Laporkan Masalah

Perempuan-perempuan tereklusi :: Proses eksklusi sosial perempuan-perempuan Salafi di Yogyakarta

ASTUTI, Emy Rubi, Dr. Pudjo Semedi

2010 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Perdebatan seputar kelompok Salafi saat ini banyak membahas tentang gerakan, teologi dan tujuan mereka untuk mendirikan negara Islam di dalam masyarakat multikultural. Beberapa kajian juga membahas tentang gerakan kelompok Salafi untuk membersihkan praktik keagamaan serta memerangi globalisasi dan kapitalisme. Bagaimanapun, kajian-kajian tersebut kurang menaruh perhatian kepada perempuan-perempuan Salafi serta partisipasi mereka dalam gerakan kelompok Salafi. Kurangnya kajian tentang perempuan Salafi menumbuhkan minat saya untuk mengkaji tentang hubungan mereka dengan kelompok masyarakat yang lebih luas. Proses eksklusi sosial perempuan-perempuan Salafi dapat dilihat dari perilaku-perilaku keagamaan sebagai bentuk dari proses embodiment pemahaman keagamaan mereka. Saba Mahmood (2005) berargumen bahwa proses embodiment selalu berhubungan dengan agensi yang memberi kekuatan kepada keinginan-keinginan individu/kelompok untuk mewujudkannya. Analisis selanjutnya bisa dilihat dengan apa yang disebut oleh Bryan Turner (2008) dalam “Acts of Piety” sebagai perilaku-perilaku kesalehan dan kode moral dari perempuan-perempuan Salafi. Kajian ini sangat menarik untuk melihat bagaimana dinamika perilaku kesalehan perempuan-perempuan Salafi dengan pemakaian cadar, kosmetik dan obat-obatan. Selain untuk melihat bagaimana dampak dari perilaku-perilaku kesalehan dan eksklusifitas perempuan-perempuan Salafi terhadap praktik kehidupan masyarakat di sekitar mereka, studi ini juga bertujuan untuk melihat bagaimana perbedaan-perbedaan dalam masyarakat multikultural harus dipahami. Penelitian ini juga berkontribusi untuk menganalisis bagaimana gerakan perempuan-perempuan Salafi melawan globalisasi serta usaha mereka untuk menempatkan posisi mereka dalam masyarakat multikultural.

Current debates around the Salafi have mostly addressed the movement, theology and their intention to build an Islamic state in a multicultural society. Scholars have mainly focused on the Salafi movement’s effort to purify religious teaching and fight against globalization and capitalism. However, they have given less attention to Salafi women, seen from their role in the movement. The lack of focus on Salafi women has aroused my interest to make a study of their relations with the larger communities. The study is analyzing the exclusive social practice of younger Salafi women who are college or university-level students in Yogyakarta. The social exclusion of student Salafi women can be examined from their religious practices as the embodiment of their religious understanding. Saba Mahmood (2005) argues that the process of embodiment is always related to the agency that empowers the individual/collective desire to realize it. Further analysis reveals what Bryan Turner (2008) in “Act of Piety” identifies as the ritual of intimacy, i.e. the ethical formation of Salafi women. It is interesting to see the dynamics of how the female Salafi students manifest their piety by their clothes, cadar, cosmetic, and medicine. Besides examining the impact of their ethical formation on the everyday practices of society around them, this study can shed light on how differences in multicultural society should be understood. In addition, it contributes to our understanding of the how Salafi young women’s movement challenges globalization and how they have reasserted their position in a multicultural society.

Kata Kunci : Eksklusi sosial,Kesalehan,Perempuan Salafi,Kosmetik,Obat,obatan,Cadar, social exclusion, piety, tertiary, Salafi women, cosmetics, medicine


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.