Pengaruh status gizi pada peningkatan kadar enzim transaminase pada anak yang memakai obat anti tuberkulosis di Yogyakarta
MARISON P, Huminsa Ranto, dr. Retno Sutomo, Ph.D.,Sp.A(K)
2010 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran KlinisObat anti tuberkulosis mempunyai potensi hepatotoksisitas yang diantaranya ditandai peningkatan enzim transaminase (AST/ALT). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian peningkatan enzim transaminase adalah usia, jenis kelamin perempuan, status gizi kurang, intake alkohol yang tinggi, riwayat penyakit hati sebelumnya, carrier hepatitis B, hipoalbuminemia dan status asetilator. Mengetahui insidensi dan pengaruh status gizi terhadap peningkatan kadar enzim transaminase pada anak yang mendapatkan obat antituberkulosis di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif. Data diambil bulan Mei - Juli 2010 dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Kriteria Inklusi adalah anak usia < 14 tahun yang mendapatkan obat anti tuberkulosis yang kontrol di Poliklinik rawat jalan dan rawat inap serta bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusi adalah pasien yang mendapatkan obat lain selain OAT yang bersifat hepatotoksisitas pada dosis terapi seperti: tetrasiklin, asam valfroat dan fenitoin. Dari 56 subyek penelitian, didapatkan 28 anak (50%)kategori gizi baik, 24 anak (42,9%) kategori gizi kurang dan 4 anak (7,1%) termasuk gizi buruk. Distribusi jenis kelamin kedua kelompok sama. Hepatotoksisitas pada penelitian ini adalah 0,2%. Status gizi kurang berisiko memiliki kadar AST yang lebih tinggi selama pengobatan TB dibandingkan dengan status gizi baik (OR 7,8; IK 95% [1,5;40,9], p = 0.01), namun tidak didapatkan pada kadar ALT. Dengan analisis multivariat, status gizi tidak baik (adjusted OR 13,7; IK 95% [2,0;94,7], p=0,008) dan jenis kelamin perempuan (adjusted OR 0,2; IK 95% [0,6;9,2], p=0,03) merupakan faktor risiko independen terjadinya AST yang tinggi pada anak dengan pengobatan TB. Hepatotoksisitas pada penelitian ini adalah 0,2%. Status gizi kurang dan jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko terjadinya kenaikan enzim AST pada anak yang menggunakan obat anti tuberkulosis.
Antituberculosis drug have potency hepatotoxicity with increased transaminase enzyme. Risk factors for hepatotoxicity are age, sex, malnourished, high intake alcoholic, Preexisting liver disease, hepatitis B carrier, hypoalbuminemia and acetylator status. To investigate incidens and influence of nutrition status for increased transaminase in children with anti tuberculosis drugs therapie in Yogyakarta. A retrospectif cohort was conducted from may until july 2010 from Sardjito Hospital Yogyakarta and Soeradji Hospital Klaten. Inclusion criteria is children < 14 years old with anti tuberculosis drugs that control in policlinic and hospitalized with informed consent. Exclusion is comsumption of other hepatotoxicity potency drugs like: tetracycline, valfroid acid and phenitoin. A total 56 patient were collected during the study period. 28 patient with good nourished (50%), 24 (42,95%) malnourished and 4 (7,1%) severely malnourished.Sex proportion is equal. Children with undernourished status have high AST level compare to good nourished (OR 7,8; IK 95% [1,5;40,9], p = 0.01), but not in ALT levels. On multivariate analysis, not good nourished status (adjusted OR 13,7; IK 95% [2,0;94,7], p=0,008). and female (adjusted OR 0,2; IK 95% [0,6;9,2], p=0,03) is risk factors for high AST levels. Hepatotoxicity in this study is 0,2%. Children with undernourished status and female are risk factors for increased AST enzyme of children receiving antituberculosis drug
Kata Kunci : Hepatotoxicity,Antituberculosis drugs,Child,Risk factors