Laporkan Masalah

Hubungan antara kadar fibrinogen dengan kematian dan atau kejadian gagal jantung selama tiga puluh hari pada penderita sindrom koroner akut

SUGIRI, Achmadi Eko, dr. Budi Yuli, S,SpPD(K)KV, SpJK(K), FIHA

2010 | Tesis | S2 PPDS 1-Ilmu Penyakit Dalam

Latar Belakang : Sindroma Koroner Akut (SKA) berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian. Reaksi fase akut dapat terjadi mengikuti beberapa kondisi, salah satu diantaranya adalah SKA. Fibrinogen merupakan salah satu protein fase akut positif yang disintesis selama reaksi fase akut. Fibrinogen plasma merupakan penentu utama agregasi trombosit, viskositas darah dan hiperkoagulabilitas. Tujuan: Mengetahui apakah peningkatan kadar fibrinogen pada pasien SKA fase akut sebagai faktor prognosis terjadinya kematian dan atau gagal jantung selama 30 hari. Metode dan subyek penelitian : Penelitian kohort pada penderita SKA yang dirawat di Instalasi Rawat Jantung Intensif (ICCU) RSUP Dr SardjitoYogyakarta pada bulan Januari-Agustus 2006. Subyek penelitian diperiksa kadar fibrinogen pada waktu 48 jam dari waktu perkiraan onset infark miokard. Subyek penelitian dibagi menjadi kelompok kadar fibrinogen ≥ 400 mg/dL dan kelompok < 400 mg/dL yang semuanya mendapatkan terapi sesuai standar perawatan yang berlaku di ICCU RSUP Dr Sardjito. Subyek penelitian diikuti selama 30 hari untuk menilai adanya kematian dan atau kejadian gagal jantung. Hasil : Karakteristik subyek penelitian kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p> 0,05). Selama masa follow up angka kematian dan kejadian gagal jantung pada kelompok dengan kadar fibrinogen ≥ 400 mg/dL mencapai 18%, sedangkan pada kelompok dengan kadar fibrinogen < 400 mg/dL mencapai 12,5%. Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar fibrinogen ≥ 400 mg/dL meningkatkan resiko terjadinya meninggal dan atau gagal jantung selama periode follow up, tetapi tidak berbeda bermakna secara statistik (RR 1,44; 95% CI 0,502-4,075; p=0,448). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara peningkatan kadar fibrinogen penderita sindrom koroner akut fase akut dengan kejadian kematian dan atau gagal jantung selama periode follow up 30 hari.

Background : Acute Coronary Syndrom (ACS) has correlation with increasing death risk. Acute phase reaction occurs following several conditions, such as ACS. Fibrinogen is one of positive acute phase protein that synthesized during acute phase reaction. Plasma fibrinogen is main determinant to platelet aggregation, blood viscosity and hypercoagulability. Objective : To know whether increasing fibrinogen level in ACS patients acute phase as prognosis factor of death and or heart failure during 30 days. Method : Cohort study in ACS patients hospitalized at Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) Dr Sardjito General Hospital Yogyakarta in January-August 2006. Fibrinogen level from study subjects is measured during 48 hours from estimated myocardial infarction onset. Subjects of the study were divided into 2 groups with fibrinogen level ≥ 400 mg/dL and fibrinogen level <400 mg/dL. All of the patients received appropriate standard therapy for patients at ICCU Dr Sardjito General Hospital. Subjects were followed in 30 days to evaluate death and or heart failure events. Results : Subjects of the study did not show statistically significant difference (p> 0,05). During follow up, death and or heart failure incidence in group with fibrinogen level ≥ 400 mg/dL was 18%, and in group with fibrinogen level < 400 mg/dL was 12,5%. This study show that fibrinogen level ≥ 400 mg/dL increased death risk and or heart failure during follow up, but this results were not different statistically (RR 1,44; 95% CI 0,502-4,075; p=0,448). Conclusion : There was no correlation between increased fibrinogen level in acute phase of coronary syndrome patients with death and or heart failure incidence during 30 days follow up.

Kata Kunci : Sindrom Koroner Akut, Reaksi Fase Akut, Fibrinogen, Prognosis, Acute Coronary Syndrome, Acute Phase Reaction, Fibrinogen, Prognosis


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.