Laporkan Masalah

Modalitas dalam kompetisi elektoral :: Studi kemenangan hartini pada Pemilu 2009 di Kabupaten Manggarai

DALO, Ishak Supatriot, Dra. Ratnawati, S.U

2010 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Realita kompetisi elektoral selalu menyajikan berbagai warna kontestasi serta dinamika yang berbeda. Dalam berbagai kontestasi elektoral ada begitu banyak pendekatan yang digunakan oleh para kandidat untuk memenangkan proses kontestasi elektoral yang ada. Baik pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan daerah atau lokal. Ada begitu banyak pendekatan yang digunakan oleh para kandidat untuk memenangkan proses elektoral yang ada.Dari berbagai bentuk itu misalnya ada pendekatan patron-klien dan pendekatan modalitas.Namun, sejak runtuhnya rezim orde baru, pendekatan modalitas merupakan salah satu pendekatan yang sangat sering digunakan oleh setiap kandidat politik untuk memenangkan sebuah kompetisi elektoral. Pendekatan modalitas sendiri merupakan sebuah model pemenangan kompetisi elektoral dengan berbasiskan pada modalitas yang dimiliki oleh kandidat atau peserta kontestasi. Secara umum, modalitas ini terdiri atas 3 (tiga) bagian besar; pertama;political capital (modal politik), kedua; social capital (modal sosial) dan ketiga; economic capital (modal ekonomi). Dalam ilmu politik, ketiga modalitas ini merupakan hal-hal fundamental yang dapat dikembangkan oleh setiap kandidat untuk maju dan bertarung dalam sebuah kontestasi politik. Mengapa demikian? Modalitas adalah hal-hal mendasar yang menjadi basis keunggulan bagi para calon legislatif untuk memenangkan sebuah proses pemilihan umum. Dalam berbagai bentuk kontestasi elektoral baik pemilihan umum maupun pemilihan kepada daerah atau pemilihan presiden, basis-basis unggulan atau odalitas merupakan prasyarat yang tidak dapat dihindari untuk memenangkan sebuah kontestasi politik. Modalitas merupakan tuntutan-tuntutan politik yang harus dipenuhi oleh setiap kontestan dalam berbagai kompetisi elektoral di mana kepemilikan modalitas menjadi langkah awal dan modal bagi terbentuknya sebuah strategi yang tepat bagi kandidat untuk maju dan memenangkan proses elektoral. Seperti yang diungkapkan oleh Pierre Bourdieu dan Kacung Marijan, besarnya kepemilikan modalitas akan sejalan dengan kemudahan bagi setiap kandidat politik untuk memenangkan kompetisi elektoral.Semakin banyak modalitas yang dimiliki, maka semakin mudah bagi setiap kandidat politik untuk memenangkan kompetisi elektoral.Kemudian sejalan dengan pengertian dan pemahaman akan esensi dari odalitas,kepemilikan modalitas merupakan salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh kaum perempuan untuk terlibat dalam dunia politik maupun saat terjun dalam sebuah kompetisi elektoral. Pada pemilu 2009 misalnya, kepemilikan modalitas merupakan salah satu permasalahan utama yang dialami oleh kandidat atau calon legislatif (caleg) perempuan. Seperti yang dialami oleh Hartini saat maju dan mencalonkan diri sebagai caleg pada Pemilu 2009 di Kabupaten Manggarai. Sebagai seorang caleg perempuan Hartini memiliki keterbatasan dalam kepemilikan modalitas. Namun menjadi menarik kemudian, karena dengan kepemilikan modalitas yang sangat terbatas, Hartini justru mampu memenangkan proses pemilihan yang ada dan mampu terpilih sebagai anggota DPRD Manggarai. Berkat kepemilikan modal sosial dan human capital yang seadanya, Hartini mampu mendominasi dan memenangkan kompetisi elektoral yang berlangsung pada Pemilu 2009. Salah satu kunci kesuksesan Hartini untuk memenangkan Pemilu 2009 dengan kepemilikan modal yang begitu minim adalah dengan menerapkan strategi kapitalisasi modal sosial. Berkat proses kapitalisasi modalitas dalam proses kompetisi elektoral, Hartini kemudian mampu menang dan terpilih pada Pemilu 2009. Sampai pada tahap ini, kapitalisasi menjadi sebuah jawaban yang tepat bagi setiap kandidat politik untuk memenangkan kompetisi elektoral yang ada. Bahwa dengan kemampuan untuk mengkapitalisasi modalitas, permasalahan keterbatasan modalitas bukan menjadi permasalahan bagi setiap kandidat politik untuk memenangkan sebuah kompetisi elektoral.

Reality competition electoral contestation always presents a variety of colors and different dynamics. In various electoral contestation there are so many approaches used by candidates to win electoral contestation of existing processes. Both at the national level and also at regional or local level. There are so many approaches that used by candidates to win the electoral process. Of the various forms that such is the patronclient approach and modality approach. But since the New Order regime collapse,modality approach is one approach that is often used by every political candidate to win an electoral competition. Modality approach is a model of win in a electoral competition by the candidate or participant contestation that used a modalities as a based to win a electoral competition. In general, this modality consists of 3 (three) major sections: first,the political capital, second; social capital and the third, economic capital. In political science, all three modalities is a fundamental things that can be developed by each candidate to come forward and fight in a political contestation. Why is that? Modalities are the basic things that form the basis for future legislative advantage to win a general election process. In various forms of electoral contestation either election or election to local or presidential elections, winning bases or modalities is a prerequisite that can not be avoided in order to win a political contestation.Modalities are political demands to be met by each contestant in a variety of electoral competition in which the ownership modalities be the first step and capital for the formation of an appropriate strategy for the candidates to go forward and win the electoral process. As expressed by Pierre Bourdieu and Kacung Marijan, the modalities of ownership will be in line with the ease of every political candidate to win the electoral competition. The more modalities you have, the easier it is for every political candidate to win the electoral competition.Then, in line with the definition and understanding of the essence of the modalities, the modalities of ownership is one of the problems often faced by women to get involved in politics as well as engaging in an electoral competition. In the 2009 election for example, ownership of modality is one of the major problems experienced by the candidate or a women legislative candidate. As experienced by Hartini when forward and nominate themselves as candidates in the 2009 elections in Manggarai regency. As a female candidate Hartini modalities have limitations in ownership. But to be interesting then, because with very limited ownership modalities, Hartini actually capable of winning the election process that exists and is capable of elected legislators Manggarai. By the ownership of social capital and human capital are improvised,Hartini able to dominate and win the electoral competition that took place in the 2009 elections. One of the key success Hartini to win the 2009 election with a very minimal capital ownership is by applying a capitalization strategy of social capital. With the process of capitalization of modalities in the process of electoral competition, Hartini then able to win and was elected in 2009 elections. At this point, capitalizing on a precise answer to every political candidate to win the electoral competition that exists.With the ability to capitalize on the modalities, modality limitations problem is not a problem for every political candidate to win an electoral competition.

Kata Kunci : Kompetisi elektoral,Modalitas,Strategi politik,Kapitalisasi modalitas,Electoral Competition, Modality, Political Strategies and Modalities Capitalization


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.