Laporkan Masalah

Faktor faktor yang mempengaruhi konflik pemanfaatan ruang terbuka publik ditinjau dari pendekatan aspek teritori :: Studi kasus Jalan Tapak 1-2 dan 3 Kota Ternate

YUSUF, Rais D. HI, Diananta Pramitasari, ST.,M.Eng.,Ph.D

2010 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur DKB

Ruang publik di kota-kota Indonesia tampak tak beraturan. Hal ini disebabkan karena ruang publik diperebutkan oleh banyak pihak, seperti pengguna jalan, pedagang kaki lima, pejalan kaki dan pengguna tempat parkir. Ruang terbuka publik Jalan Tapak 1-2 dan 3 merupakan tempat berkumpul masyarakat di Kota Ternate sehingga mendorong terjadinya konflik berbagai kepentingan yang tidak dapat dihindarkan. Wilayah tersebut selain berfungsi sebagai jalur sirkulasi juga digunakan sektor informal. Hal ini mendorong lahirnya upaya adaptasi perilaku terhadap perubahan lingkungan yang terjadi, sehingga terbentuk usaha teritorialitas guna mempertegas batas-batas fisik maupun non fisik yang berpotensi menyebabkan terjadinya konflik teritori penggunaan ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk konflik dan faktor-faktor yang mempengaruhi konflik pemanfaatan ruang terbuka publik yang di tinjau dari aspek teritori di Kawasan Jalan Tapak 1-2 dan 3. Pendekatan perilaku manusia dalam seting ruang publik, dilakukan terutama terkait masalah teritorialitas sebagai salah satu atribut perilaku. Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh langkahlangkah guna mengurangi konflik serta mengoptimalkan fungsi dari ruang terbuka tersebut. Obyek penelitian berupa pengamatan terhadap komponen ruang publik yaitu setting fisik ruang (milleu), Setting kegiatan (activities) dan perilaku manusia (setting social). Metode yang digunakan Place centered mapping, Person centered mapping, Time Budget method dan Kuesioner/wawancara (Interview). Hasil penelitian menunjukan bahwa konflik yang terjadi pada ruang terbuka publik jalan tapak 1-2 dan 3 Kota Ternate memiliki 3 level: 1).Konflik ringan terjadi pada penggal 2, 2).Konflik sedang terjadi pada penggal 3, dan 3).Konflik berat terjadi pada penggal 1. Kriteria yang dipakai untuk melihat level konflik yaitu: Fungsi spasial, Volume dan variasi aktifitas, Regulasi dan keterlibatan aktor. Sedangkan faktor-faktor terjadinya konflik yaitu: 1) Fungsi dominan aktifitas formal, 2) Adanya potensi pemandangan/view pantai dan laut. 3)Adanya akses masuk kawasan yang jelas, 4) Adanya ruang jalan yang tersedia cukup luas memicu parkir on-street, serta 5) Ketidakjelasan peraturan pemerintah yang mengatur penggunaan dan pemanfaatan ruang terbuka publik jalan Tapak 1-2 dan 3 Kota Ternate.

Public spaces in Indonesian cities have irregular shape. It is due to the public spaces are conflicted by many interest, such pedestrian, sidewalk-sellers, and parking area. The public open spaces at streets of Tapak 1-2 and 3 are public places on mass collection at Ternate City that causing conflict of interests which can not be avoided. Such area are functioned as both circulation route and also used by informal sector. It has impacted on behavior adaptation efforts toward the happened circumstance, which is then, formed territoriality effort to affirm both physical and/or non physical boundaries which potentially causing territorial conflict on open public space usage. This study is aimed to observe conflict formation and factors that influencing conflict on open space usage which reviewed from territorial aspect at streets area of Tapak 1-2 and 3. It is conducted human behavior approach in open public setting, actually that related to such territoriality issues as an behavior attribute. From this study, it is hoped to yield solution steps to decrease the conflict and to optimize function of such open public space. This object of this study is observation toward open public space components that are physical space setting (milleu), activities setting and human social setting. The used method is Place centered mapping, Person centered mapping, Time Budget method and questionnaire/Interview. The study result shown that the conflict of open public space which occurred on jalan Tapak 1-2 and 3 Ternate City had 3 levels: 1).light conflict that happened on fragment 2, 2) intermediate conflict that happened on fragment 3, and 3).severe conflict that happened on fragment 1. The criteria which were used to observe such conflict levels were: spatial function, volume and activities variation, regulation and actor involvement. While the factors which bringing conflict to occur were: 1) formal activities dominant function, 2) potential of existed view of coastal and sea. 3) existing of clear entrance access. 4) Existing of open public route that triggering on-street parking, and also 5) vagueness of government stipulations that regulating usage and utilization of the open public space on streets Tapak 1-2 and 3 of Ternate City.

Kata Kunci : Konflik,Teritori,Ruang terbuka publik, Conflict, Territory and Public Open Space


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.