Warisan Buttu Mekkatta :: Implikasi upacara Paqbandangang-Peppio di Kajuangin, Mandar, Sulawesi Barat
BASIR, Bustan, Prof. Dr. PM. Laksono, MA
2010 | Tesis | S2 AntropologiPenelitian ini secara khusus mengkaji implikasi pelaksanaan upacara Paqbandangang-Peppio Thn. 2007, sebagai salah satu kekayaan khasanah budaya dari Kajuangin, Mandar, Sulawesi Barat. Kajian ini berusaha menganalisis berbagai dialektika sosial peserta upacara Paqbandangang-Peppio di Kajuangin, pasca pelaksanaan upacara Paqbandangang- eppio Thn. 2007, sebagai salah satu laku spritual keluarga besar orang Kajuangin atau peserta Paqbandangang-Peppio. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian: Apa implikasi upacara Paqbandangang-Peppio Tahun 2007 bagi beberapa pesertanya? Upacara Paqbandangang-Peppio dilaksanakan lima tahun sekali, atau paling cepat tiga tahun sekali. Lama pelaksanaannya, antara lima sampai tujuh hari (satu minggu). Di dalam masa itulah berbagai ritual dilakukan. Mulai dari penebangan pohon kayu lita, membangun sapo-sapo, mendirikan ayunan, mengguliling, mattede mane-maneq, hingga sampai pada pertunjukan Pumbendang, sebagai rangkaian penutupan upacara. Bagi peserta Paqbandangang-Peppio, melihat upacara ini masih sangat dekat dengan kehidupan mereka. Upacara ini dilaksanakan; selain berfungsi sebagai salah satu media komunikasi dengan para leluhur Kajuangin, juga sekaligus sebagai sarana untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa, atas segala karunia yang diberikan-Nya. Sehingga dengan demikian bala’ dan mara bahaya akan jauh dari kehidupan mereka dan alam pun akan memberikan seluruh keberkahannya bagi kelangsungan hidup manusia di bumi. Di sisi lain upacara ini juga sekaligus menjadi media kontemplasi mendalam; belajar dan mengambil banyak hikmah atau berkah, sebagai bekal spritual melanjutkan kehidupan ke masa depan. Selain itu upacara ini juga dapat menjadi ruang silaturrahmi akbar, dalam mengakrabkan banyak orang, untuk memperbincangkan berbagai strategi-strategi kehidupan, di antara sesama peserta, yang kini bertebaran di berbagai pelosok negeri. Dengan demikian, implikasi upacara ini dalam konteks spiritual, sosial ekonomi dan politik, dalam berbagai dialektika sosial peserta Paqbandangang-Peppio, diharapkan dapat mewujud pasca pelaksanaan upacara tersebut. Capaian-capaian sederhana ini, diperoleh lewat metode kualitatif, sebagai salah satu strategi yang digunakan dalam menganalisis upacara ini, melalui teknik pengumpulan data-partisipasi observasi, serta wawancara mendalam.
This research specifically examines the implications engendered by the practice of Paqbandangang-Peppio ceremony held in 2007. The ceremony is widely known as one of cultural treasures that belong to Kajuangin, Mandar, West Sulawesi. This study tries to analyze a variety of social dialectics among those who participate in the Paqbandangang-Peppio ceremony as a spiritual practice of Kajuangin community. This study aims to explore the issues formulated in the research question: What are the implications that the Paqbandangang-Peppio ceremony held in 2007 has for its participants? The Paqbandangang-Peppio ceremony is held once in five years or, sometimes, once in three years. The period of time this ceremony practice needs to take is about five to seven days (one week). During this period a varied number of rituals are performed from cutting down Lita trees, building sapo-sapo, setting up the swings, mengguliling, mattede maneq mane, to performing Pumbendang as the closing event of the ceremony series. To its participants, the Paqbandangang-Peppio ceremony is seen as something very close to their lives and is conducted to be as a medium of communication with the ancestors of Kajuangin and at the same time as a means of expressing gratitude to God Almighty for all His gifts given to humans. As a result, calamity and all sorts of disasters would be kept away from their lives and the nature will provide blessing and grace to all humans on the earth. On the other hand, this ceremony becomes a medium of deep contemplation, learning, and absorbing of grace and blessing as spiritual stock in going through and facing future life. Beside that, this ceremony can also be a grand space for its participants and community to get together and keep in touch with each other as well as to discuss about various strategies of life that will benefit its fellow participants who are now scattered and spread all over the country. Thus, the implications this ceremony has in spiritual, social, economic and political contexts of social dialectics among the participants of Paqbandangang-Peppio are expected to manifested and realized after their practicing of the ceremony. These modest findings, obtained through qualitative methods, have been one of the strategies used in analyzing this ceremony through such research techniques as data collection, participatory observation, and in-depth interviews.
Kata Kunci : Implikasi, Upacara, Paqbandangang, Peppio