Laporkan Masalah

Peran konselor sebaya terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) oleh siswa SMTU di Kota Pontianak

SURIATI, Prof. dr. Djauhar I, SpA(K), MPH, PhD

2010 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Di bumi ini setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 60% kehamilan pada wanita di bawah usia 20 tahun adalah kehamilan yang tidak diinginkan. Program PKPR dimulai di Indonesia pada tahun 2003, secara bertahap menjangkau 16 propinsi dari 33 propinsi, termasuk 420 pusat kesehatan dari 2680. Tujuan dari program ini adalah untuk menyediakan pelayanan yang berkualitas untuk remaja pada pusat- pusat kesehatan sekolah, jalanan dan tempat kerja.Remaja yang berkunjung ke klinik adalah siswa dari SMA atau SMP dan/ atau remaja yang dianjurkan oleh konselor sebaya atau konselor kesehatan reproduksi. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui peran konselor sebaya terhadap pemanfaatan klinik remaja oleh siswa SMU di wilayah bina puskesmas Kota Pontianak. Metode Penelitian: Jenis penelitian analitik menggunakan rancangan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan ditunjang dengan wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (DKT).Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMU dengan konselor sebaya dan tanpa konselor sebaya di sekolah di wilayah bina Puskesmas. Variabel bebas ialah peran konselor sebaya, variabel terikat ialah pemanfaatan klinik remaja dan variabel luar meliputi: peran petugas kesehatan, peran keluarga, peran media massa dan peran guru. Hasil: Proporsi konselor sebaya yang berperan sebanyak 55.11%, dengan risiko 4.1 kali dibandingkan dengan konselor yang tidak berperan (RP: 4.1; CI 95%: 1.29-13.12). Hasil analisis regresi logistik memperlihatkan bahwa dengan peran konselor sebaya meningkatkan risiko siswa/siswi untuk memanfaatkan klinik remaja dengan p=0.019. Kesimpulan: Konselor sebaya berperan dalam pemanfaatan klinik oleh siswa di sekolah.

Background: Every year, 15 million girls aged 15-19 become pregnant, 4 million girls perform abortion, and almost 60% of the pregnancies in women aged <20 are unwanted pregnancy. Adolescent-friendly health service clinic (PKPR) is implemented in 2003, and gradually involves 16 out of 33 province, including 420 health center out of 2680. The aim of the program is to provide high-quality service for adolescent in health center in school area, street area, and workplace. The target of the program is primary and secondary high school students and adolescent referred by peer counselor or reproductive health counselor. Goal: To examine the role of peer counselor in the utilization of adolescent-friendly health service clinics by high school students in Primary Health Clinic of Pontianak city area. Methodology: This is an analytical study using cross sectional study design with quantitative approach. In-depth interview and focused group discussion (FGD) are performed to provide additional insight. The study population is all secondary high school students who have peer counselor and who don’t have peer counselor. Independent variable is peer counselor’s role, dependent variable is the utilization of adolescent-friendly health service clinic. External variable are: clinic staff’s role, family’s role, mass media’s role, and teacher’s role. Result: The proportion of peer counselors who have a role is 55.11%. The risk to use health clinic is 4.1 times higher in adolescents with peer counselors who have a role than in adolescents with peer counselors who don’t have a role (OR 4.1; CI 95%: 1.29-13.12). Logistic regression analysis suggested that peer counselors have a role in increasing the utilization of adolescent-friendly health service clinic with p=0.019. Conclusion: Peer counselor has a role in the utilization of health service clinics by high school students.

Kata Kunci : Peran konselor sebaya,Pelayanan kesehatan peduli remaja,Pemanfaatan klinik remaja


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.