Persepsi masyarakat terhadap permukiman kumuh :: Kasus permukiman kumuh Bataraguru Kota Bau-Bau
ASHAR, Muhammad, Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA., Ph.D
2010 | Tesis | S2 Magister Perencanaan Kota dan DaerahUrbanisasi menyebabkan tumbuhnya permukiman baru di kota Bau-Bau. Kondisi ini menurunkan daya dukung lingkungan permukiman yang mengakibatkan kualitas permukiman semakin buruk. Menurut UU No.4 tahun 1992 permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni yang diukur dari beberapa indikator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat pemukim serta menjelaskan kondisi permukiman Bataraguru menurut pemerintah dan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan metode deduktif-kualitatif. Metode pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan observasi lapangan, serta wawancara dengan para tokoh masayarakat dan tokoh pemuda yang berdomisili pada kawasan permukiman kumuh. Analisis data dilakukan dengan teknik tabulasi dengan mengunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang saling melengkapi. Hasil penelitian ini menunjukan dua hal: (1) Permukiman Bataraguru adalah kumuh ringan diukur dari persepsi masyarakat berdasarkan Pedoman Umum Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh tahun 2002-2010 (Ditjen Perumahan dan Permukiman, Departemen PU); (2) Menurut Pemerintah Kota Bau-Bau dan masyarakat, ukuran kekumuhan permukiman ini adalah: kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, kondisi dan ketersediaan MCK, legalitas lahan, serta kondisi persampahan. Penelitian ini merekomendasikan peninjauan kembali atas pengklasifikasian kawasan permukiman kumuh Bataraguru serta perlu dilakukan survey kembali dengan indikator standar atau menurut standar Ditjen Perumahan dan Permukiman, Departemen PU, lebih lanjut perlu adanya peningkatan Capacity Building bagi aparat yang berwenang di bidang penanganan kawasan permukiman kumuh.
Rapid urbanization significantly contributed to the growth of new settlements in Bau-Bau City. This condition decreases the capacity of the environment. Based on Act No. 4 of 1992, Slums is an settlements which are not meeting several indicators. This research aims to explore the perception of slum dwellers and explain the condition of Bataraguru settlement according to the government and the community. This research used deductive-qualitative method. Methods of data gathering and information were conducted by means of questionnaires, field observations, and interviews with the key persons of community living in the slum areas. Data analysis was performed by means of tabulation technique using quantitative and qualitative approaches complementing each other. This research results show that: (1) Bataraguru settlement is considered as light slum area based on the perception of community by referring to General Guidelines of Slum Improvement of 2002-2010, General Directorate of Housing and Settlement, Public Work Department; (2) The different explanation about slums between the City Government and the people of Bau-Bau toward Bataraguru settlement is on several indicators such as: population density, building density, condition and availability of public toilets, legality of land, and conditions of solid waste. This research, recommends that the government should to reconsidere the classification of Bataraguru slum area and to resurvey the area based on indicators of General Directorate of Housing and Settlement. Future, there is a need for Capacity Building for the goverment officers in the field of slum area management
Kata Kunci : Persepsi,Masyarakat Bataraguru,Kumuh ringan