Pola nilai ambang dengar dan biaya kompensasi akibat pemajanan kebisingan pada karyawan bagian produksi PT. Multi Nabati Sulawesi
DJAELANI, Betyanti, dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT, M.Kes
2010 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan KerjaPola nilai ambang dengar dapat berdampak langsung pada pekerja, yang bekerja pada lingkungan kerja yang mempunyai intensitas bising yang tinggi seperti pada bagian produksi. Pabrik tersebut tidak mempunyai teknologi untuk mengendalikan atau menurunkan intensitas kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola nilai ambang dengar dan biaya kompensasi akibat pemajanan bising pada kartawan bagian produksi. Motode penelitian ini adalah Kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan rancangan cross sectional study. Variabel bebas adalah Intensitas kebisingan, masa kerja, umur, pemakaian APD, serta perhitungan biaya kompensasi akibat penurunan ambang dengar berdasarkan jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) dan variabel terikat adalah pola nilai ambang dengar. Jumlah sampel 32 orang yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran audiometrik, pengukuran intensitas kebisingan dan kuisioner dan selanjut nya dianalisis dengan uji statistik Korelasi pearson, Chi Square dan Regresi Linear Ganda. Hasil uji Korelasi Pearson, ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan pola nilai ambang dengar (p=0,018) telinga kanan dan (p=0,041) telinga kiri, ada hubungan antara masa kerja dengan pola nilai ambang dengan (p=0,003)telinga kanan dan (p=0,012) telinga kanan , ada hubungan antara umur dengan pola nilai ambang dengar (p=0,000) telinga kanan dan (p=0,000) telinga kiri. Hasil uji Che Square tidak ada hubungan penggunaaan APD dengan pola nilai ambang dengar (p=0,462) telinga kanan dan (p=0,462) telinga kiri berarti nilai telinga kanan dan kiri lebih besar dari 0,05. Hasil uji regresi linear ganda menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah umur dengan nilai (R Square =0,441 telinga kanan dan (R Square= 0,360. Berdasarkan hasil analisis tingkat ketulian telinga kanan responden menunjukkan hasil dengan prosentase tertinggi adalah tuli ringan sebanyak 28 orang (87,5%), tuli sedang 1 orang (3,13%) dan diikuti normal sebanyak 3 orang (9,4%), sedangkan tingkat ketulian telinga kiri menunjukkan hasil tuli ringan sebanyak 29 orang (90,6%), normal 3 orang (9,38)%. Terdapat perbedaan tingkat ketulian antara telinga kanan dan kiri, jumlah tenaga kerja yang mengalami kenaikan ambang dengar sebesar 10 dB sebanyak 3 orang dikali 6 %, sehingga presentasi secara keseluruhan kompensasi adalah 18% x 60 bulan upah.
Hearing threshold pattern may impact to workers at a working environment with high noise intensity such as manufacturing department. The working department does not have the technology to control or minimize noise intensity. The aim of this study is identify hearing threshold pattern and compensation cost resulted from noise exposure in workers at production department. The study was quantitative observational with cross sectional design. The independent variables were noise intensity, duration of occupation, age, use personal protective equipment, and calculation of compensation cost due to hearing loss based on workers' social insurance (Jamsostek) and the dependent variable was hearing loss. There were 32 samples; all were male. Data were obtained from audiometric measurement, assessment of noise intensity and questionnaire and analyzed using Statistical test Pearson correlation, chi square and followed by multiple linear regression The result of Pearson correlation showed there was relation between noise intensity and hearing loss (p=0.018) of the right ear and (p=0.041) of the left ear; there was relation between duration of occupation and hearing loss (p=0.003) of the right ear and (p=0.012) of the left ear; there was relation between age and hearing loss (p=0.001) of the right ear and (p=0.001) of the left ear. The result of chi square showed there was no relation between of personal protective equipment and hearing loss (p=0.462) of the right ear and (p=0.462) of the left ear; thus score of the right and the left ear was higher than 0.05. The result of multiple linear regression test showed age had the most dominant effect with (R2=0.44) for the right ear and (R2=0.360) for the left ear. The result of analysis on deafness of the right ear of respondents showed the highest percentage belonged to light deafness (28 people or 87.5%), 1 (3.13%) to medium deafness and 3 people (9,4%) belonged to normal. Meanwhile deafness of the left ear showed light deafness in 29 people (90.6%) and normal in 3 people (9.38%). There was difference in deafness between the right and the left ear. Workers that had increase of hearing loss as much as 10 dB were 3 workers x 6%; thus the percentage of total compensation was 18% x 60 months wage.
Kata Kunci : Nilai ambang dengar, Biaya kompensasi, Pemajanan kebisingan