Laporkan Masalah

Relasi kuasa dalam rumah tangga poligami :: Studi kasus pada sebuah rumah tangga, di Banguntapan Bantul, Yogyakarta

ROHANAH, Tafsiyatun, DR. Anna Marie Wattie, MA

2010 | Tesis |

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sebagian realitas yang terjadi dalam rumah tangga poligami, karena ada beberapa situasi tertentu yang hanya terjadi pada rumah tangga dengan dua orang istri yang berkumpul dalam satu rumah yang sama. Unit analisis sekaligus informan utama dalam penelitian ini adalah seluruh anggota rumah tangga, yaitu suami, istri pertama, istri kedua, dan anak-anak dari istri pertama. Orang tua, saudara, dan tetangga merupakan informan tambahan. Metode yang digunakan adalah pengamatan, observasi dan partisipasi langsung dengan tehnik wawancara mendalam. Penelitian ini membuktikan bahwa, relasi kuasa yang besar mengakibatkan suami mendominasi dan mengendalikan seluruh anggota keluarganya. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan teori Bourdieu, membuktikan bahwa ranah yang mendukung dan habitus yang menubuh telah menyebabkan kekuasaan berlebihan. Hal ini menghasilkan praktek sosial yang sangat merugikan bagi orang-orang yang berada di sekelilingnya, karena dilakukan dengan kekerasan dan intimidasi yang berdampak negatif. Bersama budaya patriarki yang telah ada dan dogma agama yang diterima melalui ajaran dari para kyai dan ustadz dalam setiap ceramah saat pengajian, menjelma sebagai doktrin yang melegitimasi seorang suami untuk tega berbuat kekerasan terhadap istri-istrinya. Akumulasi modal yang dimiliki laki-laki menentukan relasi kuasa dalam sebuah keluarga. Suami sebagai kepala rumah tangga yang bekerja dan mendapatkan gaji, memiliki berbagai jenis modal (ekonomi, sosial, budaya dan simbolik) dan menggunakannya sebagai alat untuk menguasai kedua istri dan anak-anaknya. Strategi bertahan merupakan cara yang diambil dan dilakukan agar tetap dapat bertahan. Setelah beberapa kali menempuh jalan damai dengan berkonsultasi pada psikolog dan juga anggota keluarga yang lebih tua, ternyata ikatan perkawinan antara suami dengan istri pertama tidak dapat terus dipertahankan. Meskipun perkawinan tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu 28 tahun dengan 17 tahun mengalami masa perkawinan poligami, namun pada akhirnya tetap terjadi perceraian.

This research aims to describe some of the reality that occur in polygamous households, because there are certain situations that only occur in households with two wives who get together in a house the same. The analysis unit at the same time the main informant of this research are all household members, that is husband, first wife, second wife, and children from first wife. Parents, siblings, and neighbors are additional informants. The method used is observation, observation and direct participation with in-depth interview techniques. This research to prove that, great power relations resulted in the husband dominating and controlling the entire family. Based on the analysis using Bourdieu's theory, proved that the domain of supporting and habitual habitus which has resulted in excessive power. This results in social practice which is very harmful for the people around him, because it is done with violence and intimidation which have a negative impact. Together with the existing patriarchal cultural and religious dogmas are accepted through the teachings of the Kyai in every speech and religious teacher during instruction, incarnated as the doctrine that legitimizes a husband for wicked do violence to his wives. Owned capital accumulation determines male in a family power relations. Husband as head of household who work and earn wages, have various types of capital (economic, social, cultural and symbolic) and use it as a tool to master both his wife and children. Survival strategy is a way that was taken and carried to survive. After a few times on the path of peace in consultation with a psychologist and also an older family member, it turns out the marriage bond between husband and wife can not be preserved first. Although the marriage can survive a period of 28 years with 17 years experienced a period of polygamous marriages, but in the end remained on divorce.

Kata Kunci : Relasi kuasa,Strategi,Poligami,Rumah tangga


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.