Surat kabar daerah dan kekuasaan (critical discourse analysis berita keistimewaan Yogyakarta di surat kabar Kedaulatan Rakyat dan surat kabar Radar Jogja tahun 2008
SUKARNO, Adam Wijoyo, Drs. Kuskridho Ambardi, M.A.,PhD
2010 | Tesis | S2 Ilmu KomunikasiPenelitian ini memiliki fokus perhatian pada konstruksi pemberitaan surat kabar. Kasus yang diambil adalah pemberitaan dua surat kabar daerah Y ogyakarta, yaitu surat kabar Kedaulatan Rakyat dan surat kabar Radar Jogja mengenai isu keistimewaan Y ogyakarta pada tahun 2008. Kasus terse but pada dasarnya bersinggungan pada faktor kekuasaan pada level lokal. Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan surat kabar Radar Jogja dipilih berdasarkan asumsi adanya pengaruh budaya dalam pemberitaan keistimewaan Yogyakarta. Surat kabar surat Kedaulatan Rakyat membawa representasi surat kabar Jawa dan surat kabar Radar Jogja menjadi representasi surat kabar Pesisiran. Surat kabar Jawa merupakan entitas surat kabar yang memiliki afiliasi pada kebudayaan Jawa. Budaya Jawa dalam hal ini diposisikan sebagai entitas budaya yang memiliki susunan hierarki kuat, sebingga institusi surat kabar diasumsikan terikat dalam pola hubungan yang disusun secara vertikal. Dalam konteks ini, relasi tersebut dipandang berpotensi mempengarubi pola pembahasaan surat kabar melalui fakta linguistik yang berupa penggnaan tingkat-tingkat bahasa. Sedangkan surat kabar yang memiliki basis afiliasi kepada kultur pesisiran ditandai dengan adanya kebebasan tertentu dan mendukung terbentuknya konsep individu. 1 Dalam pandangan Koentjaranigrat (1994) penduduk di daerah pesisir memiliki sistem kepercayaan lebih puritan yang kemudian mempengaruhi kehidupan sosiaJ budayanya. 2 Pada tataran ini, surat kabar yang diasumsikan sebagai surat kabar pesisiran akan terikat oleb sistem nilai budaya melalui penggunaan babasa lugas dan pola interaksi egaliter. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dialectical relational approach dari Norman Fairclough melalui model analisis tiga tingkat (text analysis, discourse practise dan sociocultural practise). Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan frame dalam melibat realitas keistimewaan Yogyakarta. Surat kabar Kedaulatan Rakyat mengkonstruksi berita keistimewaan Y ogyakarta dlaam bentuk penetapan gubemur dan wakil gubemur. Sedangkan surat kabar Radar Jogja membungkus realitas keistimewaan Yogyakarta daJam isu pemilihan gubemur dan wakil gubemur secara demokratis. Namun begitu, asumsi yang dibangun terhadap surat kabar Kedau/atan Rakyat sebagai surat kabar representasi jawa memiliki korelasi dengan basil penelitian. Sebagai surat kabar representasi jawa, berita yang disusun oleh Kedau/atan Rakyat adalah berita yang dibentuk dengan babasa lunak. Terlebih ketika berita tersebut menyentuh institusi keraton atau tokob elit di Yogyakarta. Secara teoritis realitas ini dapat dijelaskan melalui falsafah kejawen Kedaulatan Rakyat yang memposisikan institusi sebagai bagian yang tidak terpisabkan dari sebuah sistem sosial. Dalam konteks ini relasi rajakawula, pejabat tinggi-warga, yang dipertuan-vasal, patron-klien dan senior-yunior menjadi lumrah dan secara tidak langsung mempengaruhi substansi berita. Sementara Hal ini berhubungan pada fakta kebijakan redaksional yang mengarahkan reporter mengambil perspektif berbeda dengan surat kabar lain. Namun begitu, berita yang ditulis dengan bahasa lugas, tegas dan menempatkan surat kabar pada posisi egaliter identik dengan ciri budaya non-jawa yang tidak mengenal tingkatan bahasa dan strata sosial.
The debate over the special status ofYogyakarta privilege can not be separated from the context of the fight in the corridor interests of democracy and regional autonomy issues. Through the perspective of power attract such interest is evident. Reality is then interpreted by the newspapers as an interesting social facts to be reported to the public. This article describes the construction to local news media reported Yogyakarta in Yogyakarta in 2008 privilege issues. Kata kunci: Status khusus; demokrasi; otonomi daerah; konstruksi berita; media cetak lokal.aswnsi yang dibangun terhadap surat kabar Radar Jogja tidak sepenuhnya terbukti.
Kata Kunci : Status khusus,Demokrasi,Otonomi daerah,Konstruksi berita,Media cetak lokal