Laporkan Masalah

Seroprevalensi toksoplasmosis dan faktor-faktor resiko di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan metode ELISA menggunakan protein rekombinan GRA-1 takizoit toxoplasma gondii isolat lokal

SUJONO, Prof. Dr. drh. Wayan T. Artama

2010 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Tropis

Toksoplasmosis merupakan masalah kesehatan dalam kehidupan masyarakat yang penting, karena dampak ekonomi-sosial yang tinggi berkaitan dengan ongkos perawatan penderita, keterlambatan mental dan kebutaan pada anak-anak. Faktor resiko yang memungkinkan meningkatkan penyebaran toxoplasmosi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain keberadaan kucing di populasi, kondisi geografi dan iklim yang mendukung perkembangan ookista, prevalensi toksoplasmosis pada kambing dan sapi yang tinggi yaitu 78% dan 21%, makanan tidak dimasak dan air yang tidak terklorinasi. Studi seroprevalensi toksoplasmosis pada populasi umum dan gambaran hubungan faktor resiko dengan prevalensi toksiplasmosis, meliputi jenis kelamin, umur, geografis, kontak dengan kucing, pola makan dan makanan, pekerjaan yang ada kontak dengan daging ternak mentah, air yang digunakan untuk memasak, dan pekerjaan/kegiatan yang ada kontak dengan tanah. Seribu limapuluh sampel serum dikumpulkan dengan menerapkan rancangan klaster dua tahap di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulonprogo. Data faktor resiko dikumpulkan dengan wawancara pada responden atau orangtua responden. Pemeriksaan serologis IgG dan IgM antitoxoplasma dengan metode ELISA menggunakan protein rekombinan GRA-1 takizoit Toxoplasma gondii isolat lokal sebagai antigen. Kontrol positif dan negatif menggunakan serum manusia yang telah didiagnosis positif atau negatif yang didapat dari RS Sardjito, RS Bethesda dan RS Pati Rapih Yogyakarta. Faktor resiko dianalisis signifikansi dan odds ratio dengan confident interval sebesar 95%, dan pemetaan seroprevensi dengan GIS. Seroprevalensi toksoplasmosis di Propinsi DIY adalah 61,5%. Seroprevalensi tertinggi di Kabupaten Kulonprogo (78,6%), kemudian di Kabupaten Sleman (72,4%), Kota Yogyakarta (69,5%), Kabupaten Bantul (57,6) dan terendah di Kabupaten Gunungkidul sebesar 29,5%. Faktor resiko yang mempunyai hubungan bermakna dengan seroprevalensi toksoplasmosis di Propinsi DIY adalah jenis kelamin, kontak dengan kucing, tinggi dataran (geografi), konsumsi daging kambing yang dimasak tidak cukup matang , konsumsi sayuran mentah yang disajikan di warung lesehan, pekerjaan yang ada kontak dengan daging ternak mentah dan pekerjaan/kegiatan yang ada kontak dengan tanah. Umur, konsumsi daging sapi dan ayam yang dimasak tidak cukup matang, konsumsi sayuran mentah yang disajikan di rumah dan air sumur untuk memasak tidak mempunyai hubungan.

Background: Toxoplasmosis is a crucial public health problem because of its high economic social impact in relation to cost of patient care, mental retardation and blindness in children. Risk factors that likely increase the spread of toxoplasmosis in the Special Province of Yogyakarta are the presence of cats in the population, geographical and climate condition that enable the development of ookista, high prevalence of toxoplasmosis in goats and cows (78% and 21%), eating habits and non clorinized water. Objective: To study serological prevalence of toxoplasmosis in the population and get an overview of association between risk factors and toxoplasmosis infection, comprising gender, age, geography, contact with cats, eating habits, occupation related to contact with raw meat, water used to cook and activities related to contact with soil. Method: The amount of 1050 samples of serum were collected using double cluster design at the city of Yogyakarta, District of Sleman, Bantul, Gunungkidul and Kulonprogo. Data of risk factors were obtained through interview with respondents or parents of respondents. Serological examination of IgG and IgM antitoxoplasm with ELISA method using recombinant protein of GRA-1 takizoit of local isolat Toxoplasma gondii as antigen. Positive and negative control used human serum that had been positively or negatively diagnosed at Dr. Sardjito, Bethesda and Panti Rapih Hospital Yogyakarta. Risk factors were analyzed their significance and odds ratio at confidence interval 95%, and mapping of serological prevalence with GIS. Result: Serological prevalence of toxoplasmosis at the Special Province of Yogyakarta was 61,5%. Highest at District of Kulonprogo (78,6%), later at District of Sleman (72,4%), at the city of Yogyakarta (69,5%), at District of Bantul (57,6) and at District of Gunungkidul (29,5%). Conclusion: Risk factors significantly associated with Serological prevalence of toxoplasmosis at the Province of Yogyakarta Special Territory examination were gender, ad for residence plain (geografi), contact with cat, undercooked goat meat consumption, raw vegetable consumption at food stalls, occupation related to contact with raw meat, and occupation/activities related to contact with soil. Age, undercooked chicken and ox meat consumption, raw vegetable consumption at home and water used to cook were unsignificantly associated with serological prevalence of toxoplasmosis Keywords: toxoplasmosis, IgG, IgM, recombinan protein of GRA-1, ELISA

Kata Kunci : Toxoplasmosis,IgG,IgM,Protein rekombinan GRA,1,ELISA, toxoplasmosis, IgG, IgM, recombinan protein of GRA-1, ELISA


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.