Laporkan Masalah

Determinan minat pekerja rumah tangga (PRT) untuk membayar premi asuransi kesehatan

NURHADI, Prima Ihsan, DR. drg. Julita Hendrartini, M.Kes

2010 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan salah satu pilihan pekerjaan terutama bagi perempuan di tengah situasi perekonomian dan lapangan pekerjaan yang semakin sulit. Umumnya PRT tidak mendapatkan tunjangan kesehatan dari majikannya. Tidak jarang PRT yang sakit akibat beban kerja yang dihadapinya padahal jika PRT sakit maka secara tidak langsung akan terganggunya pekerjaan rumahnya dan berarti akan merugikan majikannya itu sendiri. Untuk itulah wacana kebutuhan asuransi kesehatan bagi PRT cukup penting. Melalui asuransi kesehatan setidaknya PRT juga mendapat kesempatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai saat dibutuhkan dan pada masa mendatang. Tujuan: Untuk mengetahui determinan minat PRT untuk membayar premi Asuransi Kesehatan di rumpun Tjoet Njak Dien. Metode: Jenis penelitian ini adalah metode kuantitatif yang diperkuat dengan metode kualitatif, data diperoleh dengan kuesioner dan wawancara mendalam. Responden dalam penelitian ini adalah PRT di Yogyakarta, RTND, Majikan PRT, dan Dinas sosial dan tenaga kerja. Hasil: PRT yang bekerja di wilayah DIY umumnya berpendidikan tamat SD (40%), didominasi oleh mereka yang berumur 30-40 tahun (52,3%). PRT ini ratarata telah menikah (52,3%) dan secara umum memiliki beban tanggungan anak (90,8%). PRT yang bekerja di wilayah DIY juga mayoritas bekerja secara full time (81,5%) dan 18,5% bekerja secara paruh waktu (datang pagi-pulang sore). Secara umum pendapatan yang diperoleh PRT yang bekerja di wilayah DIY masih tergolong rendah yaitu berkisar antara Rp.200.000-400.000 per bulan, ini kemungkinan besar dikarenakan adanya ketimpangan antara kesempatan kerja dan angkatan kerja yang tersedia di DIY. Minat PRT mau membayar premi asuransi karena mempunyai persepsi yang baik tentang manfaat dan mutu program dimasa mendatang, hal ini juga didukung oleh persepsi majikan maupun RTND selaku pihak yang berhubungan langsung dengan PRT di wilayah DIY. Ada perbedaan antara kemampuan PRT membayar premi dengan kemauan PRT membayar premi, kemampuan mereka sebesar Rp. 22.154 sedangkan kemauan mereka membayar premi hanya sebesar Rp.2.500-5.000. Faktor umur, pendidikan, status kawin, lama kerja, status tempat tinggal, penghasilan, beban tanggungan, status kerja maupun lama bekerja tidak mempengaruhi minat mereka mau membayar premi asuransi tersebut. Kesimpulan: Perlu adanya standarisasi kerja PRT di wilayah DIY termasuk rencana program asuransi kesehatan khusus bagi PRT dimana premi yang dikenakan tidak lebih besar dari Rp.5.000.

Background: Generally household workers (PRT) do not get health insurance from their employers. Quite often PRT get ill due to their workload. When they get ill their housework will indirectly be disrupted and this means that employers will be on a disadvantage. Therefore it is necessary to study the need for health insurance in PRT. Objective: To identify determinants of the interest of PRT to pay health insurance premi at Tjoek Nyak Dien non government organization (RTND). Method: The study used quantitative and qualitative methods. Data were obtained through questionnaire and indepth interview. Respondents of the study were PRT at Yogyakarta, RTND, employers of PRT and Social and Manpower Office. Result: PRT working in the area of Yogyakarta Special Territory mainly (40%) were elementary school graduates, between 30-40 years old (52.3%), married (52.3%) and had child dependants (90.8%). Most of them worked part time from morning to evening (81.5%) and the rest worked full time (18.5%). Income of PRT working in Yogyakarta Special Territory belonged to low category, between Rp. 200.000 – Rp. 400.000/month. This might be due to a gap between employment and workforce available in the area. PRT had an interest to pay insurance premi because they had good perception about the benefit and quality of the program in the future. There was difference between ability of PRT to pay and willingness to pay premi; ability as much as Rp 22.154 whereas willingness to pay as much as Rp 2.500 – Rp. 5.000. Factor of age, education, marital status, length in occupation, status of accommodation/residency, income, dependants, occupational status did not affect interest of PRT to pay insurance premi. Conclusion: There needed to be a standardized work of PRT at the area of Yogyakarta Special Territory including health insurance program planning particularly for PRT whereby the premi was not more than Rp 5,000.

Kata Kunci : PRT,Minat,Kemampuan membayar iur biaya premi asuransi kesehatan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.