Studi imbangan air (water balance) untuk irigasi di Desa Sumber Mulya Kabupaten Merauke
SOUMOKIL, Eprosina Jarmida, Ir. Darmanto, Dip.HE., M.Sc
2010 | Tesis | S2 Teknik Sipil dan LingkunganDesa Sumber Mulya merupakan bagian daripada daerah SKP (Satuan Kawasan Pengembangan) RAWA INDAH (Kaliki – Sumber Mulya – Jaya Makmur). Lahan pertanian di Desa Sumber Mulya yang diolah saat ini memberikan hasil produksi relatif kecil, dikarenakan teknologi yang digunakan masih tradisional dan air yang tersedia masih kurang. Pemanfaatan sumber air Rawa Keramati diharapkan dapat mencukupi kebutuhan irigasi lahan pertanian Desa Sumber Mulya, untuk itu perlu diteliti terlebih dahulu ketersediaan air pada kondisi saat ini. Inflow ke Rawa Keramati sangat besar dibandingkan dengan kebutuhan irigasi pada kondisi saat ini. Untuk menampung inflow Rawa Keramati relatif kecil, sehingga banyak air yang terbuang pada musim hujan. Dengan model Standard Operating Rule dapat diketahui kemampuan terbaik rawa untuk mencukupi kebutuhan air irigasi dengan beberapa perubahan pola tanam dan jadwal tanam. Untuk penentuan hasil optimal dilakukan pendekatan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Lahan pertanian saat ini telah ditanami seluas 400 Ha, hasil analisis keseimbangan air eksisting (tanpa tampungan rawa) dilahan pertanian menunjukan defisit terjadi selama 4,5 bulan (Februari 1 - Mei 2, Oktober 1) dan surplus terjadi selama 7,5 bulan (Oktober 2 - Januari 2, Juni 1 - September 2). Berdasarkan analisis operasi Rawa Keramati sebagai sumber air irigasi lahan pertanian Desa Sumber mulya pada kondisi saat ini menunjukan bahwa Rawa Keramati mempunyai kemampuan release terbaik sebesar 100%. Alternatif pola tanam dan jadwal tanam yang diusulkan yaitu pola tanam pada keempat alternatif sama yaitu padi-padi-palawija, jadwal tanam untuk alternatif I dimulai pada bulan Oktober, alternatif II dimulai pada bulan November, alternatif III dimulai pada bulan Desember, alternatif IV dimulai pada bulan Januari. Analisis operasi rawa dilakukan terhadap keempat alternatif pola tanam dan jadwal tanam tersebut dengan pencapaian kemampuan release rawa 100%. Berdasarkan Analytical Hierarchy Process (AHP) terhadap keempat alternatif pola tanam dan jadwal tanam yang ditinjau berdasarkan faktor kecukupan, efektifitas dan efisiensi diperoleh alternatif yang optimal yaitu alternatif II. Pada alternative II menunjukan bahwa sumber air Rawa Keramati mampu mengairi lahan pertanian Desa Sumber Mulya dengan luas untuk musim tanam I ±595 Ha, musim tanam II ±594 Ha, dan musim tanam III ±593 Ha.
Sumber Mulya village is part of Rawa Indah Lowland development area that consists of Kaliki - Sumber Mulya - Jaya Makmur unit. Agricultural area in Sumber Mulya Village is currently processed with relatively small production results due to traditional method of cultivation and water shortage problem. The utilization of Rawa Keramati water resource is expected to fulfil the irrigation water demand of the agricultural areas in Sumber Mulya Village. Hence, it is required to analyse first the existing water availability condition. Inflow to Rawa Keramati is larger than the existing irrigation water demand. However, it has only small capacity in utilizing inflow that results in a lot of wasted water during the rainy season. By using Standard Operating Rule model, the most optimum capability of the swamp to fulfil irigation water demand under various canges of cultivation pattern and schedule can be identified. Optimum result is determined using an approach on Analytical Hierarchy Process (AHP) model. The agricultural land is currently planted for 400 Ha. Results of existing water balance analysis (without supply from swamp ponded water) in the agricultural land showed deficit for 4.5 months (February 1 - May 2, October 1) and surplus for 7.5 months (October 2 - January 2, June 1 - September 2). Based on operation analysis of Rawa Keramati as irrigation water source for Sumber Mulya Village, it was shown that Rawa Keramati could have release capacity of 100%. The proposed cultivation pattern and schedule was the same four alternatives padi-padi-palawija. Cultivation schedule for Alternative I was begun in October, alternative II in November, alternative III in December, and alternative IV in January. Swamp operation analysis was carried out to the four cultivation schedule alternatives with 100% swamp realase capacity. Based on Analytical Hierarchy Process (AHP) method used for the four cultivation patterns and schedules alternatives reviewed based on adequacy, effectiveness and efficiency factor, the optimum results was obtained at lternative II. It showed Rawa Keramati water resource capability in supplying Sumber Mulya village water demand with irrigated areas of ±595 Ha, ±594 Ha, and ±593 Ha for the first-crop, second-crop, and third-crop season, respectively.
Kata Kunci : Imbangan air,Operasi rawa,Optimalisasi pola tanam,Jadwal tanam,water balance, swamp operation , cultivation pattern and schedule optimization