Laporkan Masalah

Konsep manusia dalam pandangan Jiddu Krishnamurti (1895-1986)

ANDRILOLO, Prof. Dr. Joko Siswanto

2010 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat

Persoalan manusia saat ini dan sampai saat nanti akan menjadi persoalan yang tetap ‘hangat’ untuk dikaji. Melihat manusia yang artinya juga melihat diri sendiri yang berkutat dalam setiap persoalan, terkadang kala menjadi sebuah drama komedi karena kisah-kisah dalam perkembangan itu menceritakan kisah yang lucu, aneh dan membingungkan. Penelitian ini mengungkapkan hakikat manusia dalam pandangan seorang ahli ilmu kebatinan dan ahli filsafat, yaitu Jiddu Krishnamurti. Perspektif yang digunakan dalam kajian ini adalah dari sudut filsafat manusia. Karena menurut peneliti, Krishnamurti sangat fokus melihat manusia dari sisi terdalam manusia, memposisikan manusia sebagai yang semestinya yaitu berada dalam lingkungan dan berada di antara semua yang ada di sekitarnya. Titik berangkat Krishnamurti bukan berasal dari penyalahan terhadap hal yang ada di luar manusia akan tetapi dari diri manusia itu sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode deskripsi, hermeunetika, dan heuristik. Sumber data yang diambil oleh penulis berupa tulisan-tulisan yang berisikan pemikiran tokoh dan beberapa wawancara serta diskusi bersama tokoh ini. Adapun tujuan dari tulisan ini adalah mencari konsep manusia yang terkandung dalam pemikiran Krishnamurti, kemudian mencari makna di balik pemahaman Krishnamurti tentang manusia. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah kenyataan tentang manusia yang sebenarnya menurut perspektif Krishnamurti. Kesadaran manusia terhadap struktur pikiran ternyata telah membuat manusia terjebak dalam pemahaman yang tidak nyata. Sebab pikiran manusia adalah masa lalu, yang berbentuk sebuah materi karena pikiran tidak berubah bentuk. Bentuk baku dari pikiran inilah yang menurut Krishnamurti sebagai pembentuk diri manusia. Seharusnya manusia adalah sosok yang mampu menjadi manusia saat ini, bukan manusia masa lalu. Menghadapi setiap persoalan dengan pandangan yang selalu segar, kekinian. Hanya dengan menggunakan batin yang selalu lahir saat ini dan bukan menggunakan pikiran yang jalannya telah memiliki pola-pola tertentu yang dibentuk dari otoritas, pendidikan, dan fragmentasi. Dengan demikian akhirnya manusia bukanlah mahluk yang keras, kejam, picik dan iri hati.

The problem of man today and until the future will be a problem that stays topical to be studied. Looking at man means as well looking at oneself who’s struggling in every matter, sometimes it is a comedy-drama because the stories in those progress tells storries that’s funny, strange and confusing. This research reveals the man nature in the opinion of an expert on mysticism and a philosopher, Jiddu Krishnamurti. The perspective used in this research is from the point of metaphysical anthropology. Because according to the author, Krishnamurti was very focused viewing man from man’s inner side, positioning man as it should which is being in an environment and being amongs everything that’s around him. The starting point of Krishnamurti is not from blaming the things that exist outside of man but from man itself. This research is a library research using the method of description, hermeunetika, and heuristics. The source of the data taken by the author are of writings that contain the thought of character and a few interviews and discussions with this character. The purpose of this paper is to find a man concept in the thoughts of Krishnamurti, and then look for the meaning behind the concept of Krishnamurti about man. The results of this paper is the actual reality about man according to Krishnamurti’s perspective. That the man consciousness againts the structure of thoughts turned out to have made the man mind trapped in an understanding that is not real. Because the man mind is the past, in the form of a material because the mind has not changed shape. The raw form of this mind which, according to Krishnamurti is forming man itself. Man is supposed to be a figure that is capable of being a man at this time, not man in the past. Facing any problems with the viewpoint that is always fresh, contemporary. Only by using mind that is always born at the moment and not using the mind which has the course of certain patterns that is formed out of authority, education, and fragmentation. So finally man is not the creature that is hard, cruel, petty and jealous.

Kata Kunci : Batin,Pikiran,Otoritas,Fragmentasi,Keterkondisian,Kesenangan,Rasa takut,Manusia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.