Laporkan Masalah

Pengaruh sosial budaya terhadap partisipasi masyarakat dalam penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang

SHAMADIYAH, Nurasih, Prof. Dr. Ir. Sunarru samsi Hariadi, MS

2010 | Tesis |

Penyakit-penyakit yang disebabkan lingkungan kotor masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Pemerintah Indonesia mempunyai komitmen sangat kuat untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs), yaitu menurunnya jumlah penduduk yang belum mempunyai akses air minum dan sanitasi dasar sebesar 50 % pada tahun 2015. Salah satu program pemerintah yang menekankan kepada perbaikan sanitasi lingkungan di pedesaan ialah program WSLIC-3/PAMSIMAS, salah satu program dan aksi nyata pemerintah (pusat dan daerah) dengan dukungan Bank Dunia, untuk meningkatkan penyediaan air minum, sanitasi, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama dalam menurunkan angka penyakit diare dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui air dan lingkungan. Seluruh proses perencanaan Pamsimas seperti pemilihan kebutuhan air dan pelaksanaan kegiatan menyertakan partisipasi aktif masyarakat, tidak terkecuali kaum perempuan. Hal ini sebagai pengejawantahan atas pemenuhan kebutuhan masyarakat atas sarana air minum dan sanitasi, sehingga diharapkan sarana yang terbangun dipelihara dan dikelola oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode campuran antara metode penelitian kuantitatif dengan metode penelitian kualitatif. Mengingat luasnya cakupan wilayah program Pamsimas, maka penelitian ini akan membatasi daerah telaahnya di Dusun Kalisari dan Tubansari, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Dari Dusun Kalisari dan Tubansari, masing-masing akan ditarik secara acak 160 orang responden. Faktor-faktor sosial budaya mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) adalah pendidikan, upaya kesehatan masyarakat, norma masyarakat, pengetahuan tentang sanitasi, dan persepsi tentang Pamsimas. Partisipasi masyarakat dalam program Pamsimas pada tahap pelaksanaan menajdi partisipasi yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat, yaitu sebesar 53,60%. Hal ini dikarenakan masyarakat lebih senang untuk bekerja langsung daripada ikut berpikir dalam pertemuan yang hanya bisa duduk, diam, berpikir, dan mendengarkan. Masyarakat juga menganggap bahwa partisipasi dalam tahap pelaksanaan adalah partisipasi yang sebenarnya karena mereka terjun langsung bersama-sama untuk sebuah tujuan. Masyarakat telah berperilaku sanitasi yang baik, seperti untuk kebutuhan memasak, mencuci, dan mandi mereka juga telah menggunakan air bersih. Untuk kebutuhan buang air besar sedikit demi sedikit berkurang karena masyarakat sedikit demi sedikit telah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku sanitasi ini dipelajari melalui penyuluhan kesehatan. Partisipasi dalam Pamsimas juga berpengaruh karena masyarakat menjadi lebih dapat mempelajari dan mempraktekkan dengan adanya sarana Pamsimas.

Diseases caused by dirty environment remains a major cause of death in Indonesia. Even in those infants and toddlers, environment-based diseases contributed over 80% of the illnesses suffered by infants and toddlers. The Indonesian government has a very strong commitment to achieving the Millennium Development Goals (MDGs), namely the declining number of people who do not have access to drinking water and basic sanitation by 50% in 2015. One government program that emphasizes the improvement of environmental sanitation in rural areas is WSLIC-3/PAMSIMAS program, one of the programs and real actions of government (central and local) with World Bank support, to improve drinking water supply, sanitation, and improving community health status especially in reducing diarrheal diseases and other diseases transmitted through water and the environment. The whole process of planning such as the selection PAMSIMAS water requirements and implementation of activities include active participation of society, women are no exception. This is a manifestation of community needs for drinking water and sanitation facilities, so hopefully that means waking maintained and managed by the community. This research used a mixture of quantitative research methods with qualitative research methods. Given the wide scope of territory PAMSIMAS program, then this study will limit his study area in the hamlet Kalisari and Tubansari, Margoyoso Village, District Salaman, Magelang regency. From Hamlet Kalisari and Tubansari, each will be drawn at random 160 people respondent. Socio-cultural factors affecting community participation in drinking water programs and community-based sanitation (PAMSIMAS) are education, public health efforts, community norms, knowledge of sanitation, and perceptions about PAMSIMAS. Public participation in the program PAMSIMAS participation in an advanced stage of implementation which are mostly done by people, that is equal to 53.60%. This is because people prefer to work directly rather than participate in a meeting thinking that can only sit, silent, thinking, and listening. Communities also considers that participation in the implementation phase is the actual participation because they work directly together for a purpose. Communities have been behaving good sanitation, such as for the needs of cooking, washing, and bathing them also have been using clean water. For the needs of defecation gradually reduced as society gradually has implemented a clean and healthy living behavior. Sanitation behavior is learned through health education. Participation in PAMSIMAS also become more influential because people can learn and practice with the means PAMSIMAS.

Kata Kunci : Participation,PAMSIMAS,Behavior


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.