Laporkan Masalah

Pembiasaan dalam praktik perkawinan dini :: Di Desa Labean Kecamatan Balaesang Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah

DEWI, Citra, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum,DEA

2010 | Tesis | S2 Antropologi

Dilatar belakangi oleh maraknya kasus-kasus perkawinan dini, mendorong penelitian ini dilakukan. Rumusan masalah yang dikemukakan adalah pertama bagaimana struktur sosial budaya memberi makna perkawinan dini?; kedua bagaimana relasi sosial gender mengkonstruksikan perkawinan dini?. Penelitian lapangan dilakukan pada bulan Februari-April 2010, dengan tekhnik pengumpulan data kualitatif, melalui partisipasi aktif dalam setiap kegiatan dan kehidupan sehari- hari pelaku perkawinan dini. Selanjutnya disajikan dalam bentuk tulisan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor nilai- nilai kultural yang telah mengakar di masyarakat memaknai perkawinan dini. Antara lain Prinsip perkawinan endogami,konsep kedewasaan yang ditandai dengan menstruasi bagi anak perempuan. Nilai yang dilekatkan pada anak, bahwa anak perempuan adalah simbol kehormatan bagi keluarga, anak perempuan rentan dengan rasa malu (sirri/ea), serta pandangan yang menganggap bahwa memelihara anak perempuan adalah beban, mendorong praktik pekawinan dini semakin tumbuh subur. Masyarakat cenderung menganggap bahwa setiap orang tua memiliki hak atas anak-anaknya. Kekerasan yang dialami anak, baik fisik maupun psikis bahkan kekerasan seksual juga menjadi alasan mengapa mereka mau melakukan perkawinan dini. Selain itu, melakukan perkawinan demi status sosial, tingkat pendidikan yang rendah serta perilaku seksual remaja. Ikut mendorong praktik perkawinan dini. Hal ini semakin bertahan lama karena didukung oleh pranata sosial. Proses pencatatan perkawinan kemudian direkayasa dengan cara menambahkan umur, sehingga tidak bermasalah ketika pengurusan izin dan surat nikah. Relasi antara suami istri dalam perkawinan dini, adalah relasi dengan bias gender. Laki- laki atau pihak suami dianggap memiliki hak yang lebih untuk memperlakukan istrinya secara bebas termasuk tindak kekerasan serta beban pekerjaan domestik. Meskipun demikian tidak semua anak perempuan ditempatkan pada posisi yang tidak menguntungkan, atau semata-mata sebagai objek dari perkawinan dini. Pandangan sebagian masyarakat yang mengkategorikan perempuan adalah makhluk yang lemah tidak sepenuhnya benar, hal ini dapat dilihat dari persepsi beberapa remaja. Mereka memilih untuk berkarir atau melanjutkan pendidikan ketimbang menikah di usia dini. Oleh karena itu, perubahan sikap dalam keluarga serta masyarakat sangat dibutuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan dan dukungan yang seluas- luasnya kepada setiap anak, untuk menempuh pendidikan, dan yang lebih penting memastikan bahwa anak adalah harta yang berharga tanpa membedakan jenis kelamin dalam keluarga maupun masyarakat.

Considering the increasingly prevalent young marriage, it was necessary to conduct the present study. The problems were formulated as follows: first, how the social and cultural structure gave meaning to the young marriage? And second, how gender social relationship constructed young marriage? The field study was conducted in February-April 2010 using qualitative data collection technique through active participation in each of daily life activities of those who have too young married. Subsequently, the data was presented in ethnographic paper. The results of the study showed that cultural value factors were deeply rooted in social life in giving meaning to the young marriage. The factors were endogamy marriage and maturity concept as indicated by the beginning of menstruation for young girls. The value given to girls that they were symbols of honor for their family, they were prone to shame (sirri/ea ), and the opinion that having girls in a family was a burden were the fertile land for the practice of young marriage. People tended to assume that parents had right over their children. Therefore, the violence against children both physically and psychologically and even sexually became the reasons why they accepted the young marriage. Additionally, the young marriage for the shake of social status, low education level and adolescent sexual behavior were also the factors of the young marriage. And all of these were perpetuated by the existing social order. The marriage registration process was then manipulated by adding the age in order to avoid the problems in obtaining the permission and marriage certificate. The relationship in the young marriage represented the gender-biased one. The husbands had extra right over their wives even to treat them violently in addition to their excessive domestic works. However, not all of girls were put in unbeneficial place or merely as the objects in the young marriage. The opinion of some people who categorized women as weak creatures was not completely right and it was observed in the perception of some adolescents. They preferred to pursue their carrier or to continue their study and denied young marriage. Therefore, the change in family and society behavior was highly required. It might be made by giving children as wide opportunity as possible to pursue their education and the more important thing was to make sure that children were precious regardless of their gender in family and society.

Kata Kunci : Perkawinan dini,Nilai kultural,Relasi bias gender, Early Marriage, Cultural Values and Gender-Biased Relationship


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.