Laporkan Masalah

Konsep Demokrasi Teistik Mohammad Natsir (1907-1993)

SETYANINGSIH, Emi, Dr. Arqom Kuswanjono

2010 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat

Praktek demokrasi di Indonesia dengan beragam aktor yang terlibat di dalamnya mencerminkan bahwa persoalan nilai telah diabaikan. Hal ini sangat riskan karena demokrasi yang berjalan tanpa kendali nilai akan menyengsarakan rakyat. Hal ini kemundian mendorong penulis untuk melakukan penelitian demokrasi. Secara khusus penulis akan mengangkat gagasan demokrasi yang ditawarkan seorang intelektual, dai, dan politisi yaitu Mohammad Natsir. Natsir adalah seorang modernis yang memimpin partai Islam terbesar di Indonesia, Masyumi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami konsep demokrasi teistik yang dikemukakan oleh Natsir. Penelitian ini menggunakan pendekatan filsafat politik untuk menelaah dan menemukan asumsi-asumsi dasar, nilai-nilai, dan relevansinya terhadap kehidupan politik di Indonesia. Model penelitian ini adalah penelitian pustaka yang menggunakan beberepa metode yaitu, metode deskriptif historis, rekonstruksi biografis, hermeneutik, dan heuristik. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Demokrasi teistik merupakan sebuah elaborasi eklektik dari teori kedaulatan Tuhan dan teori kedaulatan rakyat. Demokarsi teistik dibangun di atas tiga elemen, yaitu, ijtihad, ijma’, dan syura. Demokrasi teistik mengandung nilai yang secara substansial sama dengan nilai-nilai yang terdapat dalam demokrasi Barat, yaitu kebebasan, pluralisme, dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, tetapi dalam kerangka keislaman. Demokrasi teistik, terlepas dari kelemahanya, memiliki relevansi terhadap kehidupan demokrasi saat ini. Demokrasi teistik dengan nilai-nilainya dapat mencegah pelaksanaan demokrasi yang destruktif dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

unavailable

Kata Kunci : Demokrasi teistik,Nilai,Relevansi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.