Laporkan Masalah

Evaluasi penggunaan artesunat-amodiakun (Artesdiakun) pada pengobatan malaria tanpa komplikasi di Kabupaten Oku

SANTOSO, Prof. dr. Supargiyono, DTM

2010 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis

Penyakit malaria di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Terapi untuk pengobatan malaria di Kabupaten OKU sejak tahun 2007 telah menggunakan artesdiakuin untuk Plasmodium falciparum. Pengobatan malaria vivax menggunakan artesdiakuin sejak tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efikasi obat anti malaria artesdiakuin dan efek samping yang ditimbulkan akibat terapi yang digunakan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasional survey, pada penderita malaria falciparum dan malaria vivax. Pemeriksaan dan pengamatan dilakukan selama 28 hari yaitu pada H0, H1, H2, H3, H7, H14, H21 dan H28. Pemberian artesdiakuin dilakukan pada H0, H1 dan H2 sedangkan pemberian primakuin hanya dilakukan pada H0. Pengamatan efek samping dilakukan pada H0, H1, H2 dan H3 sedangkan penilaian efikasi obat dilakukan setelah H28. Gejala klinis awal sebelum terapi yang ditemukan berupa menggigil, anoreksia, sakit kepala, pusing dan nyeri otot. Gejala klinis yang paling banyak ditemukan berupa menggigil dan sakit kepala (22,9%). Penderita malaria vivax yang tidak mengalami gejala klinis sebanyak 50% sedangkan penderita malaria falciparum sebanyak 8,7%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa obat anti malaria artesdiakuin memiliki efikasi yang baik (100%) terhadap penderita malaria vivax namun pada penderita malaria falciparum hanya diperoleh 87% penderita yang memenuhi kriteria respon klinis dan parasitologis memadai (RKPD). Penderita malaria falciparum yang mengalami kegagalan pengobatan dini (KPD) ditemukan pada 3 orang (13%). Efek samping artesdiakuin yang ditemukan berupa gatal, pusing, mual, muntah dan nyeri lambung. Penderita malaria falciparum yang tidak mengalami efek samping pengobatan sebanyak 5 orang (21,7%) dari 23 orang penderita malaria falciparum yang diperiksa. Sementara pada penderita malaria vivax hanya ditemukan 2 orang (16,7%) diantara 12 penderita malaria vivax yang diperiksa. Penderita malaria falciparum yang mengalami kegagalan pengobatan seluruhnya mengalami efek samping selama H1, H2 dan H3.

Malaria is still a public health problem in Ogan Komering Ulu (OKU) Regency. The treatment of malaria for malaria falciparum in the OKU Regency has been using artesdiaquine since 2007. Newest treatment for Plasmodium vivax using artesdiaquine since 2009. The purpose of this study was to assess the effectiveness artesdiaquine as anti-malarial drugs and the side effects caused by therapeutic use. The studi was observational surveys, in falciparum and vivax malarial patient, by examination and observation of subjects during 28 days, in 0 day (H0), first day (H1), 2nd (H2), 3th (H3), 7th (H7), 14th (H14), 21th (H21) and 28th day (H28). The present of artesdiaquine on H0, H1 and H2, while primaquine is only give on H0. The observation of side effects on H0, H1, H2 and H3, while the assessment of drug efficacy after H28. The results showed that efficacy of artesdiaquine-antimalarial drugs combinations for vivax malarial patients has good (100%), but in falciparum malarial patients only 87% with criteria of Adequate Clinical and Parasitological Response (ACPR). Falciparum malarial patients with early treatment failure (ETF) are found in 3 people (13%). The side effects of artesdiaquine are dizziness, nausea, vomiting and stomach. Falciparum malarial patients who did not experience medication side effects as many as 5 of 23 patients (21,7%) with falciparum malarial are examined, While in vivax malarial patients were 2 of 12 patients (16.7%). Falciparum malarial patients with treatment failure fully experience of side effects during H1, H2 and H3.

Kata Kunci : Malaria, artesdiakuin, efikasi, efek samping, Malaria, artesdiaquine, efficacy, side effect


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.