Evaluasi proses perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur
KUMILA, Benyamin, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD
2010 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang. Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur adalah “Masyarakat Kotawaringin Timur yang Mandiri untuk Hidup Sehat“. Untuk mencapai visi tersebut dibutuhkan SDM kesehatan baik, jumlah maupun kualifikasi yang sesuai dengan pembangunan kesehatan daerah. Oleh karenanya fungsi perencanaan SDM kesehatan sangat penting karena daerah berperan untuk merencanakan kebutuhan SDM kesehatan yang riil untuk mangatasi masalah inequtable distribution dan maldistribution sehingga visi pembangunan kesehatan tercapai. Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur, untuk mengetahui metode yang digunakan dalam perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan dan untuk mengetahui kerjasama (koordinasi) antara Dinas Kesehatan dengan Rumah Sakit dan Puskesmas dalam merencanakan kebutuhan tenaga kesehatan (perencanaan secara bottom-up). Metode. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus deskriptif, dengan metode penelitian kualitatif untuk mengevaluasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth interview) dan cek dokumen. Wawancara dilakukan kepada pengelola perencanaan Dinas Kesehatan, Puskesmas dan RSUD. Hasil. Proses perencanaan SDM Kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur belum dikelola secara optimal karena belum dilakukan analisa kebutuhan SDM Kesehatan secara ilmiah. Metode perencanaan yang digunakan Puskesmas dan Dinas Kesehatan adalah DSP sesuai pedoman dari Depkes, namun tidak sepenuhnya dikerjakan karena ketidakmampuan SDM untuk mengaflikasikannya. RSUD belum menggunakan metode sesuai pedoman dari Depkes. Koordinasi Puskesmas dengan Dinas Kesehatan bersifat hirarkis sehingga keputusan pengelolaan lebih sentralistik di Dinas Kesehatan sebagai atasan Puskesmas, sedangkan koordinasi antara Dinas Kesehatan dengan RSUD belum terjalin sehingga sering terjadi konflik kepentingan. Kesimpulan. Penyusunan perencanaan SDM Kesehatan di Kotawaringin Timur tidak efektif karena keterbatasan penguasaan metode dan lemahnya koordinasi antar bagian.
Background. The vision of district health office of East Kotawaringin is “The Independent East Kotawaringin Community for Healthy Livingâ€. In order to achieve the vision, a qualified human resource is needed with total number that adjusted with regional health development. Therefore, the function planning of human resources in health is necessary as regional has the role to plan in solving the problem of inequtable distribution and maldistribution so that vision of health development is achieved. Objective. This research was aimed to find out how is the planning process of health care provider in the district of East Kotawaringin, find out the method to be used in the planning of health care provider need and find out coordination between health office with hospital and Primary Health Care in planning the need of health care provider (bottom up planning) Method. This was a descriptive case study research with qualitative method that was aimed to evaluate the planning of health care provider need in the district of East Kotawaringin. The primary data was obtained with in depth interview and document check. Interview was conducted toward the planning of health office, Primary Health Care and regional owned hospital. Result . The planning process of health human resources in the district of East Kotawaringin was not optimally organized because the need analysis of human resources was not yet conducted academically. The planning method in Primary Health Care and health office was DSP that suitable with the guidance from Department of Health and yet not implemented generally because of human resources disability to applied. Government Owned Hospital was not using method that suitable with guidance from Department of Health. Primary Health Care coordination with Health Office was hierarchy so that management decisión was more centralistic in health office as higher institution than Primary Health Care while coordination between health office and regional government owned hospital was not yet implemented as there was conflict of interest occurred. Conclusion. The arrangement of human resources in health in East Kotawaringin was not effective as the limitation of method control and the weakness of coordination among divisions.
Kata Kunci : Perencanaan,Tenaga kesehatan,Evaluasi, Planning, Health Care Provider, Evaluation