Analisis spasial determinan kejadian malaria di Kabupaten Barito Kuala Juli 2008-Juni 2009
PRAMONO, Endro, Anis Fuad, S.Ked, DEA
2010 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Penyakit malaria merupakan salah satu penyakit menular yang hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kabupaten Barito Kuala merupakan salah satu kabupaten yang sampai akhir tahun 2006 bukan termasuk daerah endemis penyakit malaria tetapi pada tahun 2007 terjadi kejadian luar biasa di 2 kecamatan. Mobilitas dan dinamika penduduk kemungkinan besar merupakan penyebab terjadinya kejadian luar biasa kemudian menyebar ke kecamatan yang lain. Tujuan penelitian: Menganalisis faktor risiko kejadian malaria, pengelompokan kasus dan ketergantungan kejadian malaria secara spasial hubungannya dengan lingkungan dan aspek manusia. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian analitik (observasional) dengan menggunakan rancangan case control study. Subjek penelitian adalah kasus malaria positif (57 orang) yang didapatkan pada Juli 2008 – Juni 2009 di Kabupaten Barito Kuala. Variabel Bebas adalah faktor biologis (umur dan jenis kelamin), faktor sosial budaya (pekerjaan, riwayat perjalanan, kebiasaan berada di luar rumah malam hari, pemakaian kelambu, kerapatan dinding dan keberadaan ternak) dan faktor lingkungan (jarak belukar, hutan, rawa dan ladang serta kepadatan penduduk dan curah hujan). Variabel terikat adalah kejadian malaria. Hasil Penelitian: Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa 1) pekerjaan (p=0,000) dengan Exp.(B)=26,885 2) riwayat perjalanan (p=0,000) dengan Exp.(B)=18,270 dan 3) kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari (p=0,006) dengan Exp.(B)=11,275 merupakan faktor risiko utama terjadinya malaria. Uji keterkaitan ketiga variabel menunjukan nilai p=0,001. Sedangkan jarak hutan merupakan faktor risiko terjadinya malaria secara kewilayahan (p=0,033 dan coefficient: 1.049131). Terdapat 6 pengelompokan kasus malaria dengan pengelompokan utama yang bermakna (p=0,009 dan OR=5,7) yang terletak pada (-3.176510 S, 114.775380 E) dengan radius 1,33 km di Kecamatan Jejangkit. Analisis GeoDa menunjukan tidak ada ketergantungan secara spasial kejadian malaria terhadap lingkungan sekitarnya (p=0,23). Kesimpulan: Pekerjaan, riwayat perjalanan dan kebiasaan berada di luar rumah malam hari merupakan faktor risiko utama yang saling berkaitan. Jarak hutan merupakan faktor risiko secara kewilayahan. Terdapat pengelompokan kasus utama di Kecamatan Jejangkit dan tidak terdapat ketergantungan kejadian malaria dengan lingkungan sekitarnya
Background: Malaria in Barito Kuala District is still was not an endemic area until 2007 where an outbreak occurred in 2 subdistricts. Population dynamics and mobility were suspected to be responsible for the outbreak which then expanded to other subdistricts. Objective: To analyze risk factors of malaria incidence, clustering of cases and spatial dependence of malaria cases with considering environmental and population aspect. Methods: This study is an analytical (observational) using a case control study. Subjects were positive malaria cases (57 persons) which was found in July 2008 - June 2009 in Kuala Barito District. Variables are biological factors (age and gender), socio-cultural factors (occupation, travel history, habits of outside the house at night, use of mosquito nets, wall proof and the presence of animals) and environmental factors (distance of shrubs, forests, swamps and fields, population density and rainfall). Dependent variable was the incidence of malaria. Result: Results of multivariate analysis showed that 1) occupation (p = 0.000) with Exp. (B) = 26.885 2) travel history (p = 0.000) with Exp. (B) = 18.270, and 3) habits of outside the house at night (p = 0.006) with Exp. (B) = 11.275 are the major risk factors of malaria. The third linkage tests showed the value of variable p = .001. While the distance of the forest is a spatial risk factor (p = 0.033 and coefficient: 1.049131). There are six clusters of malaria cases with the main cluster was significant (p = 0.009 and OR = 5.7) located at (S -3.176510, 114.775380 E) with a radius of 1.33 km in the SubDistrict Jejangkit. GeoDa analysis showed no spatial dependence of malaria incidence to sourronding environmental (p = 0.23). Conclusion: Work, travel history and habits of outside the house at night is a major risk factor related to malaria incidence. Forest distance is a spatial risk factor. Only 1 found most likely cluster in the SubDistrict Jejangkit. There is no dependence between malaria incidence with the surrounding environment.
Kata Kunci : Faktor risiko,Pengelompokan,Spasial,Kasus malaria