Faktro risiko penularan sipilis pada wanita penjaja seks (WPS) di lokalisasi Dolly Surabaya
SUWANDI, Amad, dr. Satiti Retno Pudjiati, SpKK(K)
2010 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Infeksi Menular seksual adalah penyakit yang penularannya melalui hubungan seks. Salah satu dari IMS adalah sifilis yang masih menjadi masalah kesehatan hingga saat ini. Angka prevalensinya di kota Surabaya tahun 2008 sebesar 8,5% pada WPS langsung dan tidak langsung. Tujuan : Untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit sifilis pada WPS lokalisasi Dolly Surabaya. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan “cross sectionalâ€. Subjek penelitian adalah Wanita Penjaja Seks (WPS) dengan sampel darah jari tangan kiri sebanyak 165, diperiksa secara langsung untuk mendapatkan penyakit sifilis dengan Rapid Test. Pengambilan sampel secara “Random samplingâ€. Variabel bebas pada penelitian ini adalah umur, masa kerja, tingkat pendidikan, pengetahuan, pendapatan, fasilitas pelayanan kesehatan, keterjangkauan pelayanan kesehatan, jumlah pelanggan, aktifitas seksual dan pemakaian kondom. Sedangkan variabel terikatnya adalah penyakit sifilis Hasil : Prevalensi sifilis di Lokalisasi Dolly sebesar 7,3%. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa aktifitas seksual (Ï = 0,000 & OR = ,17,187), dan pemakaian kondom (Ï = 0,013 & OR = 7,983) ada hubungan yang bermakna dengan kejadian sifilis pada WPS di Lokalisasi Dolly Surabaya. Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna antara aktifitas seksual dan pemakaian kondom dengan penyakit sifilis pada wanita penjaja seks (WPS) di Lokalisasi Dolly Surabaya.
Background: Syphilis is mainly transmitted through sexual intercourse and until today itâ€s still a major public health problem. Female sexual workers are the group most at risk for syphilis. The prevalence rate of syphilis among female sex workers at Surabaya Municipality either directly and indirectly is 8.5%. Objective: To identify the prevalence and risk factors associated with syphilis among female sex workers at Dolly Localization Area Surabaya. Method: The study was observational with cross sectional design. Subject of the study were female sex workers at Dolly Localization Area Surabaya. The independent variables were age, duration in working, education, knowledge, income, health service facilities, access to health facilities, number of customers, sexual activities, and use of condom. The dependent variables was syphilis. Result: The prevalence of syphilis was 7.3%. The result of multivariate analysis showed that sexual activities (p=0.001 and OR=17.187) and use of condom (p=0.013 and OR=7.983) were risk factors most dominantly affecting the prevalence of syphilis. Conclusion: There was significant association between sexual activities and use of condom and syphilis in female sex workers at Dolly Localization Area Surabaya.
Kata Kunci : Faktor risiko,Sifilis,Wanita penjaja seks,Lokalisasi Dolly