Laporkan Masalah

Hubungan penggunaan partograf dan kejadian asfiksia bayi baru lahir di RSUD Prof. DR. W.Z. Johanes Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

DAFROYATI, Yuliana, Prof. dr. Djaswadi Dasuki, MPH, Ph.D,Sp.OG(K)

2010 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinik

Penggunaan partograf dalam persalinan telah terbukti dapat menurunkan angka kematian perinatal dengan mendeteksi dini kemungkinan buruk yang terjadi pada bayi dan ibu. Kemungkinan buruk yang sering terjadi pada bayi salah satu diantaranya adalah asfiksia bayi baru lahir. Di RSUD Prof.DR.W.Z.Johanes Kupang sudah menggunakan partograf dalam menolong persalinan namun masih di laporkan bahwa angka kejadian asfiksia masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk diketahuinya hubungan penggunaan partograf pada persalinan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di RSUD Prof. DR. W.Z. Johanes Kupang-NTT Jenis penelitian observasional dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian adalah ibu bersalin normal yang memenuhi kriteria inklusi periode 1 Januari - Desember 2007, jumlah sampel 164 orang dengan teknik conseccutive sampling. Analisis data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, bivariat menggunakan uji Chi- Square dan multivariat menggunakan uji regresi binomial serta data kualitatif di sajikan secara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan partograf tidak sesuai standar dalam persalinan dapat meningkatkan risiko terjadinya asfiksia 2,38 kali dibandingkan yang sesuai standar dan secara statistik bermakna (95% IK; 1,2-4,6). Variabel lain yang mempunyai hubungan bermakna adalah pendidikan ibu RR =1,45 (95% IK; 1,1-2,1) dan paritas dengan RR =1,43 (95% IK; 1,0-2,2). Dapat disimpulkan bahwa persalinan yang menggunakan partograf tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko kejadian asfiksia bayi baru lahir di bandingkan dengan persalinan yang menggunakan partograf sesuai standar. Faktor lain yang berisiko terjadinya asfiksia bayi baru lahir adalah pendidikan ibu dan paritas.

The use of parthograph during labor has been proven in reducing perinatal death by early detecting bad possibilities for a mother and her newborn. Newborn asphyxia is recognized as one of risk possibilities after birth. Prof. DR. W. Z. Johanes Local Hospital of Kupang has actually used parthograph during labor and delivery; however, the rate of asphyxia is reported relatively high. This study aimed to know the relationship between the use of parthograph during labor and newborn asphyxia found in Prof. DR. W. Z. Johanes Local Hospital of Kupang-NTT. This study was an observational study with a retrospective cohort study design using quantitative and qualitative approaches. The study samples were with normal delivery meeting the inclusion criteria during a period from January 1 to December 2007, as many as 164 women selected by consecutive sampling method. Univariate data analysis used frequency distribution and percentage; bivariate analysis used chi-square test; and multivariate analysis used binomial regression test. The qualitative data were presented by way of narration. The result showed that labor with non standardized parthograph had a 2.38 greater risk of asphyxia than that with standardized parthograph and statistically it was significant (95% CI; 1.2-4.6). Other variables which had a significant relationship were maternal education with RR =1.45 (95% CI; 1,1-2,1) and parity with RR =1,43 (95% CI; 1.0-2.2). It can be concluded that labor with non-standardized parthograph could increase the risk of newborn asphyxia than that with standardized parthograph. Other factors having a risk of newborn asphyxia were maternal education and parity.

Kata Kunci : Partografi,Asfiksia,Bayi baru lahir


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.