Penggunaan asam jawa (Tamarindus indica L) untuk memperbaiki forced expiratory volume in one second (FEV1) pada penderita batuk
SAMINAN, dr. Suwono, AIFM
2010 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan BiomedisLatar Belakang: Batuk merupakan suatu gejala penyakit yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Prevalensi batuk sebesar 15 % pada anak-anak dan 20 % pada orang dewasa. Batuk dapat menyebabkan perubahan pada sistem respirasi seperti penurunan ventilasi akibat tertimbun dahak. Tujuan: Untuk mengkaji pengaruh penggunaan asam Jawa (Tamarindus indica L) dalam memperbaiki nilai FEV1 pada penderita batuk. Metode: Penelitian ini adalah suatu penelitian eksperimental semu, nonrandom (non probabilitas) sampling pretest-postest contol group design dengan pendekatan kohor. Subjek penelitian 40 orang ibu-ibu tidak menderita batuk diukur FEV1 satu kali nilai ini sebagai pembanding. Ibu-ibu penderita batuk sebanyak 40 orang diukur FEV1 dua kali sebelum minum seduan asam Jawa dan setelah tiga hari minum seduan asam Jawa, alat ukur FEV1 yang digunakan adalah spirometer dengan merek Vitalograph COPD-6, nilai FEV1 dalam persen (%). Hasil: Ibu-ibu tidak menderita batuk nilai FEV1 rata-rata 78,33 % dengan standar deviasi 6,29 %. Ibu-ibu penderita batuk sebelum minum seduan asam Jawa rata-rata nilai FEV1 56,45 % dengan strandar deviasi 7,97 %, setelah tiga hari berturut-turut minum seduan asam Jawa nilai FEV1 rata-rata 73,60 % dengan standar deviasi 12,44 %. Nilai rata-rata FEV1 ibu-ibu tidak menderita batuk dibandingkan dengan nilai rata-rata FEV1 ibu-ibu penderita batuk jauh lebih rendah. Hasil uji statistik terhadap nilai FEV1 ibu-ibu penderita batuk p < 0,05 terdapat perbedaan yang signifikan sebelum minum seduan asam Jawa dengan sesudah minum seduan asam Jawa. Kesimpulan: Penggunaan asam Jawa sebagai obat batuk tradional dapat memperbaiki nilai FEV1 penderita batuk.
Background: Cough is a common symptom in the community. The prevalence of cough is 15% in children and 20% in adults. Cough can cause change in respiratory system such as ventilation reduction resulted from sputum accumulation. Objective: The study the impact of asam Jawa (Tamarindus indica L) in improving FEV1 score of patients suffering from cough. Method: To study was a quasi experiment with non random sampling and pre-test post-test control group design as well as cohort approach. Subject consisted of 40 mothers that did not suffer from cough measured using FEV1 once as a control and 40 mothers suffering from cough measured using FEV1 twice (before drinking asam Jawa steeping and three days after drinking). FEV1 measurement device used was spyrometer Vitalograph (COPD-G). Result was indicated in percentage. Result: Average FEV1 score of mothers that did not have cough was 78.33% at deviation standard 6.29%. Average FEV1 score of mothers suffering from cough before drinking asam Jawa steeping was 56.45% at deviation standard 7.97% and after drinking for three days subsequently the score was 73.6% at deviation standard 12.44%. Average FEV1 score of mothers that did not have cough was much lower than those suffering from cough. The result of statistical test of FEV1 score in mothers suffering from cough was p<0.05; there was significant difference between before and after drinking asam Jawa steeping. Conclusion: Use of asam Jawa as traditional cough medicine could improve FEV1, score of cough patients.
Kata Kunci : Asam Jawa, Nilai FEV1, Penderita batuk