Strategi adaptasi ekologis masyarakat di kawasan karst Gunungsewu dalam mengatasi bencana kekeringan :: Studi kasus Kecamatan Tepus Kabupaten Gunungkidul
SURYANTI, Emi Dwi, Dr. H.A. Sudibyakto, M.S
2010 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganKecamatan Tepus merupakan bagian dari perbukitan karst Gunungsewu yang kering dan tandus. Kondisi ini mengakibatkan banyak tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan kebutuhan air untuk rumahtangga tidak dapat tercukupi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1). Mengidentifikasi karakteristik wilayah, sumberdaya alam, dan masyarakat di Kawasan Karst Gunungsewu, (2). mengidentifikasi dampak kekeringan terhadap penghidupan masyarakat, dan (3). menentukan strategi adaptasi ekologis masyarakat di Kawasan Karst Gunungsewu dalam mengatasi bencana kekeringan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan ekologis. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, indepth interview, diskusi kelompok terarah (FGD), dan penelaahan data sekunder. Penarikan informan dilakukan secara purposive sampling pada sampel rumahtangga sampai mencapai titik jenuh. Analisis data dilakukan dengan menyarikan temuan lapangan ke dalam unit-unit informasi dan mensintesisnya ke dalam tema, selanjutnya berakhir dengan menginduksi tema ke dalam rumusan konsep yang berhubungan dengan topik penelitian. Analisis data juga dilakukan dengan prinsip triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Tepus merupakan daerah kering dan tandus dengan kondisi air permukaannya relatif sedikit dan sumber airnya sangat dalam, sehingga selalu mengalami kekeringan di setiap tahunnya. Kegiatan pertanian merupakan tumpuhan hidup sebagian besar penduduk dengan pola permukiman mengelompok dan padat pada lembah antar bukit. Dampak bencana kekeringan yang dirasakan terhadap penghidupan masyarakat, yaitu: kelangkaan air dimusim kemarau, produktivitas sumberdaya alam rendah, dan pendapatan masyarakat rendah. Sehingga masyarakat melakukan 3 pola strategi adaptasi ekologis sebagai bentuk inovasi dalam mengatasi bencana kekeringan, yaitu: (a). Pola pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan dengan pengelolaan sumberdaya air yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan kearifan lingkungan, serta pengelolaan lahan pertanian dengan pola tanam tumpangsari. (b). Pola pemanfaatan air dalam pemenuhan kebutuhan rumahtangga dan ternak, masyarakat melakukan penghematan pemanfaatan air dengan cara mandi sekali sehari dan memanfaatkan air limbah rumahtangga untuk minum ternak dan menyiram tanaman. (c). Strategi masyarakat dalam pemenuhan ekonomi rumahtangga dilakukan dengan cara pembagian pekerjaan dalam rumahtangga pada musim kemarau, sistem penyimpanan dana berupa ternak dan emas perhiasan untuk kebutuhan rumahtangga, dan melakukan pengembangan diluar sektor pertanian.
Tepus Subdistrict is a part of arid and infertile Gunungsewu Karst Area Series. The condition brings inability to many plants to grow well and insufficient water supply for household needs. This research aims at: (1) identifying the characteristics of the region, natural resources and the people in Gunungsewu Karst Area, (2) identifying the effects of dryness towards people’s life, and (3) determining an ecological adaptation strategy to overcome the drought in Gunungsewu Karst Area. The research is a qualitative one, using an ecological approach. Data were taken by performing observation, indepth interview, Focused Group Discussion (FGD) and study on secondary data. Informant were got by applying purposive sampling on household samples, until it reached saturation point. Data analysis was done by filtering field findings into information units and synthesizing it into theme, then terminated by inducting the theme into a concept formula related with the topic of research. Data analysis was performed by applying the principles of triangulation. The result of the research indicates that Tepus Subdistrict is an arid and infertile area with a very little surface water and very deep spring, resulting in dryness every year. Farming activities becomes the main support for most of people’s living, which have a grouping residential pattern and high density at valleys among hills. The impact of the drought to the people’s life are: water rarity in dry season, low productivity of natural resources and low income. Regarding the conditon, the people do three strategic pattern of ecological adaptation as an innovation to overcome the drought, that are: (a) The pattern of natural resources management done by the people by managing water resources based on cultural values and environmental wisdom, and managing farming lands by applying “tumpangsari†planting pattern; (b) The pattern of water utilization to afford household and farm need, where people do some cuts by taking a bath once a day and taking advantage of household water waste to water the farms and the plants; (c) People’s strategy in meeting household’s economical needs by classifying household jobs in the dry seasons, performing a fund collecting system in farms and gold jewelerries to household needs and performing some developing efforts in other sectors.
Kata Kunci : Strategi adaptasi ekologis,Gunungsewu,Bencana kekeringan, ecological adaptation strategy, Gunungsewu, the drought