Laporkan Masalah

Pengaruh pemangkasan akar bibit dan pemupukan tembaga terhadap proses fisiologis, pertumbuhan dan hasil lidah buaya di lahan gambut

ANGGOROWATI, Dini, Prof. Dr. Ir. Didik Indradewa

2010 | Tesis | S2 Agronomi

Defisiensi tembaga (Cu) seringkali muncul pada tanah-tanah gambut karena pada bahan organik > 8%, Cu umumnya terjerap pada permukaan bahan organik. Pada tanaman lidah buaya (Aloe vera), pemangkasan akar dilakukan untuk meningkatkan perakarannya agar lebih efisien dalam menyerap hara dan air. Suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh pemangkasan akar bibit dan pemupukan tembaga terhadap sifat fisiologis, pertumbuhan dan hasil lidah buaya di lahan gambut telah dilakukan di Kecamatan Pontianak Tenggara, Kotamadya Pontianak, Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan mulai bulan Oktober 2009 sampai bulan Februari 2010. Tanaman yang digunakan bibit adalah Aloe vera varietas chinensis berumur enam bulan. Penelitian menggunakan rancangan perlakuan faktorial 2 x 4, tata letak acak kelompok (RCBD), yang terdiri dari tiga blok. Tiap unit perlakuan terdiri dari 20 bibit tanaman lidah buaya. Faktor pertama adalah pemangkasan akar bibit yang terdiri atas 2 level : tanpa pemangkasan akar bibit dan dengan pemangkasan akar bibit. Faktor kedua adalah takaran pemupukan tembaga yang terdiri atas 4 level : 0, 3, 6 dan 9 kg.ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pemangkasan akar bibit menghasilkan perakaran yang lebih baik yang mendukung proses fisiologis, pertumbuhan dan hasil lidah buaya di lahan gambut, sehingga memerlukan pupuk CuSO4 yang lebih sedikit dibanding tanpa pemangkasan akar bibit, dan 2) pemangkasan akar bibit dikombinasikan dengan pemberian pupuk CuSO4 6 kgha-1 memberikan proses fisiologis, pertumbuhan dan hasil lidah buaya yang terbaik di lahan gambut.

binding of Cu takes place mostly on organic surfaces. Seedling root’s pruning increase of Aloe vera root’s for more efficient in absorbs nutrient and water. An experiment to study the effect of seedling root’s pruning and varying of CuSO4 fertilizer application was done at Kecamatan Pontianak Tenggara, Kotamadya Pontianak, West Kalimantan. The research was started on October 2009 and ended on February 2010. The plant used was chinensis variety of Aloe vera age 6 months. The research was 2 x 4 factorial treatment arranged as Randomized Complete Block Design (RCBD), replicated 3 times (3 blocks). Each treatment was consisted of 20 Aloe vera seedlings. The first was seedling root’s pruning consisted of 2 levels : unprunned seedling root’s and prunned seedling root’s. The second was CuSO4 fertilizer application consisted of 4 levels : 0, 3, 6, and 9 kg.ha-1. The result of the research showed that : 1) Prunning of seedling’s root caused the better root which can be provide physiological process, growth and yield of Aloe vera grown in peatland, that needed lower application of CuSO4 fertilizer than unprunned seedling’s root, and 2) Prunning of seedling root’s and application 6 kgha-1 CuSO4 showed the best physiological process, growth and yield of Aloe vera grown in peatland.

Kata Kunci : Lidah buaya, Lahan gambut, Pemangkasan akar bibit, Pemupukan tembaga


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.