Fungsi dan makna panggih dalam ritual perkawinan di Kabupaten Magelang, sebuah kajian dramaturgi
ZAIDAH, Nuning, Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U
2010 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaRitual perkawinan adat Jawa Tengah ditandai dengan ritual panggih sebagai puncak dari rangkaian acara. Sebagai sesuatu yang diharapkan berlangsung sekali seumur hidup, ritual dirancang dengan memperhatikan setiap aspek dan menghindari kesalahan agar tercipta menjadi sebuah ‘pertunjukan’ yang menghasilkan citra yang harmonisbagi kehidupan selanjutnya Kaidah dramaturgi dipergunakan untuk melakukan penelitian terhadap ritual panggih karena ritual panggih dianggap memiliki struktur dan tekstur.Pada saat yang bersamaan,dramaturgimenggali segala macam interaksi yang dilakukan manusia dalam pertunjukan kehidupan masyarakat sehari-hari.Pada sisi lain, ritualpanggih merupakan proses liminal.Dalam ritual panggih, subjek mengalami situasi yang ambigu yang melahirkan sugesti pada kehidupan baru, trasformasi dari kondisi tertentu berharap pada kondisi yang diinginkan.Ritual panggih sebagai puncak rangkaian acara perkawinan terdiri dari balangan gantal, wijikan,mecah ponang antigan merupakan gambaran masyarakat bebas struktur.Berbagai tanda yang ada dalam rangkaian ritual panggih merupakan unsur yang penting untuk dimaknai karena ritual panggih adalah sebuah entitas multi lapis. Untuk memahami makna tiap lapisan tersebut, dipergunakan pendekatan semiotika.Pendekatan semiotika menempatkan posisi semiotik sebagai hal yang di tranformasi dari yang natural menjadi artifisial.
The central Java’s wedding ceremony is marked by panggih ritual as a climax of the ritual series. As such a thing on which being expected to be once in a life time; the ritual is perfectly prepared in order to minimize the mistakes and created such “performance†which obtains the harmonious image for the couple future’s life. Dramaturgy’s role has been applied in doing the research toward the panggih ritual since the ritual is assumed to have structure and texture. In the mean time, dramaturgy explores all kind of interactions of human being in the performance of society in everyday life.In the other hand, panggih ritual is a liminal process where the subject of the ritual experienced the ambiguous situation and persuaded toward new life, transformed from certain condition toward expected one. As a climax of the wedding’s ritual procession, panggih contains of balangan gantal, wijikan, mecah ponang antigan, and these were the description of anti-structure community.Signs which exist on the series of panggih ritual is important to understand since it was a multi-layered entities. To understand the meaning of each sign, the semiotic approach is necessary. This approach puts the semiotic position as a transformation of natural to become artificial.
Kata Kunci : Ritual panggih,Dramaturgi,Liminalitas,Entitas multi lapis