanan collections at Surakarta. E dan F codices are Pura Mangkunegaran collections at Surakarta. J dan K codices are Museum Sonobudoyo collections at Yogyakarta. T codex is Museum PNRI collection. By legger method, the J (PB A.214) is codex selected as studies based codex. Reason of the selection is this codex is reached and read. The other hand, from codicology aspect, it has pegon character, in Java language with Cirebon dialect, and transformed at Cirebon. Than, from textology aspect, the structure of narrative is well organized. The textology of codex J (PB A.214): The title is Serat Murtasiyah what means letter or writing that contain suggest (pitutur). They are about female that receive placing food in her mouth. The text volume consists of 8 pupuh that contain 242 verses (pada). The matery textual are ritual of pregnancy, wandering or expulsion of Dewi Murtasiyah’s story, and her cleverness and wisdom story. Form o the text is macapat. Edition of SrtM codex J (PB A.214) uses single codex editing method by diplomatic edition because there is found only one codex whose Arabic character. There is a special characteristic of java spelling as consequence from adaptation Arabic character as writing media of Java language in the text. The special characteristic concludes consonants and vowels. There are 7 consonants with one variation for each (c, đ, g, ng, ny, p, and ŧ as variations from Arabic characters: ج (jim), د (dal), ك (kaf), ع(‘ain), ي (ya’), (fa) ٠, and (ţa) ط). The vowels are o and e character (have three vowels variations). SrtM edition of codex J (PB A.214) is completed critical apparatus that can show some transformation mistakes. They are dittografy and haplografy. They show that the transformer is a Javanese that clever for reading-writing Arabic character but not clever Arabic grammatical. Translation of SrtM codex J (PB A.214) uses released translation method. Linear translation method is useless because this text consists of many idiom. Using of released translation method results friction meaning in word and phrase level. Thus, the translation becomes to match according to context.
Kata Kunci : Naskah, Teks, Varian, Serat, Pegon, Macapat, Suntingan, Terjemahan