Strategi penghidupan masyarakat eks-transmigran di perumahan eksodan Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen
PURNOMO, Heri, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc
2010 | Tesis | S2 Magister Perencanaan Kota dan DaerahTahun 2002, pemerintah membangun 400 rumah di Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Rumah tersebut diperuntukkan bagi para pengungsi korban kerusuhan di daerah transmigran. Dari 400 KK, saat ini hanya terdapat 149 KK yang masih bertahan. Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan bagi peneliti, bagaimana mereka bisa bertahan di lokasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa strategi untuk bisa bertahan di lokasi perumahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deduktif. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain memiliki modal yang berpotensi untuk dimanfaatkan, masyarakat eksodan juga memiliki kelemahan atas modal tersebut yang bisa mengakibatkan kerentanan (vulnerability). Untuk mengatasi kerentanan tersebut, mereka melakukan berbagai strategi penghidupan mulai dari survival, konsolidasi dan akumulasi asset penghidupan. Pilihan atas strategi tersebut dipengaruhi oleh asset yang dimiliki dan kondisi yang terbentuk melalui struktur dan proses yang bekerja, meliputi institusi pemerintah maupun swasta. Asset penghidupan yang paling besar berpengaruh terhadap keberlanjutan penghidupan mereka di lokasi perumahan adalah modal sosial yang antara lain berupa: akses terhadap sumber pendapatan eksternal dan network yang baik antar sesama masyarakat eksodan.
Government built 400 units of house in Tanggulangin Village, Klirong Subdistrict, Kebumen Regency in 2002. The houses were intended to house refugees of unrest victims in the transmigration area. This research aims to obtain answers for the questions: (1) how the characteristics of assets that they have and (2) how the strategies they are doing to survive in the location. The research used qualitative methods with deductive approach. Data were obtained through interviews, observation, and literature study. The research shows that besides of having capital potentialities that can be utilized, eksodan community also have a weakness for such capital, which can lead to vulnerability. To overcome this vulnerability, they engage in various livelihood strategies ranging from survival, consolidation, and livelihood asset accumulation. The choice of strategies is influenced by the asset that is owned and conditions that are formed through structures and processes, including government and private institutions supports. Livelihood asset of greatest effects to their livelihood sustainability in residential location is the social capital, i.e. access to sources of external income and good network between eksodan communities.
Kata Kunci : Kerentanan,Strategi penghidupan,Livehood outcomes