Teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah tulang ikan tenggiri sebagai bahan pakan
BASTOMI, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA.,DEA
2010 | Tesis |Kota Pangkalpinang merupakan salah satu kota penghasil kerupuk,getas dan kemplang khas makanan daerah propinsi Bangka Belitung, dibuat dari campuran sagu dan daging ikan tenggiri. Sementara tulang ikannya sampai saat ini belum termanfaatkan dengan baik dan cenderung menjadi limbah, kadang kala limbah tulang ikan dibuang begitu saja dilahan kosong/kebun. hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan berupa bau yang tidak menyedapkan.. Potensi limbah tulang ikan yang dihasilkan oleh 73 industri pembuatan kerupuk getas dengan rata-rata tiap industri menghasilkan 1.000 – 1.200 kg/ bulan., Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah tersebut diolah dan diproses untuk dijadikan tepung tulang ikan.Variabel bebas yang digunakan didalam penelitian ini adalah: 100% pakan ternak, 90% pakan ternak + 10 % tepung tulang ikan tenggiri.Variabel terikatnya adalah: fisik telur, berat telur, indeks telur, tebal kerabang, tinggi albumen, berat yolk, dan warna yolk. Variabel kontrol: Pemberian pakan pada usia itik masa produksi berumur 16 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi konsentrat tepung ikan tenggiri yang ditambahkan dalam pakan ternak dengan komposisi 10% sudah dianggap cukup baik, hal ini terlihat dari kwalitas telur yang diproduksi olet itik, perlakuan penambahan konsentrat 10% lebih baik kwalitas telurnya bila dibandingkan dengan hasil telur itik tanpa pemberian konsentrat pada pakan terutama pada,indeks panjang telur, albumen, warna yolk telur menunjukan perbedaan yang signifikan. Bahwa limbah ikan tenggiri dapat dimanfaatkan sebagai konsentrat untuk bahan tambahan makanan ternak. Evaluasi ekonomi menunjukkan bahwa tepung ikan dengan kapasitas 400 kg/hari akan diperoleh penghasilan sebelum dipotong pajak Rp 345.600.000,- dalam satu tahun, BEP 6.589 kg/bulan, waktu pengembalian modal 3 bulan dengan harga Rp.3.000,-/kg.
Pangkalpinang is a one city that produce of chips, getas and tenggiri fish that use the tenggiris fish as a raw material. Nowdays the tenggiris fish waste hasn’t yet benefitted and affectively becoming the waste that only throwed to the estate,planation that causative of bad smelling and desiese. The potential of the waste about 1.000 - 1.200 kg/month. The research is aimed to benefitted the tanggiri’s fish bone as a raw material to be a fish bone meal fed. The research use two variations of pecentage of poulry, that is 100% poulry + 0% tenggiris fish bone meal fed, 90% poulry + 10% tenggiris fish bone meal fed were variated as an independent variable. The physical test were: egg weigt, egg length, and engg widht, the egg sheel tension, and egg shell thickness.The albumen, and yolk were compared by egg colour fan ( yolk colour fan ) as a dependent variable in this research. The concentrate were applied in 16 weeks of duck ages that in production ages. The results indicated that the fish meal supplementation up to 10 % was usable with good result. It was indicated by egg quality, namely index of egg length, albumen, and yolk colour parameter.It was concluded that the Pangkalpinang Province Bangka Belitung was potencial for manufactured expanced of tenggiri fish bone as an raw material in concentrate of animal fed.The economical evaluation showed that fish bone meal with capacity of 400 kg/day resulted gross income of Rp 345.600.000,-/year, BEP 6.580 kg/months, with the revenue capital 3 months with the price rate of Rp 3.000,-/kg.
Kata Kunci : Limbah tulang ikan tenggiri,Itik petelur,Tepung tulang ikan, Tenggiri fish waste, duck, fish bone meal.