Laporkan Masalah

Kolaborasi lintas sektoral dalam kesiapsiagaan bencana :: Studi kasus di Kabupaten Aceh Tamiang

BUSTARI, Aziz, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD

2010 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Banjir bandang di Aceh Tamiang tahun 2006 terjadi sekitar 85 % dari wilayah pemukiman penduduk dan terjadi hampir di seluruh desa. Dampak bencana banjir terhadap kesehatan masyarakat bergantung pada tingkat kerentanan dan jenis dari banjir tersebut. Angka kesakitan penyakit tertentu terus meningkat selama terjadinya bencana banjir. Kolaborasi lintas sektoral terjadi karena berbagai alasan dan sebagai upaya yang dilakukan untuk menghubungkan berbagai sektor yang saling berbagi informasi, sumber daya, kegiatan, dan kemampuan lainnya untuk mencapai tujuan bersama dimana hasil yang diinginkan tidak dapat dicapai oleh masing-masing organisasi/sektoral tersebut secara terpisah. Tujuan : Untuk mengetahui bagaimanakah kolaborasi lintas sektoral di Kabupaten Aceh Tamiang dalam upaya penanggulangan dan kesiapsiagaan bencana banjir di masa mendatang. Metode Penelitian : Penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus eksploratif. Subjek penelitian adalah orang-orang yang memiliki peranan penting dalam proses penanggulangan dan kesiapsiagaan bencana banjir. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, studi dokumentasi dan observasi langsung. Validitas data menggunakan triangulasi sumber, metode, dan data. Hasil dan Pembahasan : Gaya kepemimpinan komando ketua SATLAK mampu mempengaruhi dan memotivasi semua lembaga di sector pemerintah dan swasta. Komunikasi antar lembaga yang memiliki kewenangan yang sama masih sangat kurang dan terkesan sulit akibat kurangnya sikap saling menghargai antar lembaga, faktor ego sektoral dan budaya birokrasi. Pemerintah daerah mengkomunikasikan informasi dan kebijakan kepada masyarakat melalui pertemuan formal dan dialog. Pengorganisasian dengan struktur sederhana dan birokrasi mesin tidak berjalan optimal dalam upaya penanggulangan banjir. Keterlibatan masyarakat dalam perumusan kebijakan pemerintah daerah masih sangat rendah. Kesimpulan : Gaya kepemimpinan komando dan komunikasi antar lembaga yang tidak harmonis karena ego sektoral dan arogansi birokrasi menyebabkan struktur sederhana dengan birokrasi mesin tidak berjalan optimal dalam penanggulangan bencana. Partisipsi masyarakat masih sangat rendah dalam perumusan kebijakan daerah terkait bencana alam.

BACKGROUND: Massive flood occurred in 85% of the Aceh Tamiang neighborhood in 2006. It occurred in almost villages in the district. The impact of the flood on the public health depends on the vulnerability and type of the flood. The morbidity rate of some diseases had increased during the flood. The cross-sectoral collaboration is applied on some reasons and as an effort to collaborate various sectors which exchange information, resources, activities, and other capabilities in order to attain their goals. The expected outcomes can not be attained by those organizations or sectors when they work separately. OBJECTIVE: The research aimed at identifying how the cross-sectoral collaboration was applied in Aceh Tamiang District in the effort of flood disaster mitigation and preparedness. METHOD: The research employed an explorative-case study design. The research subjects were the officers having crucial roles in the process of flood disaster mitigation and preparedness. Samples were gathered through purposive sampling. Data were collected through in-depth interview, documentation study and direct observation. The data were validated by triangulation among the resource, method and data. RESULT AND DISCUSSION: The commando leadership style of the Disaster Management Head was able to influence and motivate all institutions in government and private sectors. The communication among authoritative institutions was still weak and difficult due to lack of appreciation of the institutions, and sectoral egoistic factor and birocracy culture. The local government communicated the information and policy through formal meeting and dialogue. Simple organization structure and machinery birocracy did not work well optimally in the effort of flood mitigation. Public involvement in formulating the local policy was still low. CONCLUSION: Commando leadership style and lack of harmony in the communication among institutions due to sectoral ego and birocracy arrogance made the simple structure and machinery birocracy not work optimally in the disaster mitigation. The public involvement was still low in formulating local policy on disaster.

Kata Kunci : Kolaborasi,Kepemimpinan,Pengorganisasian,Komunikasi,Bencana banjir


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.