Hubungan asupan zat gizi dan status gizi dengan kualitas hidup peserta posyandu lanjut usia di Kabupaten Sleman
PERMONI, Ni Gusti Ayu Ketut Dewi, Prof. Dr. dr. Wasilah Rohmah, SpDD (K-Ger)
2010 | Tesis | S2 IKM-Kesehatan LingkunganLatar Belakang: Proses menua ditandai oleh terganggunya fungsi tubuh dan menurunnya kemampuan untuk mengatur proses kehidupan. Golongan lansia merupakan kelompok rawan gizi, seperti masalah gizi kurang banyak terjadi pada lansia seperti seperti kurang energi protein yang kronis, anemia dan kekurangan zat gizi mikro. Kabupaten Sleman memiliki usia harapan hidup yang tinggi. Di negara yang sudah maju perhatian kepada lansia tidak hanya ditujukan pada masalah kesehatan tetapi juga pada kualitas hidup mereka. Harapan dengan peningkatan usia harapan hidup di upayakan kualitas hidup para lansia tidak menurun, dengan menerapkan program-program pemberdayaan lansia yang banyak dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan status kesehatan mereka. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan zat gizi dan status gizi dengan kualitas hidup peserta posyandu lansia di kabupaten Sleman. Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah sampel 310 lansia yang berusia 60-74 tahun. Data asupan zat gizi diperoleh dengan wawancara menggunakan Food Frequency Questionnaire dan status gizi dengan pengukuran antropometri. Menilai Kualitas hidup dengan kuesioner SF-36. Data dianalisis dengan uji bivariat dan regresi logistik ganda. Hasil : Hasil statistik menunjukan hubungan yang bermakna antara asupan zat gizi dengan status gizi berdasarkan IMT yaitu energi RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01, protein RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01, lemak RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01 dan karbohidrat RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01) Analisis bivariat status gizi, status perkawinan , jenis kelamin dan umur menunjukkan hubungan bermakna dengan kualitas hidup. Hasil uji multivariat status gizi sebagai faktor dominan yang berhubungan dengan kualitas hidup dan umur tidak signifikan dengan kualitas hidup (p>0,05). Kesimpulan: Status gizi, asupan karbohidrat, status perkawinan, dan jenis kelamin merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia di Kabupaten Sleman
Background: The process of aging is indicated by physical function disorder and declining capability to manage the process of life. Elderly people are susceptible to undernourishment such as chronic energy deficiency, anemia, and lack of micronutrients. District of Sleman has the highest life expectancy in Indonesia. In the developed countries concern for the elderly is not only directed toward health problems but also quality of life. Increasing life expectancy should not cause declining quality of life, thus programs of elderly empowerment are initiated to improve both quality of their life and health status. Objective: The study aimed to identify association between nutrient intake and nutrition status and quality of life of Posyandu elderly participants at District of Sleman. Method: The study was observational with cross sectional design. Samples consisted of 310 elderly people of 60-74 years old. Data of nutrient intake were obtained from interview using Food Frequency Questionnaire (FFQ) and nutrition status from anthropometric assessment. Quality of life was assessed based on questions in SF 36 Questionnaires. Data analysis used bivariate and multiple logistic regression. Result: The result of statistical test showed there was significant association between nutrient intake and nutrient status based on body mass index that is energy RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01, protein RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01, fat RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01 and carbohydrate RP 2,97; 95% CI 1,58-5,58; p= 0,01. Nutritional status, marital status, gender, and age was significant with quality of life (p<0.05). The result of multivariate test showed statistically nutritional status association with quality of life and age insignificant association with quality of life. Conclusion: Nutritional status, intake carbohydrate, marital status, and gender were risk factors affecting quality of life of Posyandu elderly participants of District of Sleman.
Kata Kunci : Asupan zat gizi,Status gizi,Kualitas hidup,Lansia