Pengelolaan hutan bersama masyarakat :: Studi modal sosial dan partisipasi masyaraakt dalam program pemberdayaan masyarakat di Desa Karang Tengah Kecamatan babakan Madang Kabupaten Bogor
SAPUTRA, Ahmad Mulyana Nikah, Drs. Suharman, M.Si
2010 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) di Desa Karang Tengah Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor, serta mengetahui kondisi modal sosial dan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk mengetahui tingkat dan bentuk partisipasi masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi modal sosial masyarakat yang terbentuk dan berkembang dari pola hubungan antar stekeholders dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Atau dengan kata lain, penggunaan pendekatan fenomenologi dimaksudkan untuk memahami penafsiran masyarakat terhadap program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat, dimana masyarakat merupakan salah satu stakeholders dalam program tersebut. Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual masyarakat sekitar hutan, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, partisipasi, kelembagaan masyarakat serta modal sosial untuk menganalisa temuan di lapangan. Dengan menggunakan kerangka analisis CIPOO (Conteks, Input, Proses, Output dan Outcome) yang dimodifikasi dari Sulistyani (2004), hasil temuan dilapangan menunjukan bahwa program PHBM dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat sekitar hutan. Kondisi ketidakberdayaan masyarakat sekitar hutan berkaitan dengan sulitnya akses masyarakat terhadap sumberdaya hutan. Pelaksanaan PHBM memberikan peluang bagi masyarakat sekitar hutan untuk ikut serta dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan. Namun dalam temuan lapangan, ketidaktepatan proses pelaksanaan PHBM menyebabkan masyarakat kurang mendapat tempat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan hutan, dimana pola hubungan yang terjalin dalam program tersebut masih menempatkan masyarakat sebagai bagian terbawah dalam pembangunan sektor kehutanan. Kondisi ini diperparah lagi dengan kurang kondusifnya iklim untuk berpartisipasi bagi masyarakat dimana lemahnya lembaga masyarakat desa hutan, lemahnya dukungan pemerintah setempat (terutama pemerintah desa), serta tidak adanya sarana perekonomian seperti pasar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini menyebabkan adanya ketimpangan antara harapan masyarakat terhadap pelaksanaan PHBM sebagai upaya peningkatan kesejahteraannya dengan realisasi pelaksanaan PHBM di lapangan. Kondisi ini menyebabkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keberhasilan pelaksanaan PHBM menjadi berkurang dan tentu saja melemahkan modal sosial yang ada dalam masyarakat. Lemahnya modal sosial ini menyebabkan sikap pesimis dan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat.
This research aimed to know the description of the implementation of Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) in Karang Tengah Village Babakan Madang District Bogor, and to know the condition of social capital and the level of community participation in these activities. This research used a qualitative method with phenomenological approaches. Phenomenological approach used to know the level of community participation related to social capital condition that formed from the patern of relationship between stakeholders in Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat programme. Or in the other word, the usage of phenomenological approach meant to understanding the community interpretation of the Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat programme, where community is one of the stakeholder in the progamme. This study used a conceptual framework of forest communities, forest community empowerment, participation, community institutions and social capital. Using the analytical framework CIPOO (Context, Input, Process, Output and Outcome) that modified from Sulistyani (2004), the result show that PHBM progamme meant to empowered the forest communities. The Implementation of PHBM provide opportunities for local communities to participate in forest resource management. But, in the field, inaccuracies of PHBM implementation process caused community participation in forest management are weak, where the pattern of relationships that exists in these programs are still placed the society as the bottom part in the forestry development. This condition is aggravated by lack of conducive climate for participation for the community where the weakness of community institutions, the weakness of government support and the absence of economic facilities such as market to improve people's welfare. This condition caused the disparity between the expectations of society to the implementation PHBM as an effort to improve their welfare and the realization of the PHBM in the field. This condition caused the level of public trust in the successful implementation of PHBM be reduced and certainly weaken the existing social capital in society. The weaknesses of social capital caused pessimism and low level of public participation.
Kata Kunci : Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan,Partisipasi,Modal sosial