Peran pondok pesantren terhadap kemandirian ekonomi santri dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya :: Studi kasus Pondok Pesantren Al-Ittifaq Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung
MUTTAQIN, Rizal, Prof. Dr. Lincolin Arsyad, M.Sc
2010 | Tesis |Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang hari ini berusaha mengubah masa depan pesantren, bukan hanya mampu memproduksi kyai, da’i, ahli tafsir dan hadis serta pembaca kitab kuning, namun lebih dari itu, dengan perantara jalur pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berpengetahuan luas, menguasai segala bidang ilmu pengetahuan dan mampu memberdayakan potensi santri dan masyarakat. Kondisi seperti ini juga terjadi di Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Rancabali, Bandung. Pesantren Al-Ittifaq tidak hanya memfokuskan pada penanaman nilai-nilai spiritualiatas santri (tafaqquh fi al-din), tetapi juga fokus pada aktivitas ekonomi atau bisnis yang cukup maju bahkan menjadi model pesantren yang mandiri dan berhasil melibatkan partisipasi masyarakat. Dengan kondisi yang demikian, pesantren Al-Ittifaq melalui program-program yang diterapkan, dengan kyai di dalamnya, dapat dikatakan berperan sebagai mediator, motivator dan dinamisator bagi transformasi ilmu keagamaan dan ilmu umum atau sosial pada para santri yang terefleksikan dalam tingginya tingkat spiritualitas dan kemandirian santri serta termanifestasikan dalam bentuk perubahan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis model pembinaan kemandirian ekonomi santri dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, hubungan antara motivasi piritual dan kepemimpinan kyai dengan kemandirian ekonomi santri dan hubungan pembinaan yang dilakukan pesantren dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan sekaligus, pendekatan kualitatif dan kuantittif (mixed methodology). Data kulitatif dianalisis dengan analisis deskriptif-fenomenologis, sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan analisis korelasi Spearman Rank dan Kendall Tau. Penelitian ini menghasilkan empat kesimpulan. Pertama, model kemandirian ekonomi santri dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan pesantren Al-Ittifaq. Kedua, berdasarkan analisis korelasi Spearman Rank dan Kendall Tau dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel motivasi spiritual (motivasi akidah, motivasi ibadah dan motivasi muamalah) dengan variabel kemandirian ekonomi santri. Artinya, apabila motivasi spiritual santri tinggi, maka tingkat kemandirian ekonomi santri akan semakin tinggi pula. Ketiga, hasil kedua analisis tersebut juga membuktikan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel kepemimpinan kyai dengan variabel kemandirian ekonomi santri. Artinya, kepemimpinan kyai sangat berpengaruh terhadap pembentukan kemandirian ekonomi santri. Keempat, dengan menggunakan dua analisis tersebut juga diketahui bahawa terdapat hubungan yang positif antara variabel pembinaan yang dilakukan pesantren dengan variabel pemberdayaan ekonomi masyarakat. Artinya, pembinaan yang dilakukan pesantren mempunyai hubangan dan berdampak positif tehadap pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar pesantren.
Pesantren is the oldest institution of Islamic education in Indonesia. Today, Pesantren begins to reform the goals of its education system, it’s not only concern to form the cadres of kyai, preachers, scholars of tafsir and hadith or the kitab kuning reader, but more than those, pesantren is able to produce knowledgeable human resources, mastering all areas of science and able to empower the potential of students and communities. This atmosphere has been conditioned at Al-Ittifaq religion boarding school, Rancabali, Bandung. Al-Ittifaq religion boarding school not only focused on inculcation of students spirituality values (tafaqquh fi al-din), but also focused on advanced economic or business activities that even to be a model of an independent pesantren (religion boarding school) and succeeded in involving community participation. With such conditions, by applied programs, with the kyai who has a role, Al-ittifaq can be called as mediator, motivator and dynamist for the transformation of religious and social sciences which is reflected in the students (santri) spirituality and autonomy, manifested in the form of social change and economic empowerment of the community. This Research aims to criticize the coaching model of the student’s economic autonomy and community economic empowerment, the correlation of spirituality motivation (akidah, ibadah, and muamalah motivation) and kyai leadership with student’s economic autonomy and the correlation of coaching that is carried out by the pesantren with community economic empowerment. This research uses qualitative and quantitative methodology (mixed methodology). The qualitative data are analyzed by descriptive-phenomenological analysis and the quantitative data are analyzed by Rank’s Spearman and Kendall Tau correlation analysis. This Research generates four conclusions. First, the activities in pesantren Al-Ittifaq build a model of student’s economic autonomy and community economic empowerment. Second, based on Rank’s Spearman and Kendall Tau correlation analysis, it results a positive and significant correlation between the variables of spiritual motivation and variable of the student’s economic autonomy. It means if the spiritual motivation of the students is high, then the level of economic autonomy is high too. Third, according to the two analyses above, this research finds a positive and significant correlation between kyai leadership variables and students economic autonomy variables. It means kyai leadership is very influential in building the economic autonomy of students. Fourth, by using two analyses above, there is a positive relationship between coaching variables and community economic empowerment variables. It means that coaching has a positive impact to economic empowerment of communities.
Kata Kunci : Pesantren,Spiritualitas,Kepemimpinan Kyai,Kemandirian ekonomi,Pemberdayaan ekonomi masyarakat, Pesantren, Spirituality, Kyai Leadership, Economic Autonomy, Economic Empowerment of the Community