Tanggapan beberapa sifat fisiko-kimia gambut ombrogen Kabupaten Siak terhadap proses pengeringan dan pembasahan
DHARMAWATI, Nisrina, Dr.Ir. Benito Heru Purwanto, M.P.,M.Agr.Sc
2010 | Tesis | S2 Ilmu TanahPenelitian ini bertujuan untuk menentukan batas bawah kadar lengas gambut saprik, hemik, dan fibrik yang telah dikeringkan yang masih dapat mengalami pembasahan kembali (rewetting) dan menentukan waktu pengeringan tersebut untuk mencapai keadaan itu dengan perlakuan suhu pemanasan 30, 60, dan 105 0C. Mengetahui ada tidaknya pengaruh pengeringan pada suhu tersebut terhadap sifat fisiko-kimia gambut saprik, hemik, dan fibrik, mengamati tingkat humifikasi gambut secara analisis spektroskopis dengan Ultra Violet Visible (UV VIS) dan gugus fungsional karbon dengan Fourier Transform Infra Red (FTIR), dan mengamati sejauh mana peranan air laut dan aquades yang dicampurkan ke dalam gambut yang telah dikeringkan dapat mempengaruhi sifat fisiko-kimia dan spektroskopis gambut pada proses pembasahan kembali (rewetting). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan tanah, serta Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dari bulan Februari-Juni 2010. Ada lima tahapan dalam analisis yang dilakukan sebagai pendekatan. Tahap I adalah pengklasifikasian jenis gambut yang didasarkan pada tingkat perkembangannya yakni saprik, hemik, dan fibrik. Tahap II adalah analisis terhadap sifat fisiko-kimia gambut (kadar lengas, kandungan bahan organik, daya hantar listrik, kemasaman tertukar (Al-dd dan H-dd), kemasaman total (OH-fenolat dan gugus COOH), kapasitas pertukaran kation (KPK), pH H2O, pH KCl) dan analisis spektroskopis gambut dengan FTIR pada kondisi asli (Parameter I). Tahap III dilanjutkan dengan pengeringan terhadap ketiga jenis gambut tersebut pada suhu tersebut sampai diperoleh kadar lengas gambut 200% (berdasarkan berat kering mutlak) kemudian dilakukan analisis sifat fisiko-kimia dan spektroskopisnya (Parameter II). Tahap IV adalah perendaman ketiga jenis gambut yang telah dikeringkan sampai kadar lengasnya 200% selama 2 minggu kemudian dilakukan analisis sifat fisiko-kimia dan spektroskopisnya (Parameter III). Tahap V adalah membandingkan antara hasil Parameter I, II, dan III dengan menggunakan analisis statistik secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas bawah kadar lengas gambut saprik, hemik, dan fibrik yang telah dikeringkan pada saat dapat mengalami pembasahan kembali (rewetting) terjadi pada kadar lengas 200%. Gambut saprik, hemik, dan fibrik agar mencapai kondisi batas bawah kadar lengas yang masih dapat basah kembali pada suhu pengeringan 30 0C diperoleh dari pengeringan 12 jam. Sedangkan perlakuan pengeringan pada suhu 60 0C membutuhkan waktu 21 jam untuk gambut saprik, 18 jam untuk gambut hemik, dan 19 jam untuk gambut fibrik. Pengeringan pada suhu 105 0C membutuhkan waktu 7 jam untuk gambut saprik dan fibrik, sedangkan gambut hemik membutuhkan waktu 6 jam. Pengaruh pengeringan gambut saprik, hemik, maupun fibrik pada suhu 30, 60, dan 105 0C memberikan hasil analisis sifat fisiko-kimia gambut yang tidak berbeda secara tegas (pengaruhnya tidak tampak), dengan syarat kadar lengas pada perlakuan ketiga suhu tersebut dalam kondisi yang sama (200%). Hasil analisis Fourier Transform Infra Red (FTIR) menunjukkan adanya gugus-gugus karboksil dan hidroksil yang terkait dengan sifat gambut setelah dikeringkan dan dibasahkan kembali dengan aquades dan air laut. Pengamatan sifat spektroskopis gambut dengan UV-VIS dapat menunjukkan tingkat humifikasi gambut melalui rasio warna E4 /E6. Air laut dalam penelitian ini dapat berperanan dalam meningkatkan luas areal peak selulosa yang dikandung oleh gambut saprik, hemik, dan fibrik setelah gambut tersebut dikeringkan, sehingga air laut dapat digunakan sebagai amelioran. Sedangkan penggunaan aquades dapat meningkatkan luas areal peak polisakarida, kandungan asam organik bebas, dan selulosa pada gambut.
The objectives of this research were to determine the lower limit of moisture content and heating period of sapric, humic and fibric wettable- heated peat, by heating in 30, 60, and 105 °C, to determine the effect of heating treatments to the physico-chemical properties of sapric, humic and fibric peats, to observe humification rate of peats by spectroscopic analysis using Ultra Violet Visible (UV-VIS) to detect the presence of C functional group using Fourier Transform Infra Red (FTIR), and to observe the effects of sea water and aquadest compounding to heated peats, related to their physico-chemical and spectroscopic properties in the rewetting process. Research was carried out at Soil Chemistry and Fertility Laboratory, and Soil Physical Laboratory, Soil Department of Agriculture Faculty, GMU. Research was carried out from February until June 2010. There were five steps used as analytical approaches. The first step, was the classification of peats based on their development level, e.g. sapric, humic and fibric. The second step, physico-chemical analysis to the properties of peats in the original condition (Parameter I), e.g. moisture content, organic matter content, electrical conductivity, acidity exchange, total acidity, cation exchange capacity, and spectroscopic analysis. The third step was drying treatment with 3 different temperatures i.e. 30, 60 and 105 °C until 200% of moisture content was reached, and followed by physico-chemical and spectroscopic analysis as Parameter II. The fourth step was the rewetting of whole of dried-peats until 200% moisture content was reached during 2 weeks (as Parameter III) and also followed by physico-chemical and spectroscopic analysis. The fifth step was comparing all data collected among all conditions for parameter I, II and III, followed by descriptive statistical analysis. The result showed that the lower limit of moisture content of sapric, humic and fibric of dried-peats that could be rewetted at 200% moisture content condition, was achieved in 12 hours for the 30 0C heating. On the other hand, heating treatment in 60 °C needed 21 hours (for sapric peat), 18 hours (for humic peat) and 19 hours (for fibric peat) for being possible to be rewetted. However, treating peats by heating in 105 °C needs only 7 hours (for sapric and fibric peat) and 6 hours (for humic peat). It could be concluded that heating those types of peat (under 30, 60 and 105 °C temperatures) gave only insignificant effect on physico-chemical properties until 200% moisture content was reached. Results of Fourier Transform Infra Red (FTIR) analysis were able to show carboxyl and hydroxyl groups related to the peat properties after heating and rewetting processes using sea water and aquadest. Observation by spectroscopic method on peats using UV-VIS, had been able to show the humification of peat by colour ratio E4/E6. Sea water in this case could be used as ameliorant agent to increase band width of cellulose groups in those three types of dried-peat. On the other hand, soaking peat with aquadest could improve band width of polysacharide, free organic acid and cellulose content.
Kata Kunci : Fisiko,kimia,Pengeringan,Pembasahan,Saprik,Hemik,Fibrik,Gambut ombrogen