Laporkan Masalah

Keterkaitan aksesibilitas dengan ketimpangan wilayah antar kabupaten se Provinsi Jawa Timur

WALUYO, Joko, Prof. Ir. Achmad Dhuanedi, MUP.,Ph.D

2010 | Tesis | S2 MPKD

Ketimpangan wilayah merupakan fenomena yang umum terjadi di negara sedang berkembang. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ketimpangan wilayah adalah perbedaan tingkat aksesibilitas. Aksesibilitas dalam hal ini sistem transportasi membuka peluang kegiatan perdagangan antar wilayah sehingga mendorong terjadinya pemerataan pembangunan dan meminimalkan kesenjangan antar wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola dan mengukur tingkat ketimpangan wilayah, menggambarkan tingkat aksesibilitas wilayah, serta menjelaskan keterkaitan aksesibilitas dengan ketimpangan wilayah di Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deduktif kuantitatif, yaitu penelitian yang dilakukan melalui serangkaian kajian secara logis (rasional) berdasarkan pada teori-teori yang ada untuk melandasi perumusan hipotesis, kemudian diuji dengan menggunakan angka-angka atau statistik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan wilayah antar kabupaten di Jawa Timur cukup tinggi, terutama di sepanjang koridor Surabaya-Malang (meliputi Kabupaten Sidoarjo, Gresik, Malang) yang merupakan wilayah yang sangat maju, dengan wilayah lain khususnya di barat daya Jawa Timur (Kabupaten Pacitan dan Trenggalek), wilayah tapal kuda bagian utara (Kabupaten Bondowoso) dan sebagian wilayah Madura (Kabupaten Sampang dan Pamekasan) yang merupakan wilayah tertinggal. Dalam kaitannya dengan aksesibilitas, ketimpangan itu lebih disebabkan oleh perbedaan tingkat ketersediaan prasarana jalan, ketersediaan sarana angkutan, dan tingkat interaksi wilayah antar kabupaten. Dari analisa hubungan aksesibilitas dengan ketimpangan wilayah diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan dengan arah hubungan positif antara aksesibilitas dengan tingkat kemajuan suatu wilayah. Secara umum wilayah yang aksesibilitasnya tinggi merupakan wilayah yang maju, dan sebaliknya wilayah dengan aksesibilitas rendah, maka wilayah tersebut merupakan wilayah yang tertinggal.

Regional disparity is a common phenomenon in developing countries. One of the factors contributing to regional disparity is the different of accessibility. Accessibility, particularly transportation system, provides various opportunities for interregional trading affairs that lead to even distribution of development and minimization of interregional disparity. The objectives of the study were to describe the pattern and to measure the level of regional disparity, to describe the degree of regional accessibility, and to determine the correlation between accessibility and regional disparity among the regencies at the Province of East Java. The study employed deductive quantitative method, by which the study was conducted through a series of logical (rational) studies on the existing theories as the bases for hypothesis formulation. The hypotheses were then tested in numerical or statistical way. The study showed that regional disparity among the regencies in East Java was relatively high, particularly among regencies along Surabaya-Malang (including the regencies of Sidoarjo, Gresik, and Malang) all of which are categorized into more developed areas compared any other areas particularly those at southwestern part of East Java (Pacitan and Trenggalek Regencies), at the northern horseshoe area (Bondowoso Regency), some areas of Madura (Sampang and Pamekasan Regencies) that are categorized into underdeveloped areas. In terms of accessibility, regional disparity was attributable to the difference in the availability of road facilities, transportation facilities, and the degree of interregional interaction. Analysis of the correlation between accessibility and regional disparity concluded that there was a significant correlation with a positive correlation between accessibility and the degree of regional development. In general, regencies with higher degree of accessibility are categorized into developed areas. On the other hand, regencies with lower accessibilities are categorized into underdeveloped areas.

Kata Kunci : ketimpangan wilayah, aksesibilitas, interaksi wilayah, regional disparity, accessibility, regional interaction


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.