Laporkan Masalah

Kajian perkembangan tanah wilayah rawan rayapan tanah sebelah barat saluran induk kali Bawang Kilometer 17-22 Kabupaten Kulon Progo

HARTONO, Gunawan, Prof. Dr. Junun Sartohadi, M.Sc

2010 | Tesis | S2 Geografi

Saluran Induk Kali Bawang adalah merupakan salah satu saluran irigasi yang terdapat di Kabupaten Kulon Progo. Saluran Induk Kali Bawang sangat penting bagi aktivitas pertanian dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air pada lahan-lahan pertanian di Kecamatan Kalibawang, Girimulyo, Nanggulan, Sentolo, Wates dan Temon. Seiring dengan perjalanan waktu, terlihat pada dinding maupun jembatan yang berada di saluran induk ini mengalami retakan. Retakan yang terjadi ini diduga karena adanya pergerakan tanah secara berlahan dari arah sebelah barat saluran Induk Kali Bawang atau lebih sering disebut rayapan tanah. Memahami proses rayapan tanah dan menemukan faktor pengendali utama rayapan tanah di daerah penelitian sangat penting bagi penyelamatan Saluran Induk Kali Bawang. Tanah merupakan suatu tubuh alam yang terbentuk dari kerjasama atau interaksi faktor iklim, organisme, bahan induk, relief dan waktu. Secara alami tanah mengalami proses perkembangan karena adanya faktor-faktor lingkungan, diantaranya adalah faktor lereng yang tidak stabil, sehingga tanah akan menuruni lereng mengikuti gaya gravitasi bumi. Selain faktor lereng, faktor batuan juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan tanah dengan demikian dapat memicu terjadinya rayapan tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan cara sampling berjalur (transek). Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pendekatan keruangan. Pengukuran data fisik digunakan pendekatan bentanglahan dilengkapi dengan beberapa uji laboratorium dari sampel tanah. Uji laboratorium tanah dimaksudkan untuk mengidentifikasi karakteristik lempung yang meliputi tekstur tanah, indeks COLE, tipe lempung melalui difraksi metode sinar-X dan KPK total tanah. Hasil analisis menunjukan bahwa tingkat bahaya rayapan tanah di daerah penelitian secara keseluruhan berada pada tingkat bahaya sedang. Demikian pula tingkat perkembangan tanahnya secara keseluruhan memiliki tingkat sedang berkembang yang memiliki luas ± 118,40 ha. Melakukan usaha pertanian sebaiknya mempertimbangkan aspek konservasi (pembuatan teras yang tepat) terutama pada daerah yang mempunyai kemiringan lereng ≥ 15 %. Pada lereng bagian atas jangan ditanami tanaman yang dapat menjadi beban bagi daya dukung tanah, semakin berat beban semakin memicu terjadinya rayapan tanah.

Kali Bawang canal is one of the irrigation canal located in Kulon Progo Regency. Kali Bawang canal is very important for agricultural activities and functions to meet the water needs of agricultural lands in District Kalibawang, Girimulyo, Nanggulan, Sentolo, Wates and Temon. Along with the passage of time, looking at the walls and bridges that are in the main canal is through the cracks. These cracks occurred allegedly because of soil movement that took place in slowly or more often called soil creep. Understanding the process and find soil creep main controlling factor in soil creep very important research area for the rescue Kali Bawang canal. Soil was a natural body, is formed by cooperation or interaction between climatic factors, organisms, parent material, relief and time. Soil naturally experience the process of development due to environmental factors, such as an unstable slope factor, so the soil will be going down the slope following the earth's gravity. In addition to the slope factor, the factor of rock is also very influential on the soil development can thus trigger a soil creep. The method used in this research is method of survey sampling by brindle (transect). The approach used in the implementation of this research is the spatial approach. Measurement of physical data used landscape approach comes with several laboratory tests of soil samples. Laboratory tests are intended to identify soil characteristics that include clay soil texture, COLE index, type of clay through the diffraction of X-ray method and CEC total soil. Results of analysis showed that the level of danger soil creep in the research area as a whole is at the level of medium danger. Well as the level of soil development as a whole has a medium level developed which has an area of ± 118.40 ha. Agricultural effort should consider the conservation aspects (making the porch right), especially in areas that have slope ≥ 15%. At the top of a slope planted with crops that do not can be a burden to the soil carrying capacity, the heavier the burden the soil creep trigger.

Kata Kunci : Rayapan tanah,Perkembangan tanah,Formasi lempung


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.