Laporkan Masalah

Pengaruh penggunaan lahan terhadap respirasi tanah entisol di KP4 UGM Kalitirto Kabupaten Sleman DIY

ARIFIN, Zaenal, Prof. Dr. Ir. Bambang H. Sunarminto, SU

2010 | Tesis | S2 Ilmu Tanah

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan respirasi tanah Entisol yang digunakan untuk lahan pertanian dan hutan, untuk mengetahui neraca keseimbangan CO2 pada Entisol yang ditanami kacang tanah, dan untuk mengetahui kualitas tanah sebagai akibat penggunaan dan pengelolaan lahan. Penelitian meliputi dua seri percobaan yaitu pengukuran laju respirasi tanah di lapangan pada Entisol lahan pertanian tebu (Saccharum officinarum) dan hutan, dan pengukuran laju emisi CO2 pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) dalam pot jenis tanah Entisol di rumah kaca. Laju respirasi tanah sangat dipengaruhi oleh suhu dan lengas tanah. Kedua faktor lingkungan tersebut selain dipengaruhi oleh curah hujan, juga sangat dipengaruhi jenis vegetasi yang tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju respirasi tanah terendah pada musim kemarau yaitu 47,84 g CO2 m-2 jam-1 pada lahan pertanian dan 92,40 g CO2 m-2 jam-1 pada lahan hutan. Laju respirasi tanah tertinggi terjadi pada musim hujan yaitu 450,90 g CO2 m-2 jam-1pada lahan pertanian dan 341,93 g CO2 m-2 jam-1pada lahan hutan. Nilai Indeks Kualitas Tanah (IKT) menunjukkan bahwa Entisol hutan mempunyai kualitas tanah lebih baik dengan nilai IKT yaitu 0,38 dibandingkan dengan Entisol lahan pertanian dengan nilai IKT yaitu 0,24. Kualitas tanah akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang tanah. Kacang tanah yang di tanam pada Entisol hutan mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dengan neraca keseimbangan karbon yaitu -7,25 g CO2 m-2 jam-1, dibandingkan dengan kacang tanah yang di tanam pada Entisol lahan pertanian dengan neraca keseimbangan karbon yaitu -193,72 g CO2 m-2 jam-1. Lahan pertanian mempunyai potensi untuk mengurangi emisi CO2 dengan perbaikan tehnik pengelolaan lahan sehingga kualitas tanah dapat dipertahankan atau ditingkatkan.

The objective of this research was: (1) To compare the rate of soil respiration of Entisol under agricultural land with sugarcane plants ( Saccharum officinarum) and forested land, (2) To know CO2 balance by measuring CO2 emission from green house experiment with peanut (Arachis hypogea) growing on Entisols, and (3) To know the level of soil quality influenced by soil use and management. This study included two series of experiments which measured the rate of soil respiration in the field on Entisol under sugar cane (Saccharum officinarum) and forest, and measured the rate of CO2 emissions under peanut (Arachis hypogaea) in a greenhouse. Rate of respiration was highly affected by soil temperature and water content, where both were affected by rainfall and vegetation type. Results of this study showed that the lowest respiration rate for agricultural and forested land observed during dry season, were 47.84 g CO2 m-2 hour-1 and 92.40 g CO2 m-2 hour-1, respectively. On the other hand, the highest respiration rate was found in rainy season, namely 450.90 and 341.93 g CO2 m-2 hour-1, respectively. The soil quality index of forested and agricultural land were 0.38 and 0.24, respectively, which mean that soil quality under forested land was better than that of agricultural land. Better peanut growth was observed under soil from forested land. Meanwhile, carbon balance of soil from forested land was -7.25 g CO2 hour- 1.m-2 and from agricultural land was -193.72 g CO2 m-2 hour-1. This indicates that improving soil management on agricultural land can potentially reduce CO2 emission, therefore soil quality can be maintained or even be improved.

Kata Kunci : Penggunaan lahan,Respirasi tanah,Emisi CO2,Kualitas tanah,Entisol


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.