Subjective well being pada remaja yang ditinggalkan ibunya menjadi tenaag kerja wanita (TKW) ditinjau dari penerimaan diri, keberfungsian keluarga dan pola coping positif
WIBISONO, Susilo, Prof. Dr. Sartini Nuryoto
2010 | Tesis | S2 Sains PsikologiPenelitian ini dikembangkan berdasarkan fenomena remaja yang ditinggalkan ibunya menjadi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Fenomena tersebut mengindikasikan tingkat subjective well being yang kurang terpenuhi dalam kehidupannya. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis subjective well being (SWB) pada remaja yang ditinggalkan ibunya menjadi TKI di luar negeri ditinjau berdasarkan konstruk penerimaan diri, keberfungsian keluarga dan pola coping positif yang dimiliki. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan dilakukan di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta sebagai salah satu basis TKI di Indonesia. Pengukuran SWB dilakukan dengan menggunakan beberapa alat ukur, yaitu Satisfaction With Life Scales (SWLS), Positive Affects and Negative Affects Schedule (PANAS). Skor SWB diperoleh dengan menggunakan fungsi SWLS+PA-NA. Konstruk penerimaan diri diukur dengan menggunakan Berger’s Self Acceptance Scale, sementara keberfungsian keluarga diukur dengan menggunakan family perception scale, dan pola coping positif diukur dengan menggunakan social emotional coping scale (SECope). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 44 responden dengan kriteria 20 responden ditinggalkan ibunya menjadi TKI di luar negeri dan 24 responden hidup dengan keluarga yang normal dalam setting demografis yang sama. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan Ada pengaruh penerimaan diri, keberfungsian keluarga dan pola coping positif terhadap subjective well being pada anak yang ditinggalkan ibunya menjadi TKI di luar negeri dengan nilai chi square (X2) = 13,817 dengan p = 0,032 (p<0,05). Kemudian tidak ada perbedaan subjective well being antara remaja yang ditinggalkan ibunya menjadi TKW dan remaja yang tidak ditinggalkan ibunya menjadi TKW dengan nilai Z = -1,275 dengan p= 0,202 (p>0,05).
This research is developed based on the phenomenon of adolescents left by their mothers to be overseas woman migrant workers. This phenomenon indicates the low level of subjective well being in their life. This research aims to analyze subjective well being (SWB) among adolescents left by their mother to be an overseas woman migrant worker based on their self acceptance, family functioning and positive coping.This research is carried out by using quantitative approach and done in Gunung Kidul District, Yogyakarta, as one of sources of woman migrant workers from Indonesia. The assessment of SWB is done by using some scales which are Satisfaction With Life Scales (SWLS), Positive Affects and Negative Affects Schedule (PANAS). The value of SWB counted by the function of SWLS+PA–NA. The construct of self acceptance is assessed by Berger’s Self Acceptance Scale, family functioning is assessed by family perception scale, and positive coping is assessed by social emotional coping scale (SECope). There are 44 adolescents as subject and they are divided into two categories, which are 20 adolescents left by their mother to be overseas woman migrant workers and 24 adolescents live with normal family in the same demographic situation. Based on the results of data analysis, it is concluded that there is the influence of self-acceptance, family functioning and positive coping on subjective well being in children who abandoned his mother to become overseas migrant workers with the value of chi square (X2) = 13.817 with p = 0.032 (p <0, 2005). Then there is no difference in subjective well being among adolescents who abandoned his mother became migrant workers and adolescents living in normal family with a Z value = -1.275 with p = 0.202 (p> 0.05).
Kata Kunci : Subjective well being,Penerimaan diri,Keberfungsian keluarga,Pola coping positif